
"Kok cuma pesan minum dok? makanlah, Aku yang traktir hitung-hitung sebagai terimakasih pada pelayanan rumahsakit ini yang telah memberikan pelayanan terbaiknya," ucap Alya mempersilahkan dr Prabu duduk di seberangnya.
Hati Alya begitu berbunga kenapa semua begitu kebetulan? orang yang ingin sekali ditemui kini ada di depan matanya orang yang selama ini tak hilang dan lekang dari ingatannya kini datang sendiri ke mejanya.
Alya tak bisa menyembunyikan perasaan gembiranya terlihat senyum selalu mengembang di bibir tipisnya, dan tatapan selalu di tujukan pada dr Prabu yang sejak dulu sampai sekarang selalu ada di dalam hatinya.
Roman muka Alya kelihatan senang bisa bertatap muka dengan dr Prabu yang belum lama di obrolkan sama dr Imam. Mungkin yang sekian lama tidak bertemu, rasanya tak lekang oleh waktu rasa itu tetap ada walau semua telah melewati masa-masa sulit mereka.
Bukannya hilang dari ingatan Alya tapi malah semakin terpatri di sanubarinya, terlepas itu salah atau benar yang Alya akui itulah perasaannya.
Melihat dr Prabu adalah kebahagiaan bagi Alya, memandang wajah tampan simpatiknya membuat hatinya merekah penuh dengan rona bunga yang bermekaran.
Alya lupa kalau dr Prabu sang direktur Rumah Sakit ini kini telah berkeluarga, bahagia dengan istri idamannya Retno, bahkan sebentar lagi akan menyambut buah cinta kasih mereka yang akan segera lahir.
"Aku belum mau makan, nanti saja soalnya mau antar dulu Adikku Intan pulang ke Bandung." jawab dr Prabu beralasan.
"Intan jadi pulang sekarang Bos?" tanya dr Imam langsung berhenti makannya.
"Iya, kemarin maksa minta pulang sore tapi nggak Aku izinin, apa-apaan pulang sore nyampe Bandung jam berapa? setidaknya jangan bikin orang lain khawatir," ujar dr Prabu sambil duduk dengan perasaan ragu, sesekali melirik pada Alya yang selalu memperhatikannya terkadang pandangan mereka beradu dan dr Prabu langsung mengalihkan.
"Oh ya, maaf Bu Alya Aku tinggal dulu sebentar, Bu Alya bisa ngobrol dulu sama Pak Prabu Aku temui Intan dulu, ini masalah hati soalnya," tanpa sempat mencegah dr Prabu kaget saat dr Imam langsung berdiri dan meninggalkan meja juga makanan yang belum habis.
__ADS_1
Ingin rasanya dr Prabu juga bangkit dan pergi begitu saja tapi ada tata krama dan sopan santun yang harus di jaganya.
Lagi lagi sopan santun adalah hal yang di jaga dr Prabu walau terkadang itu dimanfaatkan orang lain dengan tidak benar dan malah menjerumuskan dirinya
"Apa kabar Al, Bapak sama Ibu sehat?" tanya dr Prabu memecah kebisuan di antara mereka.
"Alhamdulillah, baik dok. Mungkin Aku yang sakit, gimana kabar dokter juga sehat?" tanya Alya sambil tersenyum menatap dr Prabu. Dr Imam memang pengertian bathin Alya. Tahu dirinya ingin bertemu, bisa ngobrol berduaan lagi, sungguh semua ini adalah kesempatan yang begitu berharga bagi Alya.
"Seperti yang kamu lihat, Aku juga sehat." Dr Prabu melihat sekeliling tempat makan itu, begitu sibuk saat jam makan siang begini, hampir semua perkantoran di sekitar situ
"Dokter, maafkan Aku, kalau boleh bisa kita berteman baik kembali, Aku merasa banyak salah dan semua itu begitu ingin Aku tebus dengan satu ketulusan yang jujur Aku masih seperti dulu tetap menginginkan kita tetap dekat walau sebagai sahabat," ucap Alya seperti seorang yang sangat berharap.
