Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Positif


__ADS_3

Retno ingat ada janji dengan Ibu Harni kalau dirinya mau menjemputnya, buru-buru Retno berdandan jam 16:02 Retno sudah menaiki motor menuju rumah sakit tempat Ibu Harni bekerja tempat dulu dirinya juga bekerja di situ.


Begitu berbekas di hatinya setiap pembicaraan dengan Intan barusan, dewasa banget pemikiran Intan tadi itu, dirinya hanya ingin curhat tetapi tak disangka Intan memberikan masukan yang begitu berharga untuk dirinya.


Intan memang cerdas seperti yang dikatakan Mas Prabu tapi akan secerdas apa dia saat memilih jodohnya seperti itulah kata-kata Mas Prabu, saat dirinya ngobrol tentang Intan yang asalnya Retno tidak tahu kalau Mas Prabu punya adik yang sudah dewasa juga.


Hati Retno berperang apa yang harus di lakukan sekarang? membangun kembali komunikasi dengan Mas Prabu suaminya? lalu mengizinkan menikah mungkin hatinya akan lega atau malah akan semakin terluka?


Kata-kata Intan begitu jadi gaung di dalam kepalanya terus saja mengganggu pikirannya


Mbak, Mbak Retno adalah istri sah dari Kak Prabu, Mbak Retno bisa mempertahankan rumahtangga Mbak itu kalau Mbak mau, ataupun melepasnya, seandainya tidak mau. Tetapi kalau Mbak Retno sama Kak Prabu masih begitu cinta, kenapa mesti di lepaskan?"


"Itu adalah satu kemenangan menurut pendapatku, tetapi seandainya Mbak Retno dan Kak Prabu melepaskan rumah tangga ini, bubar dan hancur itu adalah satu kekalahan, dimana cinta sejati itu berada? kalau maaf sulit di dapatkan untuk kedamaian masa depan?"


"Setiap orang berhak sekuat tenaganya dan harus berusaha mempertahankan rumah tangganya, berhak mempertahankan milik dan kehidupannya tak ingin terganggu siapapun, setidaknya itu yang ada di dalam pikiranku Mbak."


Apa Intan sengaja datang hanya ingin sharing soal pendapatnya akan masalah yang sedang menimpanya? atau memang hanya kebetulan saja karena waktu di kampusnya longgar?


Apapun itu aku telah mendapat satu pencerahan, dan semua itu tak terpikirkan sedikit juga olehku, hanya emosi, kemarahan tanpa solusi dan semangat untuk merubahnya, dan ego masing-masing yang saling mempertahankan dan debat yang tak pernah ada hentinya.


Bu Harni mengenali Retno yang memakai helm, sudah tersenyum menyambutnya, setelah Retno menyerahkan helmnya Retno melajukan kembali motornya dan berangkat.


"Kita kemana ini Bu?"


"Ke supermarket saja Ibu ada banyak yang mau di beli."


"Baiklah."


"Retno, Ibu harus katakan padamu kalau tadi suamimu menelephon Ibu."


Retno diam dan fokus ke jalan yang akan di laluinya.


"Kamu jangan marah Ibu menyampaikan ini semua, Pak Prabu semata ingin tahu khabar mu, dan itu satu kewajaran sebagai suami pada istrinya."

__ADS_1


"Aku nggak marah Bu, bicaralah apa adanya biar dia merasa tenang."


"Saran Ibu berikan nomor ponselmu, biar dia bisa mengabari kamu dan kamu pun bisa saling mengabari, mulailah komunikasi jangan putus sama sekali."


"Dia selalu mengirim aku e-mail dan mengabarkan apapun, walau nggak pernah aku balas."


"Kalau kamu belum siap ya nggak apa-apa, tapi kamu akan tetap terus seperti ini?"


Retno tak menjawab, dan kebetulan sudah sampai di tempat yang di tuju.


Retno tak banyak bicara lagi kepalanya sangat pusing dan keleyengan.


Retno membiarkan Ibu Harni belanja, sementara dirinya menunggu di parkiran di depan tenda-tenda jajanan yang berjejer di pinggir menghadap jalan raya.


Retno duduk dengan menahan kepalanya yang sangat pusing dan melihat ke jalanan yang lalu-lalang kendaraan dan bisingnya suasana di halaman parkiran depan supermarket itu membuat dirinya tak kuasa menahan rasa sakit di kepalanya, baru mau memesan es jeruk keburu Retno pingsan terkulai di di kursi panjang tempat jualan dan jajanan.


