Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Membantu mencari solusi


__ADS_3

Akhirnya dr Imam pamitan, di tawari nginep sepertinya dia nggak mau lebih milih pulang, yang terpenting dirinya sudah memberitahukan masalah yang sebenarnya pada sahabatnya dr Prabu.


Berterus terang apa adanya, berharap ada sumbangan solusi dari siapa saja yang dianggap lebih baik.


Dr Prabu sama Retno mengantar dr Imam sampai keluar pagar lalu mereka menguncikan kembali pagar dan masuk ke dalam rumah. Mengunci pintu dan mematikan lampu ruang tamu.


"Mas, sebenarnya masalah apa? Aku melihatnya seperti serius amat sih, Intan ngambek bener?" tanya Retno sambil bersandar di lengan suaminya.


"Besok aja kita bahas, sekarang sudah malam kita bobo aja, kamu kelihatan lelah banget." Dr Prabu mencium kepala Retno.


Retno diam berharap sedikit ada diskusi karena Intan sejak masuk kamar tak keluar lagi.


Mereka berjalan menaiki tangga dengan perlahan dan tangan saling melingkar di pinggang, dr Prabu membuka t-shirt nya dan hanya mengenakan kaos dalam saja begitu setiap mau tidur. Retno membersihkan mukanya duduk di meja rias di samping tempat tidurnya.


"Mas!"

__ADS_1


"Hemght..."


"Dari omongan dr Imam Aku menangkap kalau dr Imam di jodohkan begitu? sehingga orangtuanya tak memberi sikap baik pada Intan?" tanya Retno sambil mengamati mukanya depan cermin.


"Iya, Sayang, Tapi itu kesalahan dr Imam sendiri yang selalu membawa perempuan mengenalkannya pada orangtuannya tapi tak ada yang serius sehingga menimbulkan trauma bagi kedua orang tuanya sebenarnya niatnya baik cuman mungkin cara menyampaikannya yang tidak pas, saat seorang dr Imam ingin serius saat orang tuanya telah capek menunggu. Di situ masalahnya." jawab dr Prabu santai tapi kelihatan berpikir.


"Kenapa jadi pada Intan bersikap kurang baik orang tuanya? seharusnya kan tidak seperti itu seandainya ada penolakan juga? bicara pada anaknya sendiri."


"Iya itu pemikiran kita, cuma pemikiran orang tuanya dr Imam dan lain lagi, dr Imam kelihatan bingung lusa katanya calon yang disodorkan orang tuanya akan berkunjung bersama keluarganya ke sini, dr Iman di harapan ada di rumah orang tuanya mungkin mengancam atau sebuah ultimatum, atau teguran keras, begitulah ditambah Intan yang ngambek bahkan meminta putus katanya," ucap dr Prabu lagi.


"Ya ampuuuuun, kok Intan segitunya?"


"Mas tadi memberikan saran apa pada dr Imam?"


"Sebenarnya sangat sederhana hadapi dan ikuti saja dulu keinginan orangtua, semua bisa aja didiskusikan nanti. Yang akan datang biarlah datang apalagi itu masih ada kaitan saudara masalah kecocokan bisa dibicarakan sama orangnya nanti, kalau memang tidak cocok kenapa memaksakan diri atau pada akhirnya bukan kenyamanan yang didapatkan karena pernikahan bukan hanya di jalan sesaat tapi selama sisa umur kita."

__ADS_1


Retno diam bijaksana juga pendapat suaminya.


"Adapun Aku akan membantu bicara secara pelan pada Intan, walau tidak mudah juga memasukkan paham pengertian pada orang yang lagi ngambek merasa dirinya tidak dihargai sudah jauh-jauh menyempatkan diri datang ke sini ingin bertemu calon mertua, pada kenyataannya Intan merasa diabaikan dan merasa tidak diakui pokoknya pasti marah pada kenyataan, pada orang tua mungkin juga pada dr Imam sendiri karena menurut Intan dia tidak diberitahu sebelumnya sehingga orang tuanya akan seperti itu intinya seperti itu."


"Ribet juga ya Mas?"


"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, kalau memang ada solusinya mungkin akan sampai pada titik gimana permasalahan itu selesai, dan kalau memang semua tidak terselesaikan Aku tidak tahu yang pasti Aku akan merasa bersalah kalau sampai tidak merekatkan kembali hubungan Intan sama dokter Imam."


.


.


.


.

__ADS_1


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️



__ADS_2