
Setitik air bening menetes dari kelopak mata Retno, seperti ini masa awal-awal pernikahannya.
Tempat tidur yang empuk big size dengan kenyamanannya, ruangan berpendingin, fasilitas berkelas, kamar mandi ada di dalam, semua tak membuat Retno tenang dan bisa beristirahat dengan enak di dalamnya.
Hatinya menggelepar, tak berdaya di timpa permasalahan yang hanya dirinya rasakan, begitu berat di rasa, begitu aib dan hina nya. Hilang selera apapun termasuk selera makannya.
Seperti pisau yang begitu tajam tanpa aba-aba menghujam ulu hatinya, sekali membuka ponsel suaminya Retno di hadapkan pada dilema yang membelitnya kini.
Video dan foto seperti serpihan kaca yang buyar jadi onak yang menempel perih di sanubarinya. Raganya seperti di permalukan dan mukanya seperti di tutupi kotoran yang begitu menjijikan.
Mas Prabu yang begitu di cintainya dengan perasaan bangga, telah menorehkan sejuta luka dan tak terobati, apa aku selemah itu? tidak!
Walau raganya seperti terlempar jauh tak berbatas, seperti layaknya daun kering tak punya kekuatan, hanya ada satu emosi yang tak akan terkendali siap seperti ujung tombak yang mencari sasaran.
Aku harus bangkit meminta pertanggungjawaban seperti apa yang akan Mas Prabu berikan, saat semuanya telah usai akan ada perdebatan panjang dan alot antara aku dan Mas Prabu.
Apa aku tak bisa melakukan kecurangan sama seperti yang Mas Prabu lakukan apa harus itu yang aku pilih? atau aku undang wartawan sekalian untuk memberitakan berita aib yang telah mencoreng rumah tanggaku? tetapi apakah itu satu solusi dan jalan memuaskan nafsu ku untuk membalaskan semua sakit hati ini?
Tidak! Mas Prabu suamiku orang yang aku cinta dari dulu sampai kini, kehadirannya di dalam hidupku tak pernah tergantikan. Mengisi memori tiap helaan nafas dan langkah-langkah kakiku.
Kenapa perbuatannya di belakangku begitu menyakitkan aku? itu yang akan jadi pertanyaannya nanti.
Retno tertidur dalam perang perasaannya. Berharap dalam mimpinya semoga hari esok semua masalahnya telah terlewati.
Dr Prabu mengobrol dengan dr Imam juga Intan, melihat-lihat pelaminan dan mengontrol semua properti dan semua faktor penunjang kelancaran resepsi besok. Akan di gelar besar-besaran melibatkan pemuka pimpinan daerah, semua karyawan dan fungsionaris semua jabatan di rumahsakit terkait.
Teman, sahabat, rekan kerja rekan sejawat pasti akan hadir tumplek ikut berbahagia juga tamu kehormatan dari beberapa rumah sakit yang terdiri dari jaringan rumah sakit di dalam satu wadah manajemen yang sama yaitu Medical Center.
Intan pamit karena sudah ngantuk, tinggal dr Prabu sama dr Imam yang masih duduk sambil ngopi dan makan cemilan.
"Mbak Retno nggak apa-apa? kelihatannya seperti kurang bergairah apa karena kecapean?"
"Sepertinya begitu, kecapean iya, kurang tidur iya, satu lagi sakit bulanan dia."
"Jadi, gagal dong bongkar bungkus malam tadi?"
"Nggak, sukses banget."
"Katanya ada lampu merah?"
"Itu baru datang ke sini baru istriku kasih khabar, dan sangat di sayangkan. Semuanya lancar sesuai waktu dan tepat sasaran."
"Haaaa...selamat ya, gool berapa kali?"
"Tak terhitung, sampai siangnya masih, sebelum ke sini."
"Tega nian kamu bos, gempur terus, jangan-jangan itu kewalahan mengimbanginya? biasanya sebelum datang tamu bulanan emosi memang meningkat."
__ADS_1
"Tadi mengeluh moodnya turun dan sakit juga panas pinggang, makanya biar dia istirahat total malam ini."
"Membiarkan istri istirahat karena ada halangan, tapi dalam kondisi normal biasanya malam kedua lebih dahsyat haaa..."
"Di kira aku nggak akan ada halangan apapun, tapi awal-awal aku sudah harus jeda, lumayan membuat aku tertegun merasa ingin berontak."
