Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Persiapan resepsi ke dua


__ADS_3

Siangnya...


Semua orang yang ikut sudah mempersiapkan diri dengan segala keperluannya masing-masing.


Kelihatan yang paling bersemangat melebihi pengantinnya sendiri yaitu Romo nya Retno Raden Haryo Atmojo. Sejak tadi sudah begitu siap setelah salat dzuhur sudah menunggu yang lain, sambil memberi perintah untuk melengkapi segala keperluan di perjalanan dan sampai di tujuan sana.


Mengecek mobil dan bertanya pada anaknya Dimas barangkali mobilnya sudah ada yang dirasa, biar diperbaiki dulu tetapi Dimas mengatakan semua masih stabil tidak usah diservis dulu.


"Nak Prabu, kata Romo jangan bawa mobil, takut kurang tidur dan istirahat biar Dimas saja yang bawa mobil Nak Prabu, mobil Romo yang ditumpangi sama Ibu biar dibawa sama Pakde nya." Ibu Raden Ayu Trihapsari memberitahukan titah suaminya kepada menantu barunya agar mereka bisa istirahat tidak konsentrasi di jalan dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan karena faktor kecapekan.


Ibu Raden Ayu Trihapsari mengetuk pintu dan masuk sampai pintu, dan berdiri di dekat pintu kamar Retno.


"Waduh Ibu, kita ngerepotin Dimas jadinya."


"Ndak apa-apa, biar Romo sama Ibu tenang."


"Baiklah Bu, tapi minta satu orang buat teman ngobrol Dimas nanti di jalan."


"Iya, nggak apa-apa nanti Ibu sampaikan pada Dimas." Ibunya keluar dan sudah menyampaikan keinginan Romo nya.


Dr Prabu memandang Retno dengan pandangan penuh arti, berdua masih berdandan dan beres-beres di dalam kamarnya.


Retno membereskan tempat tidurnya, yang menjadi saksi pergulatan mereka berkali-kali dilakukan di kamar ini, begitu banyak kenangan dari mulai malam habis resepsi kemarin.


Pagi tadi sudah di ganti sama Mbok Sum seprainya tapi sudah kusut lagi, setengah hari mereka tak keluar kamar di habiskan di dalam kamar sampai tidur kecapaian menjelang siang. Keluar keluar di ketuk Mbok Sum biar siap-siap berangkat di suruh Romo nya.


Tak ada kata bosan siang malam mereka memadukan gelora dan rasa mereka, bercumbu dengan berakhir penyelesaian akhir yang sempurna.


Berkali kali hingga keduanya benar-benar ketiduran saat adzan Dzuhur berkumandang, dan Mbok Sum mengetuk pintu kamar mereka membangunkan.


"Akhirnya aku membawa kamu sayang ke rumah impian kita."


"Mas, boleh aku minta sesuatu?" Retno sambil memasukkan peralatan kosmetiknya ke tas khusus.


"Boleh sayang apapun itu akan aku kasih, minta apa? minta nggak tidur lagi malam nanti? itu yang kamu pinta? aku sangat siap sayang..."


"Apaan sih mas? itu mah nggak usah di pinta Mas sudah memaksa aku."


"Haaa... lantas minta apa?"


"Aku mau bulan madu ke Bandung saja, boleh nggak?"


"Bandung? apa nggak kedekatan mintanya kok ke Bandung?"


"Mas, Bandung adalah history buat cinta kita, semua berawal di sana, Aku ingin menjalani kebersamaan kita di sana."


"Ya ampun sayang, nggak di pinta juga setiap saat kita bisa ke sana, orangtuaku tinggal di sana, kampus kamu juga kan di sana."


Retno tersenyum betapa ingin dirinya merealisasikan keinginan hatinya setelah mereka resmi menjadi suami istri.


Menikmati kemesraan yang selama pacaran hanya jadi khayalannya saja.


"Sudah? ayo kita nggak enak di tungguin sama keluargamu, kelihatan Romo mu seperti sudah nggak sabar, seperti nggak sabarnya aku membawa kamu ke rumah impian kita."


Retno melirik tempat tidurnya sambil tersenyum, saksi segalanya awal rumahtangga dengan orang yang di cintainya.

__ADS_1


"Mas coba sini dulu."


"Apaan?"dr Prabu balik lagi melirik Retno yang mematung di dekat tempat tidur.


