
Sore harinya saat pergantian sif absensi mulai berlaku, semua anak anak mahasiswa telah mengambil bagian dan mulai beraktifitas, pada dasarnya Retno tak memerlukan adaptasi lagi karena kesehariannya juga bekerja sebagai perawat dan asisten pribadi suster kepala bagian kebidanan di rumah sakit Bandung Medical Center tempatnya bekerja.Tapi ini tempat baru yang beda semua management dan kebijakan pimpinannya dirinya harus menyesuaikan lagi semua apa yang menjadi tugasnya di sini untuk mencapai nilai tertentu di akhir KKN nya.
"Mbak Retno kunjungan dokter jam tujuh ya? kan dokternya ada banyak dr dalam, dr SpOG, dr mata dan dr anak juga dokter lainnya aku kalau boleh milih mau dokter yang paling ganteng ah." Ismi mulai dengan ocehannya di ruang jaga suster.
"Semua juga kalau boleh milih ya seperti itu Is..." sela Retno.
"Tapi kan mbak Retno sudah punya babang ganteng di Bandung sana Arya Pamungkas...emang yang itu mau di tukar tambah?"
"Haaaaaaaa... emang kambing bapak elo mau di tukar tambah?"
Ella terkekeh sendiri mendengar celoteh temannya.
Lagi asyik-asyiknya bercengkrama menunggu tugas di ruang suster, suster kepala Miranti nongol di pintu.
"Jaket merah hati tolong ke sini, satu orang...itu saja Retno"
"Saya Bu?" Retno menunjuk dadanya sendiri.
"Ya, ayo ikut ke ruangan saya."
Retno keluar dan melewati ruangan pimpinan dan suster kepala Miranti memastikan dr Prabu melihatnya, hatinya berontak dan tak tega tapi tak kuasa apa-apa hanya mengikuti instruksi saja.
"Dek Retno karena pimpinan sekarang lembur tolong bersihkan mejanya ya dan nanti setelah beres beres di ruangannya antar air minum juga ya ambil di bagian dapur makanan."
"Ba-baik Bu..." Retno agak gugup dan tak mengira semua akan di tugaskan pada dirinya, bukankah semua itu adalah tugasnya OB? tak apalah namanya juga lagi KKN semua perintah atasan harus di jalani fikir Retno.
Retno membawa lap kanebo di tempatnya semacam toples yang bisa di buka tutup dan mengetuk pintu ruangan pimpinan, tapi tak ada sahutan atau jawaban lalu Retno masuk dan membuka sendiri pintu celingukan sendiri di ruangan luas harum dan ber-AC.
Tanpa pikir panjang lagi Retno membereskan meja kerja pimpinan rumah sakit ini, orangnya nggak ada mungkin ke mana dulu sebelum nanti masuk lagi untuk lembur menurut suster kepala Miranti seperti itu tadi yang disampaikan kepada dirinya.
Semua tampak berantakan nggak disiplin banget masa kerja sebegini berantakannya? semua serba tak beraturan seperti apa sih pimpinan rumah sakit ini apa sudah pikun atau sakit? fikir Retno, dan ini tak hanya di atas meja saja di lantainya juga banyak serbuk dan kulit jeruk segala atau bawa anak ke kantor? ini semua nggak cukup di lap saja harus sama di sapu dan di pel juga, hadeuuuuuuuh...
Dengan sigap Retno ke belakang samping gudang tempat penyimpanan sapu dan pel dan membersihkan semuanya lalu terakhir mengambil minum di dapur mengisi mug dari galon dan membawanya simpan di sebelah kanan meja pimpinan. dan mengganti yang sudah habis tadi di meja, selesai sudah lumayan agak berkeringat juga.
Retno menutup pintu ruangan itu dan memberitahukan suster kepala Miranti kalau pekerjaannya sudah selesai.
Retno kembali ke ruangan jaga suster tapi tak lama di panggil lagi sama suster kepala Miranti baru saja duduk.
Retno kembali ke ruangan suster kepala Miranti lagi dan suster kepala Miranti seperti tak begitu senang atas pekerjaan yang di lakukan Retno.
__ADS_1
"Suster Retno, sudah bener semua pekerjaan yang saya tugaskan tadi?"
"Sudah Bu, memang kenapa?"
"Kata pimpinan masih ada yang kotor dan ada berkas yang nggak ketemu karena di beresin di atas mejanya."
