
Sampai pagi menjelang, entah berapa babak yang mereka lewati. Seakan tak ada kata puas bagi keduanya ingin memberikan sesuatu yang berharga bagi suaminya, dan dirinya pun ingin merasakan bagaimana nikmatnya bulan madu bersama orang yang dicintainya, melepaskan semua beban rasa di hatinya.
Walaupun diakui Retno ini mungkin akan menjadi malam terakhirnya. Ya malam terakhir! Akan seperti apa rumah tangga kedepannya Retno tidak tahu, dirinya akan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sepertinya begitu rumit untuk dijalani dan diterima dengan kelapangan hati.
Mereka sama-sama ingin memberikan satu malam yang sangat indah buat suaminya, seperti juga Retbo karena ini adalah pernikahannya ini adalah bulan madunya. Aku harus merasakannya, aku harus menikmatinya karena aku dan Mas Prabu adalah suami istri.
Puas hati Retno memberikan pelayanan pada suaminya, sampai subuh lepas berkumandang badannya terasa ngilu ngilu tetapi Retno masih merasa ingin melayani suaminya, seandainya bangun dari tidurnya. Yang baru saja pulas karena tepar mabuk pengantin baru.
Retno memandang wajah ganteng, simpatik dan gagah suaminya, wajah yang sulit di lupakan, berkali-kali dalam semalam memperlihatkan kegagahannya dengan tanpa bosan Retno siap di gempur. Retno tersenyum menatapnya juga memang tak bosan.
Saat Retno turun Mas Prabu tetap tak bergeming, tetap lelap dengan tarikan nafas yang teratur dengan di tutupi selimut sedada.
Retno masuk kamar mandi dan merefresh tubuhnya di bawah shower, menikmati sentuhan air yang memancar turun dari lubang titik-titik shower menerpa tubuh Retno yang begitu lelah dan sangat kecapaian.
Terasa segar kini tubuh Retno, sambil mengeringkan rambutnya menggosok dengan handuk dan dengan memakai kimono mandi Retno keluar kamar mandi. Mas Prabu masih tertidur dalam posisinya yang seperti tadi.
Retno turun dengan membawa dua gelas bekas jamu, dan berjalan ke arah dapur.
"Bu dokter sudah bangun, mau Bibi bikinkan minum?"
"Saya suster Bi, bukan dokter heee...nggak usah Bi nanti saja Mas Prabu juga belum bangun."
"Sama saja Bu, kan nama suaminya nanti yang akan menjadi panggilan semua orang."
Retno tersenyum saja mendengar jawaban Bin Iyah.
"Bi, Ibu sama Bapak mertuaku sudah pada bangun?"
"Sudah pada di depan Bu, ikut beres beres tenda sama bekas pelaminan, tadi bibi juga ngumpulin bunga-bunganya masih wangi sayang banget kalau dibuang. Tapi kata Ibu mertua buat apa jadi sampah semuanya."
"Kalau intan sudah bangun juga?"
"Belum Bu, itu dua-duanya sama-sama susah kalau harus bangun pagi."
Retno berjalan ke arah depan mungkin tujuannya ingin memamerkan rambut basahnya kepada semua orang yang ada di rumah itu, kalau dirinya telah menjadi seorang istri yang baik.
Bagi sebagian orang mungkin itu akan menjadi tabu dan sangat malu, seorang pengantin berambut basah nggak di tutupi keluar kamar, tapi bagi Retno tidak masalah, karena telah melakukan kewajiban sebagai seorang istri.
Pak Min mengumpulkan gelas plastik bekas di karung gede, Bapak mertuanya membereskan kursi kursi dan Ibu mertuanya menyapu halaman, pagi-pagi tampak sibuk.
Padahal biarkan saja toh semua nanti ada petugasnya yang akan membereskannya kembali. Tapi bagi orangtua dr Prabu yang biasa berkegiatan tak enak melihat semua berantakan.
Retno bingung apa yang harus di lakukannya, suaminya masih tidur, di dapur sudah beres ada Bi Iyah, di ruangan bawah kelihatan sudah beres, mungkin di ruangan atas masih perlu ada yang di bereskannya.
__ADS_1
Retno naik lagi, melihat sekeliling ruangan yang belum semua diinjaknya, membuka gorden dan pintu balkon depan.
Ada dua kamar di atas, dan satu kamar utama yang di tempati nya bersama suaminya, satu pasang sofa ruangan nonton, lemari Buffett hiasan piala dan cederamata dan oleh-oleh, lemari rak buku-buku seperti perpustakaan mini, lanjut ke depan kursi teras satu pasang dengan mejanya.
Retno menyapu alakadarnya tapi baru mulai pintu kamarnya terbuka, Mas Prabu berdiri mengucek matanya sambil menghampirinya.