"Kita berdua akan merindukan kamar ini, dan suatu saat kita akan kembali ke sini dengan kemesraan dan kerinduan yang sama, seperti saat kita merasakan pertama kali bersama di tempat ini."


Dr Prabu tersenyum sambil merengkuh bahu Istrinya.


"Tentu saja sayang, kita akan datang kembali ke sini dengan cinta dan perasaan yang sama."


Retno menutup pintu dan keluar sambil memeluk sebelah lengan suaminya. Di luar semua sudah siap dan berkumpul, ada empat mobil rombongan yang akan ikut


menghadiri resepsi di Tasikmalaya dan sekaligus perwakilan keluarga melepas dan mengantar Retno menuju keluarga barunya.


Mobil perlahan mulai jalan diantar tatapan hormat Mbok Sum dan Pakde juga kerabat lain yang tak ikut mengantar, karena di beri tanggungjawab menjaga rumah dan beres-beres sesudah acara resepsi yang begitu perlu waktu dan tenaga untuk kembali ke suasana semula.


Dimas di temani sepupunya menemani duduk di sampingnya di depan. Retno dan dr Prabu duduk di belakang. Mobil mereka berjalan duluan di susul Mobil Romo nya dan yang lainnya di belakang.


Dr Prabu menelephon Intan sekedar bertanya sampai di mana kesiapan mereka menghadapi resepsi yang akan dilaksanakan esok hari.


"Sudah sangat siap Kak, malah kemarin dr Imam mengontrol sampai larut malam."


"Kok sampai larut malam Tan?"


"Katanya biar memastikan semua yang di inginkan sesuai dengan keinginan pemesan."


"Yang lainnya gimana Tan?"


"Maksud Kakak, catering apa?"


"Nggak, semua sudah siap Kak, aku sama Mas Imam sudah mengontrol dan mengecek sampai sedetil detilnya."


"Wah kalian memang pasangan yang serius, bonusnya kalian bisa berduaan terus haaaaaaaa..."


"Yeeee...kalau nggak di temani kan kasihan, masa Mas Imam kerja capek sendiri?"


"Iya iya, silahkan manfaatkan kesempatan kalian buat pacaran juga."


"Nggak usah di suruh juga kali Kak!"


"Selamat pacaran Intan."


"Apa-apa an Kak Prabu ini? pacaran di ucapin selamat, yang ada nikah tuh yang di selamatkan. Eh Kak, Mbak Retno sehat?"


"Alhamdulillah sehat Intan, Ibu Bapak gimana?"


"Baik-baik semua Kak, tempat buat keluarga dari Pekalongan juga sudah siap."


"Eh Intan satu lagi, apa ada tamu yang lebih awal datang ke rumah?"


"Sepertinya nggak ada Kak."


"Oh, ya sudah paling habis maghrib mudah-mudahan kita sudah sampai."


"Kak Prabu boleh aku bicara sama Mbak Retno?"

__ADS_1


"Boleh banget, nih."


Ponsel di kasih pada Retno yang dari tadi ikut menyimak dan mendengarkan pembicaraan mereka sambil senyum-senyum.


"Hai Intan..."


"Ya Mbak Retno."


"Makasih lho Intan, sampaikan juga sama dr Imam."


"Iya Mbak, kami juga ingin lancar segalanya sampai akhir acara, dan ingin mensukseskan nya dengan kemampuan kami."


"Iya, Intan sekali lagi makasih banyak buat kalian berdua."


"Mbak, sehat kan? Intan hanya ingin tahu khabarnya saja."


"Baik, emang kenapa selalu ada aja pertanyaan penuh selidik deh kalau buat pengantin baru."


"Heeee...emang pertanyaan Intan penuh selidik?"


"Sepertinya iya heee...nanti deh di kasih tahu semuanya berikut tips dan rahasianya bugar saat pengantin baru."


"Ah Mbak Retno, kan Intan masih lama nikahnya juga."


"Ya nggak apa-apa."


"Oke ya sudah dulu, hati-hati di jalan biar selamat dan lancar sampai ke sini."


"Iya Intan terimakasih."


Sambungan telephon putus dan Retno menggenggam ponsel suaminya yang sudah tertidur di sampingnya.


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


...Hai, readers tercinta! habis baca...


..."Biarkan Aku Memilih"...


...Jangan lupa mampir ke karya...


...terbaik bertitel,...


...MENITI PELANGI...


...By Enis Sudrajat juga, baca, like,...


...vote dan beri hadiah ya!...


__ADS_1


__ADS_2