
Paginya...
Rendra membangunkan Alya yang masih memeluknya dan Rendra langsung meminta maaf, Rendra membelai rambut Alya yang masih belum mengenakan pakaian.
"Maafkan Aku Al, Aku kasar banget semalam Aku emosi. Karena dengan cara lembut Kamu malah seenaknya saja melakukan apapun yang Kamu mau," ucap Rendra di telinga Alya.
Alya diam saja. Rendra tahu Alya sudah melek tapi karena malas saja bangun, itu jadi kebiasaannya tiap pagi.
Sekali lagi Rendra minta maaf sambil mencium leher di bawah telinganya, Alya malah memeluk Rendra karena merasa geli.
"Bangun yuk, nanti Bapakmu ceramah lagi pagi ini kelihatan Kita sarapan telat lagi nanti!"
"Aku nggak mau bangun!"
"Kenapa?"
"Males!"
"Selalu saja itu ucapanmu."
"Aku mau tidur!"
"Kan ini baru bangun?"
"Mau tidur sama Mas!"
"Maksudmu apa? Aku harus ke kantor nanti sore Aku jemput lalu jalan-jalan mau ke mana?"
"Pokoknya Aku mau di tempat tidur bersama Mas!"
"Alya Sayang, Mas mau ke kantor ada rapat penting hari ini, kalau mau tidur lagi nggak apa-apa tapi Mas bangun ya?"
"Nggak!"
Alya membuka mata dan mengusap pipi Rendra suaminya dan tangan satunya menyasar perut bagian bawahnya berhenti di situ. Rendra yang mengerti tersenyum sambil mengecup bibir Alya dan membiarkan istrinya mengelus sesuatu di bawah sana dengan tangan nakalnya.
"Kamu mau nambah yang semalam hemght?"
"Bukankan Mas mau Anak? Aku sudah membuka kontrasepsi itu tolong sampaikan pada Bapak juga Ibu!"
"Hahaha...baik kalau begitu mulai malam tadi Kita mulai program Anak, tapi sebentar saja ya nanti Aku kesiangan ke kantornya."
__ADS_1
"Nggak mau, hari ini Mas nggak boleh ke kantor! pokoknya Aku ingin segera program Anaknya terealisasi!"
"Lho, jadi gimana?"
"Izin!
"Izin sama siapa? Aku pimpinannya di kantor!"
"Izin sama Bapakku, kalau Mas hari ini ingin memuaskan Aku!"
"Al, serius gimana Aku jadi nggak ke kantor dong?"
"Bisa kan?"
"B-bisa sih demi Kamu." ucap Rendra merasa tak percaya kalau Alya memintanya dan itu baru pertama selama pernikahannya di lakukannya Alya dengan meminta dirinya tak masuk Kantor.
"Aku ingin yang seperti semalam," ucap Alya dengan sorot muka pasrah dan menanti yang diinginkannya.
"Baik Sayang, mau berapa kali hari ini pasti Aku berikan, deal Aku nggak ke kantor hari ini."
Alya tersenyum sambil menarik tangan Rendra untuk memeluknya.
Rendra merasa baru kali ini memiliki Alya sepenuhnya, setelah tahu dari kemarin Dirinya merasa emosi saat tahu Alya menggunakan kontrasepsi dan saat di buka ada sedikit keluhan pendarahan tapi Alya mengelak itu haid katanya, tapi Rendra bukan orang bodoh bukankah datang bulan Alya baru selesai?
"Mas, Aku minta maaf ya atas semua perbuatanku itu, Aku kini sadar telah begitu banyak dosa yang Aku lakukan Aku merasa banyak berbohong juga pada diri sendiri hanya mengikuti kata hati yang sebenarnya semua itu hanya harapan semu, sedang di hadapanku suamiku sendiri tak pernah Aku nikmati keberadaannya, jiwa ragaku sibuk dengan obsesi yang di luar batas, Kini Aku capek sendiri Aku terima salah juga kata-kata Bapakku begitu menampar dan menyadarkan ku semalam," ucap Alya sambil mengusap usap rambut Rendra di dadanya.
"Semua belum terlambat Al, Kita semua pernah salah tetapi yang paling baik adalah yang menyadari kesalahan dan memperbaikinya Aku juga sebagai suami terlalu sibuk sehingga Aku jarang memberi kamu kepuasan dalam kebersamaan juga dalam hubungan pribadi suami istri."
"Antar Aku ke rumah sakit itu Mas. Aku akan membatalkan semua kerjasama karena Yayasan yang mau di dirikan Bapakku itu terlalu dipaksakan dan memang Aku juga nggak ada waktu untuk mengurusnya cafe sama bakery juga sudah begitu menyita waktuku."
"Baik, tapi sekarang Kita bangun ya mungkin orangtuamu sudah pada pergi lihat tuh sudah jam delapan," ucap Rendra sambil mencari pakaiannya yang terlempar entah ke mana.
