
Dr Prabu yang mendengarkan di balik pintu semua percakapan antara Intan sama dr Imam bisa menarik kesimpulan kalau Intan tidak diterima dengan baik di keluarga dr Imam, yang di bahas adalah apa salah Intan? orang tua dr Imam tidak memberikan respon baik bagi hubungan mereka berdua intinya seperti itu.
Yang pasti semua ada sesuatu, mungkin permasalahan di antara mereka, baik Intan dengan dr Imam, juga dr Imam dengan kedua orang tuanya. Yang sebenarnya terjadi seperti apa jelasnya dr Prabu tidak tahu.
Wajar Intan merasa tidak terima, perasaan perempuan memang sensitif walaupun laki-laki juga sama saja cuman kalau laki-laki lebih bisa mengendalikan diri tetapi perempuan kalau sudah merasa tersakiti sulit untuk melupakan dan merubah menjadi kata maaf.
Dr Prabu merasa harus meluruskan permasalahan di antara keduanya, walaupun terlihat dewasa, dr Imam untuk menghadapi situasi seperti ini masih perlu dukungan moral dan masukan, dukungan sahabat untuk memberikan pengertian. Intan juga harus secara pelan-pelan di ajak bicara secara perlahan dan hati-hati sampai dia mengerti duduk permasalahan yang sebenarnya.
Terlihat Retno berjalan menghampiri suaminya, dr Prabu merengkuhnya dengan sayang sambil memberi kode diam dulu.
"Apa sih Mas? kenapa tidak suruh mereka ngobrol di dalam saja?" ucap Retno sambil melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.
"Aku hanya ingin mendengar dulu apa yang mereka bicarakan dan perdebatkan sebenarnya masalah apa? Aku sudah menangkap semuanya tinggal Aku bertanya saja kejujuran dari keduanya," ucap dr Prabu sambil mengusap-usap punggung Retno.
"Sepertinya mereka punya masalah serius Mas? suruh aja mereka masuk duduk bersama apa salahnya kita bantu dengan diskusi bersama mereka, siapa tahu masukan dari kita yang jadi jalan keluar. Sudah jadi keluarga juga hubungan Intan udah diketahui semuanya jadi semua harus selesaikan baik-baik," ucap Retno seperti mengingatkan suaminya untuk jadi mediator keduanya.
"Maunya Aku juga begitu. Aku hanya ingin mendengar sedikit pembicaraan mereka jadi Aku bisa berpikir mencari jalan keluar seperti apa permasalahan mereka yang sebenarnya, jadi Aku harus lebih bijaksana dalam hal ini." Dr Prabu berpikir memang harus hati-hati dalam menyelesaikan masalah ini, salah salah semua tersakiti dengan keputusan salah yang diambil.
"Sama kamu aja Sayang sana suruh masuk, Aku tunggu di ruang keluarga ya, Biasanya perempuan lebih bisa berbasa-basi seolah tidak tahu apapun."
"Kok Aku Mas?
"Nggak apa-apa sama saja."
"Bareng aja kita keluarnya." sahut Retno merasa nggak enak menyela orang yang lagi berdebat ngobrol berdua.
__ADS_1
"Dengar kata bareng rasanya Aku pengen cepet tidur bareng kamu sayang, kalau tidak ingat mereka lagi marahan." ucap dr Prabu bermaksud menggoda istrinya.
"Ah, suka mengada-ngada aja, tiap hari tiap malam kita selalu bersama Retno mendelik lucu, dr Prabu tertawa kencang saat Retno mencubit pinggangnya.
Intan sama dr Imam kontan berhenti bicara, lalu Intan masuk duluan sambil tak hirau Kakaknya juga Kakak iparnya yang lagi di ruang tamu.
Intan malah tambah ngambek kelihatannya. Masuk tanpa permisi dan langsung masuk kamar
Dr Imam nyengir di depan pintu di sambut dr Prabu sama Retno di hadapannya.
"Masuk! dari tadi di tungguin malah debat di luar," ucap dr Prabu sambil bersalaman dengan dr Imam.
Mereka masuk beriringan dan duduk di ruang keluarga.
"Kenapa, Intan masih ngambek?" tanya dr Prabu mulai pembicaraan.
"Begitulah, Aku dilema Bos soalnya tadi juga habis berdebat sama ortu mencari tahu alasan sikap mereka kenapa begitu sama Intan, Aku berusaha meyakinkan Intan tetapi Aku belum bisa Intan tetap tidak menerima entah seperti apa Aku harus meyakinkannya kalau semua itu bisa Aku bereskan." ujar dr Imam seperti putus asa.
"Masalahnya apa?" tanya dr Imam lagi.
"Masalahnya lebih ke diriku sendiri yang tidak dipercaya lagi sama orang tuaku sendiri melihat rekam jejakku yang kurang baik selalu membawa perempuan dan mengenalkan kepada orang tua, tetapi selama ini tidak ada yang berujung pada keseriusan, intinya orang tuaku seperti trauma tidak mau mengenal siapa saja perempuan yang Aku bawa ke rumah, ujung-ujungnya Aku akan di kenalkan pada sosok ideal menurut mereka, ada keponakan jauh yang Aku juga lupa siapa orangnya," dr Imam terbuka akhirnya semua masalahnya.
Dr Prabu manggut-manggut, datang Retno bawa minuman dan duduk di samping suaminya.
"Selanjutnya apa langkah yang akan dr Imam ambil?" dr Prabu bertanya lagi.
__ADS_1
"Aku juga bingung perempuan yang akan di kenalkan akan datang Minggu lusa sama keluarganya," jawab dr Imam memandang sahabatnya dr Prabu.
"Baiklah, Aku mengerti karena sekarang sudah malam, Aku sudah ingin berduaan, dr Imam ikuti saja dulu apa mau kedua orang tua, soal bicara sama Intan Aku bantu pelan-pelan memberi pengertian, kalau memang dr Imam berat sama Intan juga kalau kalian memang jodoh semua akan ada jalannya."
Begitu bijaksana apa yang di ucapkan dr Prabu, membuat tenang dan besar hati dr Imam.
"Maaf Bos jadi ngerepotin," ucap dr Imam sambil tersenyum.
"Oke, mau pulang apa mau tidur di sini?" dr Prabu memberi pilihan yang membuat dr Imam mengerti.
"Ih, Mas apaan sih kasihan dr Imam biar minum dulu!"
.
.
.
.
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1