"Aku sudah punya dunia sendiri Alya, duniaku penuh dengan kesibukan, yang Aku pikirkan hanya pekerjaan dan keluargaku saja, bukan Aku tak bisa mungkin sudah bukan saatnya lagi, bukankah Alya juga sudah punya keluarga sendiri?" tanya dr Prabu sambil menatap tajam perempuan yang kadang tak bisa di duga di hadapannya itu.
"Kenapa, ada apa? bukankan bahagia ada di dalam setiap pemilik hati?" jawab dr Prabu saat tahu Alya mengadu seperti itu, akhirnya suasana menggiring dr Prabu kepada obrolan yang seharusnya bukan porsi untuk dirinya saat ini, Alya adalah seseorang yang telah memberikan setitik masa lalu yang tidak diinginkan di dalam kehidupannya harusnya dirinya menghindar tidak mendengar curhatan bahkan tidak mendengar kabar Alya sekalipun.
Kehadiran kembali Alya di dalam kehidupannya harus di jadikan ancaman bagi rumah tangganya seharusnya tidak menjadi satu kebetulan karena mau tidak mau semua itu akan menjadikan bekas yang menggoreskan kembali luka baik di hati dr Prabu, Alya dan juga Retno sebagai istrinya.
"Aku tidak bisa meraihnya, mungkin hatiku yang tidak bisa menerima, dihadapan suami Aku harus berpura-pura bahagia sedang hatiku jauh dari kata itu dan tak ada di situ! Aku memang salah tapi itulah Aku dengan segala perasaanku. Aku adalah orang yang paling tidak beruntung dokter." Alya saya akan menemukan celah menceritakan kondisi dirinya rumah tangganya yang seakan jauh dari harapannya.
Dr Prabu jadi diam nggak mau berkomentar apapun karena kalau memberikan nasehat itu akan membesarkan hati Alya dan menganggapnya sebagai sahabat kembali, tetapi kalaupun menyalahkan Alya dirinya tidak punya hak sebagai siapa dirinya di hadapan Alya kini? hanya seorang sahabat lama pernah ada hubungan karena keterpaksaan, harusnya Alya malu membangkitkan kenangan buruk mereka di masa lalu, juga bercerita tentang kegagalan rumahtangganya, seharusnya Alya yang memperlihatkan di depan dr Prabu kalau dirinya juga bisa sukses membina berumah tangga dengan siapapun membina dengan benar bukan malah kembali ke masa lalu mengingatkan dr Prabu akan segalanya.
__ADS_1
"Alya, terkadang kita tak bisa meraih segala yang kita harapkan, keikhlasan bukan saja menerima tapi merelakan itulah kebahagian juga kalau kita bisa menjalaninya." Bijaksananya dr Prabu membuat siapa saja yang pernah ngobrol pasti akan terpesona dengan kharisma pembawaan yang mencerminkan kepintaran seorang dr Prabu dalam berdiplomasi.
"Dokter mungkin tahu hatiku untuk siapa, sampai sekarang masih tetap seperti itu," ucap Alya tanpa aling-aling sepertinya ucapan itu tepat diarahkan pada orang yang ada di seberang mejanya.
Deg! hati dokter Prabu berdesir kaget Alya begitu berani masih mengatakan perasaannya di hadapannya, semua itu jadi ketakutan dr Prabu sendiri.
Dr Prabu bingung mesti bicara apalagi, jelas Alya masih mencintainya walau mereka kini sudah pada punya pasangan masing-masing.
Dr Prabu meminum jus pesanannya, dan mencari cara agar mereka bisa berpisah baik-baik di rumah makan itu.
"Dok, makanlah Aku pesankan ya sedikit saja, masa dokter pelopor kesehatan malah seperti itu di jam makan siangnya?" tukas Alya sambil berdiri memanggil pelayan.
"Alya, nggak usah, Aku makannya nanti saja." Tapi Alya tetap memesan makanan mungkin biar ada alasan berlama lama dengan dr Prabu di situ, itu biasa sebagai trik bagi Alya dan semua tak di perkirakan oleh dr Prabu.
.
.
.
.
__ADS_1
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️