Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Menunggu


__ADS_3

"Assalamualaikum...Bi, Mang Min!"


tok, tok, tok....


Bi Iyah yang lagi asyik ngobrol sama Pak Min membahas segala sesuatu tentang diri mereka tentang majikannya, tentang rumah ini, yang serasa milik mereka karena penghuninya tidak ada satupun yang menetap di rumah ini.


"Waalaikum salaam, Astaghfirullahaladzim maaf tadi nggak kedengaran, Bu dokter sudah pulang?"


"Iya, Bi. Aku sudah selesai tugas akhir kuliahnya." Retno mengalihkan bicaranya ke arah yang mungkin bisa membuat hati Bi Iyah dan Pak Min tenang.


Berusaha menyembunyikan masalah rumahtangganya, tahu tidak tahu mereka Retno berpikir bukan sesuatu yang harus di bahas dengan siapapun.


"Tapi Pak dokter juga belum pulang Bu, sudah lama."


"Saya tahu Bi, biarin suamiku selesaikan dulu tugasnya, nanti juga pulang kalau sudah saatnya."


"Iya, iya Bu."


Bi Iyah mengambil tas jinjing di tangan Retno dan menyimpannya di sofa ruang keluarga.


"Bu dokter duduk saja dulu mungkin capek, biar Bibi bikin minuman dulu. Mau minum apa mau yang manis atau yang dingin?"


" Makasih Bi, teh manis hangat aja Bi, sepertinya aku lemes biar mengembalikan tenaga lagi."


"Baik, Bu." Bi Iyah bergegas ke belakang.


Retno duduk di sofa, benar seperti yang Mas Prabu katakan, semua di dalam rumah ini begitu mengingatkan akan orang yang kita cintai, yang pernah bersama-sama mengukir melewati hari indah mereka.


Pertama kali Retno masuk rumah ini dan mereka berciuman di sofa ini, juga Retno pernah tidur semalaman di sofa ini karena dirinya takut dalam ruangan sendiri, Mas Prabu juga akhirnya tidur sambil duduk di sampingnya menemani. Kalau harus berdua dalam satu kamar nggak mungkin, mereka saat itu belum sah menjadi suami istri.


Bi Iyah datang dengan satu gelas besar teh manis, Retno langsung meneguknya seperti haus banget.


Retno memandang sekeliling rumah di lantai dasar, semua tampak bersih dan rapi pada tempatnya.


"Bi, apa kamarku nggak di kunci?"


"Enggak Bu, dari dulu juga nggak pernah di kunci, soalnya kalau di kunci nggak bisa di bersihkan."


"Aku ke kamar dulu ya Bi."


"Iya Bu, silahkan"


Bi Iyah memandang punggung majikannya, istri Pak dokter yang mulai menaiki tangga.


Retno menghela nafas lega, dan berjalan ke lantai dua kamar pribadinya yang baru dua malam dirinya tinggali, malam resepsi dan malam sesudah resepsi.


Retno membuka pintu, seprainya sudah ganti, semua tampak rapi baju tidurnya tergantung di cantolan baju. Retno membuka kamar mandi yang kering tak ada yang menggunakan lalu menutupnya kembali.

__ADS_1


Duduk sendiri di sisi tempat tidur yang pernah di isinya dengan penuh cinta dan amarah. Retno bangkit mengusap seprai licin dan menyimpan tas selempang nya di cantolan baju.


Retno memandang keluar membuka gorden, di situ terakhir Retno bertanya, berantem hingga Mas Prabu membanting ponselnya sampai remuk dan akhirnya Retno pergi saat emosi memuncak tak lagi bisa di bendung nya.


Lagi memandang keluar, Retno di kagetan suara Bi Iyah yang bicara di tujukan pada dirinya.


"Bu, apa Ibu mau makan? nanti saya siapkan."


"Hemght ... ada makanan apa Bi?"


"Bu dokter, maunya apa?" Bi Iyah. balik tanya pada Retno.


"Aku pengennya makan yang pedes-pedes Bi, berkuah hangat, ya ampun jadi ngeces begini Bi lihat tuh air liurku sampai netes, heee...."


"Boleh, Bibi masak soto ayam kampung itu. Ayam piaraan Pak Min di belakang sudah gede-gede, pantesan Pak Min mau motong ayam tadi pagi tahunya Bu dokter mau pulang."


"Ya sudah, kita makan bareng nanti aku mandi dulu ya Bi."


"Iya, Bu." Bi Iyah turun kembali sambil tersenyum dengan senangnya.


Retno mandi, berendam dengan santainya, merefresh seluruh tubuh dan pikirannya sampai puas dan mendapatkan dirinya dalam kesegaran.