Mengambil sapu di tangan Retno dan menuntunnya kembali ke kamarnya.
"Apa yang kamu lakukan sayang?"
"Aku hanya melihat-lihat dan buka-buka gorden membereskan yang berantakan."
"Ssssst...nggak usah nanti saja, aku nggak mau istriku melakukan apapun selain mengurusku, kan ada Bi Iyah."
"Mas, aku bukan mengerjakan semuanya, tapi hanya nggak enak aja diam nggak ada kerjaan sementara Ibu, Bapak pada sibuk beres beres, lagian aku hanya melihat mereka."
"Mereka mengerti kita butuh waktu buat istirahat, mandi yuk!"
"Aku sudah duluan, Mas saja yang mandi."
"Kok kita nggak mandi bareng?"
"Siapa suruh bangunnya siang, sana mandi biar segar kembali biar aku rapihkan tempat tidurnya."
Suaminya keluar kamar mandi dengan hanya tubuh di lilit handuk membuat dada Retno berdebar dan Retno menghindari pandangan itu dengan membuka jendela kaca dengan pandangan view luar yang begitu segar.
Retno membiarkan suaminya berpakaian santai rumahan, dengan mengenakan kaos oblong dan Bermuda, menyisir di meja rias.
"Kamu sudah ke bawah sayang?"
"Sudah, cuma aku nggak enak semua pada sibuk."
"Ibu Bapak mau pulang jam berapa ya?"
"Aku nggak tahu, katanya mau diantar dr Imam."
"Yuk turun, sepertinya terimakasih kita paling banyak pada dr Imam heee..."
"Mas mau minum apa?"
"Sepertinya jamu yang paling cocok."
"Ish... sudah lewat."
__ADS_1
Mereka turun dan duduk di ruang keluarga, Ibu mertuanya masuk dan iku duduk di hadapan Retno dan dr Prabu anaknya.
"Karena Ibu sama Bapak juga yang lainnya banyak kesibukan maaf nggak sampai tuntas ikut beres beresnya, tapi sudah Ibu sama Bapak bantuin yang bisa dikerjakan. Biar tidak terlalu merepotkan buat Pak Min dan juga Bi Iyah."
"Nggak apa-apa Bu tidak akan beres sekaligus mungkin sekarang dari EO yang akan membereskan barang-barang dan properti punya dia, jangan terlalu jadi beban biarin saja ada petugasnya masing-masing."
"Iya tapi Ibu merasa kasihan kepada kalian tidak ada yang bantuin untuk beres-beres di dalam rumah selain Bi Iyah, tapi udah sebagian Ibu bereskan sama Bi Iyah."
"Tinggal tenda saja kan sama peralatan catering, udah itu selesai."
"Iya Bu, nggak apa kita juga maklum."
"Ibu pulang habis Dzuhur Nak Retno, terlalu lama meninggalkan kios juga di pasar Ibu nggak enak, takut langganan Ibu mencari dan ujung-ujungnya kita mungkin tidak bisa menyediakan layanan an kebutuhan mereka."
"Iya Bu, maaf kami telah banyak merepotkan."
"Jangan bilang begitu, itu sudah jadi kewajiban kami sebagai orangtua, semoga kalian panjang berkah jodohnya, diberi kelancaran dalam segala cita-cita dan dimudahkan dalam segala masalah dan urusan kalian. Ibu selalu mendoakan yang terbaik buat kalian jangan terlalu lama datanglah ke Bandung, Jangan seperti kemarin-kemarin sewaktu masih belum menikah sampai Ibu kangen banget ingin bertemu sama anak Ibu."
"Iya Bu, semoga kami punya banyak waktu untuk bisa selalu berkunjung dan insya Allah disela-sela kesibukan kami akan kami sempatkan."
"Saling ingatkan dalam salah dan lengah, juga saling memuji kebaikan kalian masing-masing, walaupun itu sudah jadi kewajiban kalian saling melindungi dan berbagi dalam segala suka duka."
Hati Retno terasa sakit, setelah mengucapkan kata-kata itu, bagaimanapun semua orang tua berharap rumah tangga anaknya baik-baik saja, sesungguhnya pada kenyataannya tidak mungkin semua itu begitu mudah terwujud.
Di tengah permasalahan yang belum Retno buka kejelasannya.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya π€¦πππ
Hai, readers tercinta! habis baca
"Biarkan Aku Memilih"Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, MENITI PELANGI
By Enis Sudrajat juga, baca, like,
vote dan beri hadiah ya!
Slow ya, karena Author punya on going dua boleh baca dua-duanya di jamin melelehπ©ββ€οΈβπβπ¨π
__ADS_1