Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Akal Vionna


__ADS_3

"Minumnya apa Mas?" tanya Vionna sambil berdiri mau menuangkan minuman yang di pilih dr Imam.


"Apa aja Vio boleh, asal jangan kopi aja kelamaan," jawab dr Imam sambil menarik kursi dan duduk di samping Vionna di hadapan Bapak dan Ibunya.


"Jadi kerja full hari ini gantiin orang?" tanya Vionna lagi. sambil menuang teh hangat dari teko beling di depannya setelah air putih.


"Iya, sama Ibu aja kalau mau ke mana-mana," jawab dr Imam tanpa melihat Vionna si sampingnya, mengundang kecurigaan kedua orangtuanya.


"Nak bisa Ibu bicara sebentar, sambil sarapan aja nggak apa-apa," ucap Ibunya dr Imam sambil penyimpan kembali minuman di depannya.


"Ada apa Bu, bicara saja," jawab dr Imam datar saja.


"Nak, sebaiknya pernikahan kalian semakin di percepat saja Ibu pikir, bagaimana?" ucap Ibunya dr Imam mengundang keheranan juga kekagetan semua yang ada di meja makan itu terutama dr Imam.


"Maksud Ibu apa? kok tiba tiba saja bicara pernikahan?"


"Nak Ibu serius dan ini harus serius kita bahas, Ibu hanya minta waktu beberapa waktu saja untuk awal pembicaraan kita ini."


"Ibu, Aku tidak mengerti, Kenapa Ibu begitu cepat berbicara tentang hal yang belum Aku pikirkan?"


"Kenapa Nak? semua itu harus segera dipikirkan karena Ibu tidak mau berlarut-larut dan sekarang kebetulan Nak Vionna ada juga di sini masih dalam masa cuti kenapa kita tidak bahas untuk awalnya saja?"

__ADS_1


"Maaf bagiku tidak ada yang akan dibahas untuk hari ini dan juga untuk masalah yang ibu katakan tadi, karena Aku sudah siang, Aku sudah cukup sarapan jadi Aku permisi berangkat dulu." Dr Imam bangkit fan menyudahi sarapannya.


"Nak! kali ini Ibu serius tolong dengarkan Ibu, Ibu tidak bisa bicara dengan satu pihak saja sama Nak Vionna Ibu seharusnya meminta pertanggungjawaban Kamu berdua, dan sekaligus kesiapan Kamu untuk segera berumah tangga."


"Sudahlah Ibu, Aku sudah telat, besok lagi kita bicara hal yang nggak Aku pahami ini, Assalamualaikum!" dokter Imam bangkit membereskan sedikit pakaiannya dan meraih tas kerjanya lalu keluar tanpa melirik lagi ke arah Vionna, kepada Ibunya juga Bapaknya yang hanya diam di meja makan.


"Sudahlah Bu, biarkan saja, jangan terlalu menekannya, semua akan ada saatnya," ujar Vionna menenangkan Ibunya dr Imam sambil memeluk pundaknya.


"Kalau tidak sedikit dikerasin susah untuk mengerti semua itu demi kebaikan kalian karena kalau terlalu terlarut Ibu khawatir malah terjadi sesuatu yang tidak kita harapkan," ujar Ibu dr Imam sambil memandang wajah Vionna.


"Nak Vio, apa siap seandainya kalian menikah dalam waktu dekat?"


"Maksud Ibu bagaimana?"


"Aku siap saja, seandainya itu yang terbaik menurut Ibu dan Bapak apa Mas Imam bisa setuju?"


"Mau tidak mau harus setuju kalian sudah layaknya suami istri, Ibu tidak perlu bukti lain bukankah tiap malam kalian tidur bersama?"


"Maksud Ibu apa?" Vionna begitu heran tiba-tiba Ibunya dr Imam bicara seperti itu.


"Ibu menemukan pakaian dalam Kamu Nak di kamarnya Anakku, apa itu semua kurang bukti?

__ADS_1


kini Ibu bertanya padamu Amapa artinya semua itu?"


Deg! Vionna merasa kalau semalam dirinya lupa masuk kamar Mas Imam sebelum semuanya terlanjur Mas Imam sendiri yang mengingatkan dan menyuruhnya berpakaian kembali sebelum melakukan sesuatu yang lebih jauh mungkin akhirnya ada pakaian dalamnya yang tercecer saat Vionna balik ke kamarnya.


Viona baru ingat apakah itu adalah layak untuk dijadikan sebuah pengakuan kalau dirinya belum melakukan apa-apa?


Atau sekalian di jadikan bahan untuk memiliki Mas imam? Oke sepertinya jalan selalu terbuka buat masalah menaklukan seorang playboy, semua hanya dengan pakaian dalam yang tercecer juga bisa.


Vionna merasa harus merancang semuanya dan kenapa begitu mudah jalan terbuka bagi dirinya untuk segera memiliki Mas Imam.


"Maaf Ibu, semua kesalahan Kami, sekali lagi maafkan semua tanpa disengaja tetapi mungkin pesona kami masing-masing begitu menarik sehingga kami lupa akan segalanya. Sebenarnya karena itu kesalahanku Aku ingin menuntut pertanggungjawaban tetapi melihat sikap Mas Imam yang seperti itu Aku menjadi ragu tapi seandainya Ibu mendukung Aku juga siap untuk mengikuti keinginan Ibu sama Bapak," ucap Vionna mengeluarkan amunisi pertama.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️



__ADS_2