
"Stop semua gossip dan pertanyaan apapun. Aku mau tidur enak malam ini."
Retno cuek bicara sambil membersihkan mukanya duduk berjauhan dari kedua temannya Ella dan Ismi.
"Ya elah... se-begitunya nyonya direktur ini sekarang pada kita, padahal yang kasih info di kantin dari kita ya La" Ismi seperti nggak senang dengan sikap Retno, tapi Retno cuek aja karena mungkin hatinya lagi kesal.
"Bodo amat dengan apapun aku pusing, mumet dan ingin segera KKN ini selesai, capek hati dan perasaan juga jiwa ragaku."
"Katanya mau bertemu, katanya sekian tahun menunggu, kok sudah ketemu nggak ada kata rindu? tiap bertemu berantem melulu apa memang cinta kalian itu palsu? berarti kalian berdua sama-sama egois tak bersyukur atas pertemuan kalian itu, malah emosi masing-masing yang di perlihatkan bukan saling memaafkan." Ismi menatap Retno dengan heran dan serius.
"Kalau sudah nggak menganggap kita ya sudahlah. Itu semua hak Mbak Retno, tapi ada satu kabar penting seandainya ingin membalas sakit hati ikuti saran ku" Ella mengompori Retno.
"Apa maksudnya?"
"Sepertinya nggak penting juga di bahas malam ini, aku juga ngantuk mau tidur!"
"Sorry Ella. Aku lagi nggak bisa berfikir, aku nggak fokus terlalu banyak kejadian yang begitu tak terduga di hadapanku."
"Aku dan Ismi nggak mau menambah beban fikiran Mbak Retno, tapi setidaknya ingin meringankan beban, seandainya ada yang bisa kami bantu. Hati kami ikut senang kalau melihat Mbak Retno senang, tapi hati kami ikut murung melihat Mbak Retno sedih dan tak bahagia."
"Bukankah saat ini yang mbak Retno tunggu bertahun-tahun tahun khabar Mas Prabu? dan kalian masih sama-sama saling cinta?"
Ismi menambahkan ucapannya yang membuat Retno terdiam.
"Aku hanya kasih tahu saja, dan maaf telah berani mendaftarkan Mbak Retno di turnamen bulu tangkis di nomor single putri perwakilan anak- anak KKN."
"Apa? nggak, nggak sepertinya aku nggak begitu siap."
"Iya Mbak, tapi tadi itu seandainya Mbak Retno ingin balas sakit hati ya sportif saja di lapangan, karena salah satu kandidat langganan juara single putri adalah suster kepala Miranti,g empur aja pokoknya."
__ADS_1
"Tahu nggak Mbak Retno? yang selalu menjadi juara satu itu Mas Prabu mu, keren banget deh pokoknya kalau sama Mbak Retno juga juara bisa kawin, eeeeh...maksudnya mengawinkan pialanya."
"Itu aku nggak heran, dari dulu juga dia bintang lapangan, wajar saja sekarang masih mahir."
"Jadi Mbak Retno ikut turnamen itu dan nggak marah lagi sama kita?"
"Aku ikut."
"Horeeeeee..."
"Gitu dong."
"Pokoknya aku doakan deh, hubungan kalian semakin lancar."
Retno senyum saja melihat tingkah polah sahabat-sahabatnya yang dengan suka rela membantu dirinya tanpa beban apapun, bahkan lagi sakit kemarin Ella mencuci jaket dirinya segala dan Retno mendapatkan jaket almamater nya sudah wangi tergantung di kamarnya, walau kadang Retno di bikin pusing dengan serba ingin tahu segala urusannya, selebihnya mereka semua tulus berbagi dan membantu.
"Apa kalian sudah tahu satu gossip lagi belum?" sekalian saja Retno kali kali jadi ikutan ber-gossip ria.
"Tahu kan dr Imam SpOG yang jadi sahabat gue, tapi akhirnya gue agak benci sama dia karena bersekongkol dengan Mas Prabu ngerjain gue waktu itu, itu ternyata pacarnya adik Mas Prabu sendiri Intan yang lagi liburan di sini."
"Oh alah... kita kalah saing lagi Ismi, hilang sudah harapan kita."
"Haaaa..."
"Emang lo lagi pada bersaing?" Retno merasa lucu dengan jawaban Ella.
"Nggak juga Mbak, tapi setidaknya kita berharap biar bisa mengakhiri masa-masa sendiri kita, makanya kita senang banget Mbak Retno bisa berdamai dan menjalin hubungan baik lagi dengan Pak Prabu, siapa tahu Pak Prabu baik juga sama kita mengarahkan dokter-dokter yang masih jomblo ke hadapan kita."