Ibu tukang dagang minuman panik, sambil menahan tubuh Retno yang tak berdaya, seorang tetangga jualannya melaporkan pada Satpam setempat dan membawanya dengan di bopong ke post Satpam.


Di dalam supermarket Bu Harni mendengar pengumuman kalau seseorang di parkiran ada yang pingsan, bagi anggota keluarga yang sedang berbelanja yang merasa di tunggu di parkiran oleh seseorang bernama Raden Ajeng Retno Ayuningtyas harap segera keluar ke post Satpam.


Tampak Retno begitu pucat di pelukan seorang ibu-ibu muda penjual es jeruk, dan mereka mengatakan kalau Retno tiba tiba pingsan di kursinya saat duduk dan mungkin mau memesan es jeruk.


Dan satpam menyarankan segera di bawa ke klinik terdekat sambil menyerahkan tas selempang milik Retno berisi dompet dan ponsel, sempat membuka karena mencari identitasnya.


Satpam mencoba membantu menyetopkan taksi dan Retno di bawa ke klinik terdekat dan langsung di tangani dokter.


Retno di periksa, tekanan darahnya memang rendah, kurang kalori dan asupan makanan, kondisinya begitu lemah seperti kurang tidur, begitulah pendapat dokter.


Bu Harni hanya berharap Retno semoga cepat siuman dan bisa pulang biar istirahat, dirinya merasa bersalah kenapa mau saat Retno menawarkan menjemputnya? kalau pingsan di jalan tadi bagaimana?


Satu lagi yang di sampaikan dokter kemungkinan Retno hamil, tapi itu harus di buktikan dengan cek urine kalau nanti sudah siuman.


Bu Harni begitu kaget, tapi kenapa enggak? mereka sudah menikah lebih dari sebulan, dan kemungkinan Retno hamil sungguh besar.

__ADS_1


Bu Harni mengompres kening Retno dan mencium cium kan minyak angin di dekat hidungnya, Bu Harni merasa prihatin dengan keadaan yang sedang Retno hadapi. Dengan telaten Bu Harni mengusap-usap telapak tangan Retno dan memegang jari tangannya, dan memijit-mijit telapak kakinya.


Retno mulai memperlihatkan pergerakan kelihatan Bu Harni begitu gembira dan langsung berbisik ditelinga Retno sambil mengusap kepalanya.


"Retno, ini Ibu kita lagi di klinik tadi kamu pingsan di parkiran, tenang kan pikiranmu."


Retno mengerjapkan matanya mencoba mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya.


"Bu, kok aku sampai pingsan?"


"Kamu begitu lemah, kurang makan kurang tidur dan banyak pikiran, dan satu lagi kemungkinan kamu akan jadi seorang Ibu, sekarang kalau sudah pulih coba di cek ya biar kamu tahu benar positif apa enggaknya."


Retno bangun meminum teh manis hangat yang di sodorkan suster lalu, setelah di rasa kuat lalu turun mengambil kemasan bening plastik kecil kosong untuk menampung sedikit urine dan berjalan ke kamar mandi. Lalu menyerahkan pada petugas dan duduk kembali di tempat tidur tadi tanpa bicara apapun.


Selang beberapa menit datang dokter sambil memperlihatkan hasil testpack dan Retno di nyatakan positif hamil.


Selamat ya Ibu Retno, anda akan menjadi seorang Ibu, mulai sekarang jaga kesehatan jaga janin dan jaga kondisi ibunya juga, jangan sampai kelelahan, nanti saya akan bikinkan resep sebagai vitamin dan asupan nutrisi tambahan dan juga penambah darah.


Retno tertegun satu kenyataan lagi yang tak di perkirakan datang pada dirinya, dirinya di nyatakan positif hamil. Retno memeluk Bu Harni tanpa berkata apapun tak tahu harus berkata apa.


Bu Harni sangat mengerti keadaan Retno, hanya memeluknya tanpa sepatah kata keluar dari bibirnya, kecuali mengajaknya pulang naik taksi.


Dan motor biar Bapak yang ambil nanti.


*****


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


Hai, readers tercinta! habis baca


"Biarkan Aku Memilih"Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, Meniti Pelangi


By Enis Sudrajat juga, baca, like,

__ADS_1


vote dan beri hadiah ya!



__ADS_2