
"Alya, Ibu mau bicara sama kamu tentang usaha Bapakmu pergi ke Bandung itu, Bapakmu datang ke orangtuanya dr Prabu tapi tak ada reaksi apa-apa. Apa kamu sudah tahu sekarang dr Prabu lagi mempersiapkan pernikahannya?"
"Alya nggak tahu."
"Setidaknya apa pendapatmu?"
"Alya nggak punya pendapat."
"Apa kamu juga nggak punya keinginan dan harapan juga? bagaimana kamu ini? Ibu heran, kamu seperti nggak perduli dengan permasalahan kamu sendiri"
"Apapun yang di inginkan Alya semua pasti salah, Alya telah melakukan kesalahan, jadi tak berhak punya harapan apa-apa lagi, apapun yang Bapak sama Ibu inginkan Alya ikuti, apapun itu terserah!"
Ibu Sofyan Wijaya menatap wajah putrinya lekat-lekat.
"Aku tak ingin apapun Bu, terserah Ibu sama Bapak mau usahain apa buat Alya, Tapi satu yang Alya inginkan menjaga kandungan ini Alya janji akan merawatnya ada suami ataupun tanpa seorang suami."
"Baiklah itu janji kamu menjaga kandungan, artinya harus mengikuti apa yang Ibu sarankan. Bayi dan ibu hamil harus rutin dikontrol dan diperiksa juga asupan vitamin juga nutrisinya jangan lupakan."
"Untuk yang lain-lainnya, Alya nggak perduli."
"Bukan begitu Alya, bicaralah sama Ibu, barangkali ada ide dan jalan yang tak terpikirkan sama orangtuamu."
"Alya nggak mau berharap apapun Bu, karena setiap berharap kalau tidak kesampaian akan berujung dengan kekecewaan, biarlah semua berjalan apa adanya."
"Ya ampuuuuun Alya, kok kamu seakan tidak perduli akan dirimu sendiri, juga calon bakal anakmu yang ada di dalam kandungan itu. Ibu bukan memaksa kamu untuk ikut pada keinginan Ibu sama Bapak, setidaknya kamu berpikir juga apa sebaiknya yang kita lakukan kita hanya keluarga kecil bertiga Bapak Ibu sama kamu."
"Alya benci semuanya!"
"Alya, kok ngomongnya begitu?"
"Pokoknya Alya tak mau memikirkan apapun."
"Alya! kita itu hidup di lingkungan sosial, setidaknya semua akan di ketahui semua orang, tolong jaga nama baik Bapak sama Ibumu apalagi Bapakmu sebagai pejabat daerah apa yang akan mereka gunjing kan?"
Alya diam.
"Sungguh Ibu tak bisa membayangkan omongan orang-orang di sekitar kita, statusmu, kehamilan mu semua akan melekat dalam bibir dan ingatan mereka."
Alya tak sedikitpun menjawab apa yang diucapkan Ibunya, menyudahi sarapannya meninggalkan meja makan dan masuk lagi ke kamarnya menutup pintu rapat-rapat.
__ADS_1
Ibunya terkejut menyadari apa yang telah di ucapkan nya barusan, setidaknya Ibu Sofyan Wijaya mengeluarkan apa yang menjadi unek-uneknya selama ini.
Seharusnya memang tak perlu begitu kasar bersikap pada anaknya Alya mau apa dan seperti apa semua sudah terlanjur terjadi.
Alya seperti marah pada dirinya sendiri, keluar kamar mungkin tanpa mandi dandan alakadarnya melewati Ibunya yang masih membereskan meja makan.
Tertegun melihat Alya seperti marah, melewati dirinya dan pergi tanpa pamit.
Ibu Sofyan Wijaya mengejarnya sampai di pintu, Alya telah memasuki mobilnya dan mulai menstarter mobilnya.
"Alya, Al tunggu, mau kemana? dengarkan Ibu dulu"
Alya tak menggubrisnya terus saja menjalankan mobilnya seakan tak peduli lagi akan teriakan Ibunya, yang memanggil dan berbicara dari luar kaca mobilnya.
"Alya maafkan Ibu, kalau ibu salah bicara, tolong mengerti situasi permasalahan sekarang ini memang lagi rumit. Kalau kamu marah seperti itu kita akan lebih sulit menemukan jalan keluar permasalahan kita."