Alya sama Rendra keluar kamar dengan rambut basah kelihatan segar sehabis membersihkan diri. Mereka merasakan lapar dan membuka meja makan dan langsung duduk menikmati nasi goreng yang sudah tersedia dan teh hangat yang Alya bikin. Ternyata Pak Sofyan Wijaya juga belum berangkat ke Kantor, mobilnya masih ada di halaman mereka lagi duduk duduk di teras bersama Ibu Sofyan Wijaya.
"Al, ajak dulu makan orangtuamu takutnya mereka belum makan Kita merasa tidak sopan mendahului seandainya mereka belum sarapan."
"Iya Mas," Alya bangkit menuju ke teras dan berbasa-basi dengan kedua orang tuanya. Terlihat kedua orang tuanya mengikuti Alya masuk karena mungkin mereka juga belum sarapan.
"Lho, Nak Rendra belum siap-siap ke Kantor itu?" tanya Ibu Sofyan Wijaya sambil menatap menantunya karena tak seperti biasa Rendra selalu disiplin mengatur waktu semua serba teratur tak pernah melihat sekalipun Rendra absen atau kesiangan karena semuanya sudah terjadwal dengan penuh kedisiplinan.
"Kesiangan Bu, jadi absen saja hari ini. Lagian Alya mau jalan jalan katanya apa salahnya nyenengin istri sekali-kali."
__ADS_1
"Begitu sempitnya waktu pertemuan kalian? sehingga untuk jalan-jalan saja mesti harus absen segala, emang mau ke mana?"
"Enggak kok Pak Kami bisa mengatur waktu sehingga kualitas yang Kami perhatikan, hari ini saja katanya Alya mau cek kesehatan ke klinik itu saja."
"Oh, Baguslah kalau begitu. Bapak juga dulu seperti itu saat Ibu masih bekerja dan Bapak lagi menata karir di awal-awal selalu saja bisa mengatur waktu yang sebenarnya bukan tidak ada waktu tetapi Kita yang tidak mengusahakan."
Tak ada lagi pembahasan apapun di meja makan itu semua bicara dengan sorot mata cerah apalagi Ibu Sofyan Wijaya merasa bersyukur dengan perubahan yang diperlihatkan putrinya mungkin Rendra begitu mengerti apa yang disampaikan Bapaknya Alya semalam mungkin telah mengambil peranan penting dan memberikan pengertian sehingga Alya bisa mengerti.
Tapi masalah kesiangan dan absennya Rendra tidak masuk kantor memang ada sedikit pertanyaan tetapi semua itu terhapus karena terlihat dari keakraban mereka yang membuat hati orang tua menjadi tenang.
Bangun kesiangan lalu lapar suami istri jangan merasa heran pasti kalau habis berpisah karena bepergian atau habis bertengkar berselisih paham akan seperti itu merasa saling kangen dan membutuhkan satu sama lain.
Ibu Sofyan Wijaya tersenyum saat Alya juga Rendra bangkit dari meja makan menuju kamar sambil Rendra merengkuh bahu Alya.
Semua tidak begitu mencemaskan, ternyata omongan suaminya semalam begitu mengena di hari Anak dan menantunya. Kelihatan Rendra telah mengambil alih peranan sebagai suami yang seharusnya.
"Mas, Aku mau mencoba mengenakan kerudung mulai hari ini, boleh ya?" ucap Alya sambil memilih pakaian di lemari.
Rendra tertegun dan melirik istrinya merasa tak percaya apa yang di ucapkan Alya barusan.
"Masyaallah Sayang, begitu ingin Aku melihat Kamu berhijab dan sudah datang kesadaran dari hatimu sendiri semoga semua di berikan kemudahan Sayang. Aku suamimu begitu mendukung demikian itu bangga mari kita hijrah dari keburukan menuju ke arah yang lebih baik."
Rendra merasa tak percaya melihat Alya istrinya mengenakan hijab dengan anggunnya, dengan sepenuh perasaannya Rendra memeluk Alya yang begitu wangi.
"Udah dong Mas peluknya nanti kusut lagi, nggak malu-maluin kan Mas untuk pemula kayak Aku ini?"
"Nggak, Kamu tambah cantik tambah memperlihatkan sorot begitu anggun dan maaf Aku bukan cowok romantis yang bisa mengeluarkan kata-kata puitis untuk menggambarkan kata pujian sanjungan dan kekaguman padamu Sayang."
"Tapi serasi nggak kerudung sama pakaiannya?"
"Maksimal Sayang, sekarang Kita ke butik cari semua perlengkapan dan aksesoris yang menunjang penampilan barumu Sayang."
"Makasih Mas."
Rendra memandang takjub pada istrinya dengan perasaan yang menghangat di sertai rasa syukur atas semua perubahan ini. Semoga mulai kini adalah titik awal rumah tangga yang sebenarnya yang dirinya miliki.
.
.
.
__ADS_1
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️