Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Beban fikiran yang berat


__ADS_3

"Maaf suster kepala Miranti, sudah beberapa hari ruangan pimpinan tak di bersihkan gimana ini?" seorang cleaning service bertanya pada suster kepala Miranti yang baru saja datang.


"Nggak apa-apa biarin saja nanti juga kalau sudah merasa harus di bersihkan tinggal bersihkan saja, ke ruangan lain saja dulu "


"Baik Bu."


Suster kepala Miranti hanya geleng-geleng kepala saja mengingat keanehan yang sekarang lagi terjadi di diri pimpinannya, bahkan melibatkan dirinya, ingin segera semua berakhir dan suster kepala Miranti ingin meminta maaf pada suster Retno.


Jam delapan pimpinan datang kelihatan berjalan di parkiran menuju ruangannya, penampilannya gagah banget semua habis di service, cukuran kelihatan masih muda dengan setelan jas biru tua hampir hitam atau dongker seperti bintang film di drakor-drakor yang sekarang lagi marak di televisi.


Suster kepala Miranti lagi terjun ke lapangan membantu di UGD dan mengarahkan suster karena pasien mendadak membludak, ada yang mau melahirkan ada juga yang sakit kritis dan yang paling darurat ada pasien kecelakaan lalulintas, dan orang bergerombol menjadi tidak terkontrol.


Suster kepala Miranti menghampiri Dr Prabu yang lagi berjalan dan mendampinginya berjalan sambil ngobrol.


"Selamat pagi Pak pimpinan, segar banget kelihatannya?"


"Oh, pagi juga suster, apa khabarnya hari ini?"


"Baik-baik saja dok."


"Alhamdulillah."


"Dr Prabu apa ruangannya mau di bersihkan?"


"Nanti saja dulu, biarin Retno saja nanti sore yang beresin aku mau bersama dia nanti sore dan malamnya jangan dulu di tugaskan mendampingi dr Imam SpOG praktek biarin dulu Retno di ruangan saya."


"Dokter yakin?"


"Ya!"


Suster kepala Miranti menarik nafas panjang dan mereka berpisah di ruangan masing masing, akan ada apalagi rencana konyol dr Prabu buat Retno? bathin suster kepala Miranti.

__ADS_1


KKN baru berjalan ke dua minggunya dan Retno masih saja seperti marathon memburu absen dan waktu yang terasa di kejar-kejar begitu menguras tenaga dan perasaannya.


Sore ini Retno datang lebih awal mendapat perhatian khusus dari suster kepala Harni yang merasa kasihan pada asistennya, setelah mendengar kisah nya dengan dr Prabu dan dr Burhan di malam Minggu kemarin, dan Retno di perbolehkan berangkat lebih awal, tapi walau berangkat lebih awal namanya perjalanan jauh tetap saja tak bisa di prediksi apalagi sekarang lagi musim hujan, datang ya tetap hampir bertepatan dengan saat absen kegiatan dan pergantian sip mau di mulai.


Suster Erna temannya sesama suster yang mendampingi dr Imam SpOG praktek tersenyum dan menyapanya saat bertemu Retno di depan ruangan suster jaga, dan saat itu suster kepala Miranti datang dengan instruksinya.


"Suster Retno tolong malam ini jangan mendampingi dr Imam SpOG praktek, ada yang harus di bereskan dan di bersihkan di ruangan pimpinan." muka suster kepala Miranti masih saja kecut memandang Retno.


"Baik Bu."


Dan tak lama Retno datang ke ruangan suster kepala Miranti dengan pembersih ruangan, sapu, lap, dan alat pel dan cairan pembersih kaca, suster kepala Miranti terasa tak tega melihat Retno bersikap menerima semua perintahnya dan melakukan dengan ikhlas.


"Bu, apa ruangan pimpinan tak di kunci?"


"Sepertinya tidak."


"Oh ya, saya bersihkan dulu."


"Ya." suster kepala Miranti memandang Retno dengan sesak.


Retno mulai membereskan kertas-kertas dan map yang ada di ruangan itu bahkan ada di lantai segala dan melihat satu kertas yang belum di tanda tangani jelas di situ tertulis nama pimpinan Dr Prabu Seto Wardhana.


Deg! Retno seperti berhenti detak jantungnya matanya nanar melihat kertas dan meyakinkan juga mengeja satu nama yang tertulis di kertas itu, yakin ini satu nama yang selalu ada dihatinya ada di mimpi-mimpinya dan ada dalam do'a-do'a nya selama ini, apa ini jawaban dari sekian tahun do'anya? dan apa ini dr Prabu Seto Wardhana yang dulu sampai kini mengisi hatinya?