"Tapi itu bagus bos."
"Bagus apanya? emang enak menunggu? biasanya berapa lama masa itu berakhir?"
"Jika yang ingin punya momongan habis ini, lanjutkan tapi yang teratur."
"Belum bisa teratur awal-awal gini, kapan ketemunya setiap saat selalu menuntut."
"Seperti itu memang dahaga asmara pengantin baru"
"Bisakah nggak minum apa gitu di per-singkat tamu bulanan nya?"
"Kalau itu aku pakarnya haaaa... nggak sama bos ada yang tiga hari, seminggu sampai dua minggu. Memang begitu siklusnya."
"Alah...alah, kok lama amat sih? nggak bisa di singkat gitu?"
"Minta dong resep sama aku, ada cara lain selain dengan cara itu, saat istri datang bulan dengan cara saling memuaskan."
"Itu semua udah aku kuasai aku sudah searching duluan."
"Haaaaaaaa."
"Aku belum bisa ambil keputusan, aku menunggu masa sibukku lewat, baru aku berdiskusi dengan Retno apapun itu."
"Aku khawatir bos, Retno tak bisa terima kenyataannya."
"Itu resiko ku, aku harus meyakinkan dia bagaimanapun caranya."
"Nggak ada kabar gimana kabar terakhirnya, sejak orang tuanya datang ke tempat orang tua mu di Bandung?" dr Imam bertanya penuh keingintahuan.
"Aku lost kontak dengan siapapun selama seminggu ini, ponselku nggak aku charger entah masih hidup apa nggak sekarang."
"Segitu sibuknya bos, nggak lelah dopingnya apa?"
"Aku sama istriku di bikinkan jamu ramuan spesial gitu, aku melek semalaman dan berkali kali gool sampai siangnya haaa..."
"Masa sih bos, ramuan apa itu?"
"Pokoknya ada deh...bahkan aku bawa satu botol buat nanti di sini, eeeeh...malah nggak bisa, harus off sue banget."
"Haaaaa...jamu akhirnya yg menunggu reaksi, bukan bos yang nunggu reaksi jamu."
__ADS_1
"Boleh nanti kalau kamu married aku mintakan pada mertuaku."
"Boleh juga tuh...haaaa..."
"Memang rasanya nggak enak tapi khasiatnya wuih...luar biasa, pantengin terus Joss banget, memang bugar ke stamina kita."
"Bos, itu minum sama ceweknya nggak?"
"Iya, peruntukannya untuk pasangan suami istri."
"Pengalaman baru nih haaa..."
"Tadinya aku juga nggak mau, dan perasaanku nggak mau doping juga jamu, semangatku melebihi semangat 45 banget menggebu tanpa jamu, tapi istriku mengatakan ini bukti kasih sayang dari orangtua, dan resepnya turun temurun dari generasi ke generasi."
"Oke kalau begitu, kita istirahat saja apalagi bos besok masih jadi raja di sini, tengok permaisurinya takut kedinginan haaa..."
"Sepertinya lelap memimpikan khasiat jamu malam tadi haaa...."
Mereka masuk dan berpisah, Pak Min dan kerabat lainnya masih saja begadang sementara waktu menunjukan pukul sebelas malam.
Dr prabu masuk kamar dan menutupnya, mengganti pakaiannya dan memandang istrinya dengan perasaan cinta dan sayang yang begitu ingin di nyatakan malam ini.
Seandainya kamu tak memberi lampu merah, pasti sudah berapa babak cinta kita di padukan dalam ******* dan erangan.
Dr Prabu membelai rambut Retno dengan sayang, lelap lumayan agak lama walau terkadang Retno tak begitu tenang, terganggu dalam alam bawah sadarnya. Dan mengakibatkan tidurnya sangat gelisah.
Dr Prabu mencium pipi Retno dan Retno menggeliat dengan nikmatnya. Menyadari siapa yang menciumnya Retno balik badan menghadap tembok lalu melanjutkan tidurnya.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
...Hai, readers tercinta! habis baca...
..."Biarkan Aku Memilih"...
...Jangan lupa mampir ke karya...
...terbaik bertitel,...
...MENITI PELANGI...
...By Enis Sudrajat juga, baca, like,...
__ADS_1
...vote dan beri hadiah ya!...