Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Masih kaku dan sungkan


__ADS_3

Dr Prabu merenung sendiri di meja cafe sambil matanya selalu melihat ke luar yang dengan jelas melihat aktifitas di luar cafe, mengingat Retno dan melihat perubahannya terasa sembuh dari luka lama yang sekian menggelayuti hati dan perasaannya, sejuta kecemasan


tetap saja menghantuinya seperti kejadian tadi pagi begitu tak mengenakkan pandanganya,


Arya walaupun saudara Retno tetap menjadi satu ancaman bagi dirinya salah-salah langkah Retno bisa saja berbalik membencinya lagi dan berpaling pada seseorang yang tak jelas yaitu seorang Arya.


Tapi semua itu tak mudah sepertinya bagi Retno untuk berpaling dari cintanya, terbukti lima tahun berpisah masih tetap menunggu dan mencintainya terbukti di ponsel dan laptopnya hanya nama dirinya yang selalu di sebutnya dan di rindukannya, tapi semuanya bisa saja berubah.


Dr Prabu tersenyum mengingat semuanya dan berpikir langkah yang akan di tempuh Retno untuk memberitahukan kembali hubungan mereka pada orangtuanya juga pada keluarga besarnya nanti walau Romo nya Retno Raden Haryo Atmojo lagi sakit sakitan, tapi setidaknya keluarga besarnya pasti andil dalam keputusan apalagi ini menyangkut masa depan Retno.


Semua khayalan dr Prabu silih berganti dan kini bayangan Retno menjadi istrinya dan kebahagiaan mereka yang sudah di depan mata membuat dadanya terasa hangat dan melambungkan semua rasa bahagianya... aaaaaaah... Retno kapan semua cinta kita terwujud nyata, semua begitu ku damba, setiap detik mulai sekarang adalah perjuangan menggapai harapan bahagia itu.


Dr Prabu berjalan di koridor rumah sakit menuju ruangan sahabat juga mungkin lebih tepat sebagai sahabat tua nya dr Burhan, yang senantiasa memberi dukungan atas kesendiriannya dan selalu mengingatkan dan menyayangkan dirinya nggak punya anak perempuan yang ujung-ujungnya jadi bahan candaan mereka.


Mata dr Prabu menyapu semua sudut rumah sakit berharap melihat seseorang yang padahal baru tadi pagi mereka sama sama satu mobil dan duduk bersampingan, berjalan agak di lambat kan dan hatinya tetap berharap walau sekedar melihat selintas mungkin bisa menenangkan bathin nya.


''Eh, dr Prabu...kesel ya nungguin Retno yang masih kerja."


"Oh, Bu Harni nggak juga Bu...cuma nggak ada teman ngobrol saja."


"Masuk aja sini kita ngobrol di ruangan saya nggak apa-apa, kebetulan saya sudah senggang, Retno masih mendampingi dokter SpOG lagi ada tindakan SC." suster kepala Harni masuk duluan di ikuti dr Prabu.


"Nggak apa-apa Bu biarin Retno kerja dulu, biasanya jam berapa dia selesai kalau dalam masa KKN begini?"


"Habis istirahat siang sudah aku suruh berhenti dan biar dia siap-siap, istirahat dulu, sholat, makan dan kalau perempuan dandannya yang lama heee... terkadang bandel juga makan di nanti-nanti di mobil saja katanya, saya nggak tahu makan apa nggak tuh orang."


Dr Prabu hanya tersenyum sambil duduk di salah satu kursi.


"Pak Prabu, mau minum apa nanti say pesanin"


"Nggak usah Bu saya habis minum di cafe depan itu, serius jangan."


"Gimana Retno sudah nggak marah lagi?"


"Ya gitu lah Bu, kadang-kadang angot-angotan seperti sensitif banget bawaannya serius melulu dan baru tadi aku melihat senyumnya heee..."


"Sabar saja, mungkin hatinya belum bisa menerima dr Prabu karena pertemuan kalian berdua tidak sesuai dengan apa yang ada dalam angan-angannya selama ini."

__ADS_1


"Iya Bu."


"Tapi saya yakin tak ada yang lain dalam hatinya saya pastikan itu, karena setiap kali dia curhat sama saya hanya Pak Prabu yang selalu di sebutnya."


"Oh ya?"


"Iya, terkadang saya memberi masukan sudahlah laki-laki banyak yang suka dan berharap serius dengan suster Retno, tapi dia tak bergeming tetap pada pendiriannya dan keyakinan hatinya kalau Pak Prabu akan datang menemuinya."


"Yang tadi pagi itu siapa Bu?"


"Ya itu, salah satu yang serius mengharapakan suster Retno yang masih bertahan dan gigih, walau mungkin respon yang di terimanya sama seperti pada pria pria yang lain dingin."


"Katanya itu saudara sekampung nya Retno Bu?"