Kenapa aku begitu bodoh tak membaca setiap kertas di hadapanku yang begitu banyak bertumpuk di meja ini? Apa Mas Prabu tahu aku ini Retno? kenapa seakan tak ingin identitasnya terbuka? apa Mas Prabu sudah menikah? kenapa melakukan semua ini padaku Ya Allah sungguh aku tak mengerti, dengan liar dan bergerilya kesana kemari dengan nafas memburu dan tungkai terasa lemas Retno mencari bukti lain otaknya begitu kalap, tak menghiraukan apa-apa lagi membuka lemari berkas, tapi begitu bertumpuk berkas berkas lalu membuka laci meja kerja dr Prabu dan menemukan papan nama yang mungkin sengaja di umpetin dan dengan tangan gemetar Retno mengambil getokan ukiran nama yang terbuat dari baja kuningan jelas tertulis Dr Prabu Seto Wardhana dan di bawahnya ada tulisan kecil direktur.


Matanya terus menyapu segala apa yang ada di dalam laci...dan satu cincin putih percis yang dirinya kenakan saat ini tergeletak di pojok laci, dengan gemetar Retno mengambilnya dan sedikit membelai dan mendekatkan pada jarinya terlihat perbedaan warna yang di pakai dirinya sudah agak pudar dan yang dari laci meja masih agak mengkilat, airmata tak terbendung lagi Retno terduduk di bawah samping meja kerja dr Prabu, airmatanya jatuh berderai tak tertahankan kepalanya di sandarkan pada meja dalam keadaan duduk, entah seperti apa perasaan hatinya saat ini yang pasti marah, galau, cemas dan begitu takut.


Dalam tak sadarnya Retno mengembalikan cincin ke tempatnya semula dan saat itu dua orang masuk ke ruangan itu, Retno terkesima dan kaget semakin lemas saja tak yakin dengan apa yang di lihatnya, Mas Prabu dengan seorang perempuan bergandeng tangan masuk ke dalam ruangannya, belum bicara apapun dan belum yakin dengan semuanya terasa gelap pandangan Retno, terlalu berat beban pikirannya, terlalu penekanan dalam setiap kegiatannya, intimidasi yang jadi pertanyaannya sampai saat ini dari suster kepala Miranti, capek dalam perjalanan yang begitu menguras tenaganya dan kurang tidur karena berburu waktu hanya untuk absensi, komplikasi masalah dalam diri dan hatinya kali ini mencapai puncaknya syok melihat Mas Prabu dengan seorang perempuan menjadi gelap otak dan penglihatannya Retno pingsan terkulai tak ingat apa-apa.


Dr Prabu dan Intan kaget bukan kepalang, Retno pingsan di samping meja kerjanya dengan memegang papan nama yang akan di kembalikan pada tempatnya.

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim, Ya Allah Kakak tuh kan apa kataku?" Intan ikut panik dan menghampiri Retno memegang tangan dan menepuk-nepuk pelan pipi Retno.


"Jangan malah banyak omong cepat kita angkat ke sofa."


"Kasihan Kak ke tempat tidur saja biar nyaman."


"Iya ayo ayo."


Retno di bopong ke tempat tidur single yang di peruntukan untuk pimpinan sekedar istirahat.


Dr Prabu berlari ke luar dan memanggil suster kepala Miranti yang lagi siap-siap mau pulang.


"Suster Miranti tolong Retno pingsan di ruangan ku." dr Prabu cemas dan langsung balik lagi.


"Astagfirullah kenapa kok jadi begini?" suster kepala Miranti melempar tasnya dan setengah berlari masuk ruangan direktur dan langsung menerobos menyingkirkan suster dan dr Prabu sendiri.


"Ambil tindakan dokter Prabu, suster tolong ambilkan stetoskop periksa detak jantung dan tensinya dok! suster KKN tolong ambilkan minyak angin di ruangan suster jaga dan yang lainnya ambilkan teh manis hangat cepat."


Semua yang di beri instruksi pada berlarian, dan di situ hanya ada dr Prabu, suster kepala Miranti, Intan dan Ismi, datang satu suster yang membawa stetoskop dan memberikan pada dr Prabu, di susul suster yang membawa minyak angin dan teh manis.


"Silahkan yang lain pada tunggu di luar biar suster Retno diperiksa dr Prabu dan biar saya tungguin juga biar tidak terlalu banyak orang juga."


Ismi dan Ella tetap di samping Retno mereka masih cemas dengan keadaan sahabatnya.


"Suster KKN silahkan keluar, saya bisa menanganinya bersama dr Prabu di sini!"


Ismi sama Ella keluar tanpa bisa membantah lagi, Intan duduk di sofa dan memandang pada Kakak nya yang lagi memeriksa Retno.


"Jantungnya normal, tekanan darahnya lemah, tolong ambil infusan sama peralatan dan tiangnya biar di infus saja supaya ada tenaga dan agak segeran, nanti setelah infusan masuk di cium-cium kan minyak angin biar cepat siuman."


Suster kepala Miranti keluar dan memberi perintah lagi pada suster-suster.

__ADS_1


_Yang baru gabung selamat bergabung dan mengikuti kelanjutannya jangan lupa tinggalkan jejak membangun dan bermanfaat ya, salam !


Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan votenya✌️💝


__ADS_2