"Haaa..." Ismi ketawa duluan dan Retno hanya senyum-senyum saja.
__ADS_1
"Kalau itu gue nggak bisa bantu kalian kayaknya, itu mah harus minta bantuan biro jodoh dan dukun." Retno malah menimpali dengan bercanda.
"Yah kan biro jodoh sudah nggak mempan aplikasinya sudah banyak di ponsel si Ismi tapi yang nyangkut malah nggak ada, ujung ujungnya kita berdua di eliminasi dan di suruh ikutan di musim selanjutnya."
"Haaa..."
"Kalau begitu ntar gue fikirkan lagi cara cari jodoh buat kalian, sepertinya harus ada yang di perbaiki, apa dandanan lo lo pada yang kurang maksimal atau percaya diri kalian yang kurang kelihatan?"
"Si Ismi tiap hari rambutnya di catok melulu Mbak, tapi kalau ujung-ujungnya pakai hijab ya nggak kelihatan, terus gue di kamar mandi paling lama karena luluran dan paling takut dengan matahari, pakai parfum banyak banyak malah boros, sama aja dandan maksimal juga hasilnya belum kelihatan."
"Haaa..."
"Kalau begitu nanti minta di jodohkan sama emak-emak di group arisan bulanan biasanya insting dan power emak-emak nggak meleset."
"Wah malah jadi biang gossip empuk kita nantinya, sekolah tinggi-tinggi ijazah nggak bisa buat cari jodoh, sedang yang emak harapkan bukan ijazahnya tapi jodohnya."
"Emak lo tuh yang begitu" Ismi menunjuk Ella sambil tertawa dan mereka tertawa bareng bareng.
Dr Prabu yang lagi keliling tertegun mendengar kamar Retno masih kedengaran tertawa tawa dan senyum sendiri dasar cewek-cewek sukanya ber-gossip saja bukannya tidur, malah malam malam cekikikan. Tapi dalam hatinya dr Prabu bersyukur juga berarti Retno ada diantara mereka dan sudah bisa tertawa.
Kebahagiaan Retno sekarang menjadi yang prioritas dalam hati dr Prabu apapun akan di lakukannya untuk memenangkan hatinya dan mendapatkan kepercayaannya kembali untuk bisa saling mencintai lagi, betapa tidak mengingat semua perjalanan Retno juga dirinya sampai pada saat ini begitu sangat panjang, tak terhitung lelah dalam ketidakpastian Retno akan cintanya menguras perasaan juga pastinya airmatanya.
Muka cemberut dan judes juga marah karena cemburu Retno begitu kelihatan bikin geli dr Prabu, walau saat di tanya tak mengaku kalau dirinya cemburu, senang rasanya dr Prabu mengingat saat itu, rasa cemburu Retno berarti begitu besarnya juga rasa cinta pada dirinya.
Di hitung-hitung sudah berapa hari dan malam dirinya tidak pulang ke rumahnya seperti malam ini juga nggak akan pulang tidur di kantornya dan paginya ingin mengantar dan memastikan Retno naik bus seperti hari-hari sebelumnya, kalau saja tak punya tanggung jawab akan pekerjaan ingin rasanya mengantar jemput dan bisa bersama-sama lagi dalam perjalanan.
Kebahagiaan dirinya sekarang hanya ingin melihat Retno tak membencinya dan tak marah marah lagi, sampai-sampai mengesampingkan perasaan Intan adiknya yang lagi liburan di sini, hingga Intan mencari teman sendiri dan mungkin mereka nyambung dengan dr Imam SpOG, bahkan kelihatan ada hubungan pribadi segala, biarlah mereka saling menjajaki dan saling mencari kecocokan, walau sampai saat ini belum ada kata kata apapun dari Intan atau dr Imam SpOG sendiri.
Dr Prabu masuk lagi ke ruangannya waktu sudah menunjukkan pukul 11.01 rasa kantuk mulai menyerangnya dan mencoba membaringkan tubuhnya di ranjang single sekedar untuk beristirahat dari kepenatan dan tak lupa menghidupkan alarm di dekat kupingnya.
__ADS_1
Pimpinan yang sangat aneh, punya rumah mentereng dan besar tidur malah di kantor, tempat tidur di rumahnya begitu empuk dan besar malah memilih single bad yang hanya seperti di ruang perawatan, tapi semua begitu nikmat di jalaninya terlebih ada satu hati yang di jaganya dengan hati-hati, hati Retno yang tak ingin terluka juga kecewa lagi oleh dirinya.
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