
Pulang masih dengan perasaan berat beban di kepala dan fikirannya, belum juga menikah dirinya sudah di hadapkan pada persoalan kehamilan Alya.
Mengingat semua itu kepala dr Prabu serasa mau pecah. Beban pikiran yang terlalu berat menghadapi pernikahan menjadi depresi tersendiri yang memang harus dijalani.
Masih terasa saat dr Prabu mencium kaki Ibunya dan langsung ditarik ke dalam pelukannya. Air mata Ibunya terasa basa di lehernya.
Juga saat bersimpuh di pangkuan Bapaknya, tak sedikitpun Bapaknya berkata apa-apa. Hanya usapan di kepala dan punggungnya seakan tak kuasa memberikan satu katapun walau hanya sebatas nasehat, karena Bapaknya tahu anaknya bukan seseorang yang suka berbohong.
Bapaknya tahu mungkin pengakuannya barusan itu adalah kejujuran seorang anak yang pernah didengarnya.
"Hati-hati membawa mobil dan calon istrimu, mau pulang ke Tasikmalaya juga nanti saat ke Pekalongan. Istirahat dulu yang cukup."
"Iya, Bu."
"Jangan pikirkan Ibu dan keluargamu, Ibu dan keluarga mendukungmu apa yang terbaik menurutmu Ibu setuju."
"Terimakasih Ibu, itu yang ingin aku dengar."
"Jika sampai pada waktunya kamu harus jujur pada Nak Retno, Biarkan Dia memilih menurut kata hatinya yang paling jujur, akan ada penilaian yang bijaksana terhadapmu, semoga Ibu bisa meyakinkannya."
Dr Prabu tak menjawab, hanya anggukan kepala sebelum keluar dari rumah orangtuanya dan naik ke mobilnya di antar tetapan semua keluarganya.
Rumahsakit TMC Bandung.
"Suster Retno, akhirnya ada yang menculik, haaaa..." suster Aisyah dan teman-teman kerjanya masih saja mengerubungi Retno di ruang suster jaga.
"Iya nih, nggak gugur nggak petir tiba-tiba ada setrum meledak dengan bebas menembus jantung hatimu Retno."
"Gimana ya rasanya cinta pertama dan terakhir berakhir di akhir masa KKN? haaa..."
"Obat capek bolak-balik KKN Tasikmalaya - Bandung mantap dapat guling hidup."
"Sampai langsung nancep di sana saking betahnya."
"Jadi nyonya besar tarik kita dong pakai tali ke sana Retno, kalau nggak rekomendasikan juga sekalian promosikan jomblo kita di sana ya, haaaa..."
"Tenang, main aja ke sana dengan senang hati aku terima, tapi setelah sebulan ya, jangan ganggu bulan pertama pernikahanku haaa..." Retno menjawab seakan di sengaja biar teman-temannya semakin gerrr...
"Huuuuuuuu..."
__ADS_1
"Ya, iya lah masa kalian nggak pengertian?" Retno menjawab kalem.
"CLBK, diangkat dari kisah nyata 'cinta lama belum kelar', kisahnya di TMC haaa..."
"Pemeran utamanya Retno sama...coba lihat kartu undangannya siapa peran cowoknya?"
Dr Prabu tersenyum mendengar teman-teman Retno lagi pada menggodanya, Retno menanggapinya dengan santai saja sampai pada akhirnya dr Prabu mengetuk pintu yang terbuka ruang suster jaga itu.
"Halo semua..."
"Ha-halo juga..." suster suster cantik menjawab koor.
Retno tersenyum sambil menghampiri dr Prabu, menarik tangannya untuk masuk dan memperkenalkan satu-satu temannya yang berada di ruangan itu.
Mereka berkenalan sambil agak malu, karena mereka ketahuan sedang membicarakan nya, kecuali suster Aisyah yang sudah kenal dan pernah ngobrol bareng.
"Eh, Pak Prabu mari masuk biar paling tampan diantara yang cantik-cantik heee..." salah satu suster menjawab.
"Makasih, suster-suster cantik maaf aku nggak bisa lama aku hanya menjemput satu yang cantik dari sini, maaf ya aku bawa dulu. Apa kalian sudah kangen kangenan nya?"
"Silahkan Pak Prabu, kita titipkan sahabat terbaik kami di sini Mbak Retno, semoga kalian pasangan sejati."
Setelah bersalaman dan berpelukan dengan semua temannya, Retno pamitan dengan diantar semua teman-teman kerjanya setelah sekian tahun mereka bersama-sama.
Keluar ruangan suster jaga Retno diantar beberapa pasang mata sahabatnya terasa berat langkah Retno, ada kesedihan yang mendalam jauh di sudut hatinya, suka duka dirinya merintis kerja di sini hingga sampai pada hari ini.
"Bu Harni, ada nggak?"
"Ada tadi, aku tadi lama bertemu dia, sekarang kita berpamitan aja ke ruangannya."
Dr Prabu mengangguk mengiyakan, mereka berjalan bersisian menuju ruangan suster kepala Harni.
"Oh, alah pasangan calon pengantin rupanya mari masuk dulu, Ibu pesankan minuman dulu ya."
"Ibu, jangan aku habis minum terimakasih banyak, maaf ini nggak lama hanya pamit saja, masih banyak yang harus kita kerjakan."
"Jadi kalian langsung pulang?"
"Iya, Bu maaf aku belum sempat nengok dan beres-beres di kamarku." Retno seperti kangen dengan kamarnya di rumah suster Harni.
__ADS_1
"Jangan di pikirkan, nanti ada waktu kalian bisa nostalgia di sana kalau sudah jadi suami istri."
"Iya, betul itu." dr Prabu menjawab dengan senyuman. Retno menyikut tangan dr Prabu yang meliriknya.
Merekapun pamitan diantar Suster kepala Harni sampai ke parkiran.
"Eh...Bu Harni, sampaikan undangan juga maaf saya sama dr Burhan, maaf banget saya tak bisa bertemu dulu karena dr Burhan nggak ada di tempat kata Retno."
"Iya, nanti saya sampaikan, hati-hati calon pengantin jangan banyak melamun."
"Iya Bu, saya akan hati-hati bawa seorang yang sangat istimewa ini." dr Prabu tersenyum begitu juga Retno
Mobilpun melaju meninggalkan pelataran rumahsakit dengan tatapan suster kepala Harni yang masih saja tersenyum, betapa bahagianya Retno setelah sekian tahun dalam penantian panjang, akhirnya berakhir juga sesuai dengan keyakinan hatinya.
Melangkah dengan orang yang di cintai, dan selalu di nanti adalah kebahagiaan tersendiri bagi siapapun, begitu juga Retno.
Berbahagialah Retno, semoga itu cinta sejati mu.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
...Hai, readers tercinta! habis baca...
..."Biarkan Aku Memilih"...
...Jangan lupa mampir ke karya...
...terbaik bertitel,...
..."Pesona Aryanti"...
...By Enis Sudrajat, baca, like,...
...vote dan beri hadiah ya!...
__ADS_1