Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Makan malam


__ADS_3

"Eh, ada dr Imam juga di sini rupanya ya?" ucap Retno mengagetkan dr Imam dan Vionna yang duduk tanpa jarak.


Dr Imam kelihatan salah tingkah dan langsung jaga jarak dengan Vionna, Vionna menatap Retno dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Mungkin merasa ada kesempatan untuk keluar dari situasi seperti ini.


"Oh, Ibu direktur ada di sini, sama Pak Prabu juga?" jawab dr Imam malah balik bertanya dengan muka kelihatan memerah, mungkin merasa malu kepergok lagi berduaan layaknya orang pacaran padahal antara Retno dan dr Imam tahu sama tahu kalau dr Imam adalah teman dekat Intan Adik iparnya.


"Tuh!" sahut Retno menunjuk dengan mukanya dimana suaminya duduk, sambil tak lepas tersenyum meneliti wajah dr Imam yang kelihatan salah tingkah dan Vionna yang tanpa beban.


"Sudah makannya apa belum Bu? gabung aja sekalian nggak apa-apa kok biar rame," dr imam menawarkan, mungkin sekedar basa-basi, padahal hatinya tahu nggak mungkin Prabu sama Retno mau gabung merasa beban perasaan juga bagi mereka berdua.


"Oh, kebetulan kami sudah selesai, dan sepertinya pulang duluan silahkan dilanjutkan saja dr Imam,"sahut Retno sambil melirik Vionna yang lagi memandang dirinya juga.


"Eh Bu Retno, kenalkan saudara dari orangtuaku, lagi liburan di sini," ujar dr Imam sambil tersenyum melirik Vionna.

__ADS_1


Vionna mengangguk dan menyalami Retno lalu Retno pamitan kembali ke mejanya di mana dokter Prabu dari tadi melihat bagaimana istrinya berbasa-basi.


Dr Imam merasa tidak enak lalu menemui dr Prabu sahabatnya yang sudah bersiap mau pulang.


Ada keengganan dari Vionna saat dr Imam mengajaknya sekalian pulang saja karena di rasa mereka jga sudah selesai makan malamnya.


Hanya menyapa biasa dan ngobrol ringan sambil keluar dari rumah makan itu bagi dr Imam itu hal keharusan saat tahu ada seseorang yang kenal di tempat itu apalagi kalau orang itu atasan di tempat kerjanya, tapi bagi Vionna merasa itu bukan hal penting. karena mungkin Vionna tidak tahu posisi dr Prabu seperti apa di tempat dr Imam bekerja.


"Kenapa harus terbawa orang lain, Kita jadi ikut pulang juga?" ucap Vionna saat sudah duduk di jok samping dr Imam.


"Jangan dulu pulanglah, jalan lagi ke mana kan masih sore, nonton, atau sekedar jalan saja ke mana gitu." jawab Vionna sedikit merengut.


"Vio, Aku besok kerja praktek pagi, Aku perlu istirahat tapi kalau mau jangan nonton kita jalan saja ke mana maunya?" sahut dr Imam seakan merasa bersalah.


"Aku nggak tahu, makanya pengen jalan aja ke mana Mas Imam bawa, Aku ikut aja," jawab Vionna merasa kurang hanya makan malam saja.

__ADS_1


"Gini aja, karena sekarang malam besok aja siang jalan jalannya, Aku kondisikan pokoknya Aku janji antar ke mana yang belum pernah Kamu kunjungi gimana? kalau malam mau ke mana lagi? ke kafe? kalau cuma ngobrol mending di rumah saja." Dr Imam memberi solusi, walaupun Vionna mengangguk tapi kelihatannya mengerti juga.


Vionna sudah tiga hari ada di Bandung tapi baru kali ini diajak jalan makan malam, itu juga atas desakan Ibunya yang selalu panas di kuping dr Imam, kadang mereka ngobrol seadanya di rumah, dan kemarin pulang dari rumah sakit habis antar makanan jalan juga tapi dengan Ibunya dr Imam, bagi dr Imam kebahagiaan tapi bagi Vionna merasa tak begitu bebas mau ngobrol apapun.


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, .Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2