"Ah, saudara apa wong ketemunya di sini, suka ada-ada aja deh ah...tapi nggak tahu juga kalau sekampung mungkin suka masih ada kaitan saudara jauh gitu, saya pernah ngobrol juga sama Mas Arya, itu namanya Mas Arya, waktu saya tanya saudara bukan katanya bukan hanya rumahnya deket saja jadi merasa seperti saudara ketemu saudara sekampung di rantau..."


"Oh, gitu ya Bu."


"Tadinya saya berfikir Mas Arya yang kelihatannya di kasih hati sama suster Retno, tapi saya berpikir lain setelah belum lama ini suster Retno bilang kalau Mas Prabu hadir kembali di hadapan suster Retno dengan panggilan pimpinan paling menyebalkan waktu itu saya pernah cerita."


"Heeeeeeee...sebenarnya saya tak se menyebalkan itu Bu, tapi kenapa ya waktu saya tahu ada satu mahasiswa dengan nama Retno dan saya lihat dengan jelas ya itu Retno ku yang lima tahun lalu terlintas pikiran jelek dan niat culas saya dan dendam saja, tanpa saya tahu perjuangan Retno yang sebenarnya."


"Oh, eh aku cuma ngobrol sama suster Harni emang kenapa?"


"Katanya tadi nungguin nya di depan saja, atau di ruangan Pak Burhan."


"Ssssssssst....suster Retno kenapa sih harus jadi pertanyaan hal yang begitu juga, memang kenapa? di sini juga sama kok ujung-ujungnya nungguin kamu, tadi ketemu sama Ibu di depan Ibu yang ajak dr Prabu ke sini jadi ngobrol deh keterusan."


"Suster Aisyah ini Mas Prabu senior saya di kampus." suster Aisyah menyodorkan tangannya dan dr Prabu menyambutnya dengan senyuman.


"Senang berkenalan dengan anda Mas Prabu."


"Sama-sama."


"Bagaimana kalau kita makan bareng dulu aku yang ajak nih boleh nggak Bu Harni?"


"Tentu saja boleh silahkan."

__ADS_1


"Retno gimana?"


"Boleh ya suster Aisyah?" suster Aisyah mengangguk sambil tersenyum malu-malu.


"Karena aku nggak tahu tempat makannya silahkan kalian pilih nanti, juga Bu Harni ikut aja gabung sama kita."


"Terimakasih dr Prabu ,Ibu lain kali saja silahkan yang muda muda, Ibu sudah ada pantangan heee...lagian mau sholat dulu."


Di RM.


Akhirnya hanya bertiga saja mereka duduk di meja lesehan rumah makan Sunda 'Ponyo'. Awalnya semua tampak kelihatan kaku tapi Retno berusaha memberi sikap seakan terbiasa terutama di depan temannya suster Aisyah, biar suster Aisyah tak merasa canggung dengan selalu mengajak komunikasi dan ngobrol lebih di banding dengan dr Prabu sendiri.


Dr Prabu lebih pengertian lagi tahu Retno sikapnya tak se luwes lima tahun lalu, ada rasa kaku yang tak bisa di hindari apalagi dr Prabu duduk percis di hadapannya dan selalu pandangannya sengaja di arahkan pada dirinya.


"Pesan sesuka kalian berdua, mau yang mana aku ikut saja." dr Prabu memberi kebebasan pada Retno dan suster Aisyah.


"Nanti nggak cocok." Retno bicara tanpa melihat dr Prabu sibuk melihat buku menu.


"Aku percaya, kalian bisa memilih yang terbaik di menu itu."


"Serius ikut Mas nggak pilih sendiri?" Retno melirik dr Prabu yang asyik melihat lihat ponselnya.


"Heemght...pilih aja."


Terasa makan dengan pejabat saja rasanya serba canggung dan serba membatasi diri tiap masing-masing walau dr Prabu terkadang menggoda dua perempuan di depannya dengan banyolannya atau memujinya tapi tak bisa di hindari semua tampak kaku saja.


"Retno habis ini aku tunggu di mushola rumah sakit ya, mau ke mana dulu sebelum berangkat ke Tasikmalaya?"


"Nggak ke mana-mana lagi cuma nunggu pakaianku di antar dari laundry, kalau tak memakai seragam nanti kena hukuman dan sangsi lagi di tempat KKN."


"Ya harus taat aturan lah biar nggak kena sangsi ya suster Aisyah?" dr Prabu seperti tidak senang dengan kata-kata sindiran Retno.


"Betul itu Mas Prabu."


Dr Prabu hanya tersenyum dan Retno diam saja.


"Serius nih sudah makannya nggak ada yang di pesan lagi? barangkali minuman, apa jus?"

__ADS_1


"Sudah-sudah Mas Prabu, kenyang terimakasih banyak lho traktirannya." suster Aisyah mewakili sahabatnya Retno.


Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝


__ADS_2