"Astaghfirullahaladzim, maaf Bu saya tak memindahkannya atau menghilangkannya tapi menumpuknya kembali kertas sama kertas lagi, map sama map lagi ballpoint di tempatnya lagi lalu mengelap mejanya, bahkan saya menyapu dan mengepel nya Bu."
"Coba lihat saja apa maunya pimpinan." dengan rasa tak tega suster kepala Miranti tak melihat wajah Retno, perasaannya nyesek banget atas perlakuan dr Prabu pada Retno.
Dengan langkah berat Retno kembali ke ruangan pimpinan dengan pandangan sedih suster kepala Miranti, maafkan aku Retno, bathin suster kepala Miranti bergumam.
Retno mengetuk lagi pintu itu dengan perasaan tak karuan dan membukanya sendiri lalu ada suara dari dalam.
"Masuk!"
Retno masuk dengan ragu ragu dan langkahnya menjadi lambat setelah melewati pintu.
"Ini suster yang bersihin tadi meja saya?"
"I-Iya Pak eh dok kenapa?"
Retno mendekati meja dr Prabu dan mulai meraba tumpukan kertas.
"Berkas apa yang Bapak maksud biar saya cari, maaf karena saya merasa tadi mejanya berantakan sepertinya nggak jauh dari tumpukan ini."
Dengan tetap duduk di kursinya dan saat Retno mendekat di hadapannya dr Prabu menarik mundur kursinya dengan leluasa menatap wajah di depannya dari balik kacamata coklatnya,dan menyebutkan berkas yang di sebutnya tak ada di mejanya sesaat setelah di bersihkan dan di bereskan oleh Retno.
Retno masih tetap seperti yang dulu ayu cuman kedewasaan lebih dominan di pembawaannya, dengan menikmati getaran hatinya dr Prabu melihat tangan itu mencari beberapa lembar berkas yang di maksudnya.
"Asal dari mana?" dengan nada
datar dr Prabu memecah suasana tegang.
"Pekalongan." Retno datar juga menjawab.
"Kenapa memilih keperawatan?"
Retno menatap sekilas dr Prabu dan tangannya tetap mencari berkas yang di sebutkan tadi.
__ADS_1
"Panggilan hati Pak."
"Kedengarannya sangat idealis."
"Apa yang memilih kedokteran, keperawatan dan kebidanan semua di bilang idealis?"
Retno kelihatan agak kesal orang muda seperti ini kok seperti sudah pikun, masa mencari berkas di depan mata saja memerlukan bantuan orang lain juga nyampah sembarangan.
"Apa ini Pak?" Retno memperlihatkan berkas yang di staples beberapa rangkap dan di satukan, lalu menyodorkan di hadapan dr Prabu.
"Oh iya.betul itu."
"Apa saya boleh permisi?"
"Boleh saya ambilkan lagi air minum?"
Retno mengangguk dan tersenyum lalu mengambil gelas kosong di hadapan dr Prabu, lalu keluar dan tak lama selang satu menit masuk kembali ke ruangan
pimpinan dengan gelas di tangannya.
"Lupa, namanya siapa suster?"
"Nama saya Ajeng Pak."
"Oh iya, silahkan terima kasih." dr Prabu mempersilahkan Retno keluar dengan mengangkat sebelah tangannya ke arah pintu.
Retno keluar dan menutup pintu dengan langkah panjang.
Dr Prabu Seto Wardhana termangu di mejanya, terngiang suara empuk Retno menyebutkan namanya.
"Nama saya Ajeng Pak"
Nama yang hanya dirinya yang boleh memanggil dengan panggilan itu dengan alasan manja saja dan selalu menyatukan nama mereka menjadi "Kangjeng Prabu" begitu indah memang rajutan cinta mereka, dua tahun kebersamaan dan cinta kasih yang dr Prabu dan Retno jalani dulu.
Retno kamu begitu menyiksa perasaanku, memporak porandakan semua pertahanan jiwaku apa kamu masih merasakan getaran ini sepertiku? berkali kali dr Prabu mengusap mukanya yang mulai berjambang dan berkumis lalu membuka kacamatanya menyimpan di saku kemejanya.
_Ayo di komen dong say heee...๐
Tinggalkan jejak dan dukungannya, mohon๐ komen, like, hadiah dan vote nyaโ๏ธ๐
__ADS_1