Alya menjalankan mobilnya, Ibunya berlari kecil sambil memanggil manggil namanya, tapi Alya terlanjur marah dan ngambek terus saja menekan pedal gas nya dan berlalu.
Mobil hilang dari pandangan, jauh terhalang rimbunnya pohon dan bangunan.
Ibu Sofyan Wijaya menghela nafas yang terengah-engah kembali masuk ke rumahnya terhenyak duduk di sofa ruang keluarga.
Semua serba salah dan dilema, di satu sisi Ibu Sofyan Wijaya ingin memasukkan paham kepada anaknya, ingin mengerti kalau kehamilan itu perlu periksa, kehamilan itu perlu orang yang bertanggung jawab, memiliki anak dalam kandungan itu harus ada suami yang akan bertanggung jawab, tetapi Alya seperti sudah menutupi dirinya untuk berbicara baik-baik juga dari hati ke hati."
Putus asa dalam kesendirian Ibu Sofyan Wijaya menangis menelpon kepada suaminya mengadu apa yang telah terjadi.
"Ya halo Pak, Alya pergi Pak."
"Paling ke tempat kerjanya mengontrol usahanya Bu. Memang kenapa Alya ngambek lagi?"
"Sepertinya begitu Pak."
"Menang kalian habis bicara apa, makanya Bapak selalu wanti-wanti pada Ibu hati-hati dalam bicara. Alya itu dalam masa terpuruk setidaknya jangan terlalu dipojokan dengan kesalahannya."
"Ibu hanya mengajaknya kontrol dan sedikit bicara tentang barangkali punya ide untuk masalahnya itu."
"Bapak juga khawatir dengan perkembangan psikologi nya takut dia nekat mengambil langkah salah makanya Ibu coba kalau bicara dengan dia itu hati-hati lebih ke rayu dia biar terbuka, bicara yang dia mengerti agar dia lunak."
"Iya Ibu salah, sepertinya Ibu bicara terbawa emosi dan perasaan. Ibu belum selesai bicara Alya keburu ngambek masuk kamar dan keluar lagi membawa tas masuk ke mobilnya dan berangkat tak satupun kata diucapkan pada Ibu."
__ADS_1
"Ya sudah, biar nanti Bapak telephon dia mau pesan kue buat rapat, minta dia yang antar ke kantor."
"Iya, coba Bapak telephon dia."
"Kalau nggak nyambung Ibu pergi lihat dia, biar nanti Pak Udin Bapak suruh pulang bawa mobil biar bisa mengantar Ibu ke sana."
"Iya Pak."
Sambungan telephon terputus, Ibu Sofyan Wijaya masih termenung duduk di tempatnya, apa yang seharusnya dirinya lakukan semua sungguh buntu, mencoba membangun komunikasi dengan Alya tidak selancar yang diharapkannya.
Berharap Alya memberikan ide sebagai pencerahan juga tak mungkin, bicara baik-baik malah salah faham dan berujung merajuk. Mengharapkan jalan keluar dari suaminya dalam waktu sekarang tak ada yang bisa diharapkan, malah suaminya cenderung lambat mengambil keputusan di mata Ibu Sofyan Wijaya.
Yang terpikirkan satu orang sahabat anaknya yaitu Desty, mungkin dia bisa di ajak kerjasama dan bisa melunakkan hati Alya minimal bisa mengajak Alya bisa memeriksakan kehamilannya, biar tidak menjadi kekhawatiran dirinya.
Ibu Sofyan Wijaya meraih ponselnya dan menimbang nimbang apa sebaiknya yang di ucapannya pada Desty.
Bingung juga harus mulai ngomong dari mana, selalu saja Desty yang menjadi tempat meminta tolong, minta pendapat dan minta bantuannya.
Terkadang kasihan juga sama Desty, selalu dirinya menjadi pusat interogasi setiap ada masalah soal Alya, begitu juga saat masalah yang sekarang tengah memebelitnya.
***
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
...Hai, readers tercinta! habis baca...
..."Biarkan Aku Memilih"...
...Jangan lupa mampir ke karya...
...terbaik bertitel,...
..."Pesona Aryanti"...
...By Enis Sudrajat, baca, like,...
...vote dan beri hadiah ya!...
__ADS_1