Selesai mandi Retno mengeringkan tubuhnya dengan handuk, berkaca masih di dalam kamar mandi, mengusap perutnya yang masih rata.


Sayang, Mama belum kasih tahu Mbah mu di Pekalongan sana, pasti mereka bahagia akan ada keluarga baru dan cucu pertama bagi mereka.


Tapi pada akhirnya kamu lahir nanti, semoga lancar di manapun kamu lahir.


Retno keluar kamar mandi dan mengeringkan tubuh dan rambutnya, memakai baju rumahan dan perutnya terasa lapar.


Retno berjalan ke ruang makan.


"Bi! Bi Iyah! kita makan yuk."


"Bibi udah sama Pak Min tadi pas matang, karena lapar Bu, silahkan Bu dokter sini Bibi temani." Bi Iyah datang dari pintu samping rumah.


"Jadi, aku makan sendiri nih?"


"Nggak apa-apa, makan yang banyak Bu dokter kelihatan agak kurus." Bi Iyah membukakan tutup saji dan melihat Retno meracik sendiri soto yang di inginkan nya sebelum di seduh dengan kuah dari panci di atas kompor dengan nyala kecil.


"Wah ada perkedel juga, ini sambalnya Bi?" Kelihatan Retno sangat antusias dan mungkin selera banget.


"Bibi makan cuma berdua Bu, itu perkedel kemarin tapi di simpan di kulkas kalau mau makan baru Bibi goreng."


Bi Iyah duduk di tangga sambil memandang dan mengamati Bu dokter majikannya, yang mulai mencicipi hidangan pasakan nya.


"Bi, sini duduknya aku mau cerita, tapi sambil makan ya?" Retno menarik satu kursi di sebelah kanannya yang hanya empat kursi makan saja.

__ADS_1


Bi Iyah beranjak menarik lagi kursi itu agak jauh, lalu duduk di situ.


"Hemght ... Enak banget Bi sotonya, Pak Min kemana Bi?"


"Lagi bersihin kebun belakang katanya mau tanam talas, lanjut kasih makan ayam-ayam paling."


"Bi, sebentar lagi bibi bakal repot, dan di rumah ini bakal rame, Bibi tahu maksudku?" Retno memandang wajah Bi Iyah yang sedang memandanginya.


"Jadi yang Bu dokter maksud, Ibu hamil?" Bi Iyah benar-benar kelihatan gembira.


"Iya Bi aku hamil, mau punya anak, dari kemarin aku masih mual-mual nggak selera makan. Tapi pulang ke rumah jadi lapar, nih ini juga aku mau nambah lihat." Retno meracik lagi sohun, kol, tomat dan pelengkap lainnya dan meminta Bi Iyah menyeduhnya lagi.


"Alhamdulillah Bu dokter, Bibi senang banget, sini Bibi ambilkan lagi nasinya."


"Nggak usah Bi, kali ini mau aku gado aja."


"Bu dokter sudah periksa?"


"Sudah Bi, sekarang masuk minggu ke enam, do'ain Bi biar yang di kandung dan mengandungnya sama-sama sehat."


"Aamiin Bu, berarti Bu dokter nggak pergi pergi lagi sekarang?"


"Nggak Bi, kuliahku sudah tamat tinggal nunggu wisuda, kerja juga untuk sementara udah mengundurkan diri. Aku mau total dengan kehamilan ini."


"Syukurlah, Bu dokter jangan capek-capek dulu, biarin kerjaan ada Bibi ini, Bibi senang banget apalagi Pak dokter sama Bu dokter." Bi Iyah sudah membayangkan, bisa menimbang anak majikannya yang pasti cantik dan ganteng seperti Mama Papanya.


"Aduh Bi, kenyang banget." Retno bangkit dari kursi makan dan membawa piring dan mangkuk sambil mematikan api di bawah panci.


Tapi Bi Iyah mengambilnya dan mencucikan semuanya.


"Bu dokter minumnya hangat ya, biar mengurangi mual habis makan, biar bibi bikinkan teh hangat mau?"


"Aku bikin sendiri Bi." Retno membuka termos, menuang gelas dan teh lalu mencampur air dingin, lalu membawanya ke depan.


Hari mulai sore dan sebentar lagi senja, Retno duduk di teras rumah dengan gelas hangat di tangan, Apa khabar Mas Prabu? Aku telah menikmati suasana rumah ini, dan aku bersama anakmu habis makan.


Kapan Mas pulang? aku menunggumu di sini, di rumah kita.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir ( Karya baru yang baru beberapa Bab) By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2