Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Pandangan pertama


__ADS_3

Dua buah mobil masuk ke pelataran rumahnya keluarga dr Imam yang luas, setelah di bukakan pintu sama Bapaknya langsung dan di sambut Ibunya dengan muka berseri.


"Sampai juga Jeng Alhamdulillah di sini, mari silahkan selamat datang dengan senang hati kami merasa tersanjung dengan kunjungan Jeng beserta keluarga besarnya." Ibunya dr Imam kelihatan begitu ramah dan memang ramah pada kenyataannya.


Semua turun dan begitu banyak oleh-oleh yang mereka bawa seperti seserahan saja layaknya, dr Imam menyimpan surat kabarnya dan masuk ke dalam rumah lalu naik ke kamarnya tanpa melihat dulu mana yang namanya Vionna.


Peluk cium dan senyuman merekah dari kedua belah pihak semua kelihatan bahagia, hanya dr Imam yang tak merasakan itu semua.


Merenung sendiri di dalam kamar, apa yang harus di lakukannya begitu serba salah. Menyambutnya seperti memberi angin segar dan harapan tapi tak menyambutnya begitu tak sopan rasanya.


Akhirnya kamarnya diketuk juga. Itu sudah di perkirakan dr Imam.


"Dokter, Ibu menyuruh dokter turun tamunya sudah datang." suara ART di balik pintu.


"Ya, nanti Aku turun!"


Dr Imam menarik nafas dalam-dalam, sekelebat wajah Intan membayang di pelupuk matanya rasa rindu menyeruak memenuhi ruang kalbunya, dr Imam mengusap mukanya, 'Maafkan Aku Intan, Aku hanya mengikuti keinginan orangtuaku saja. Cinta kita tetap akan kita pertahankan betapapun sulitnya jalan itu.'


Dr Imam turun. Di ujung tangga bawah di sambut Ibunya yang mau menyusulnya juga ke atas, berhenti di ujung tangga lalu menarik tangan putra kesayangannya menuntunnya ke ruang tamu.


"Pakde, Jeng ini putraku Imam Hambali, Vionna kelihatan Kamu cocok banget sama Kang Mas mu ini, kenalkan dirimu Nak!" Ibunya dr Imam begitu bangga pada dr Imam putra semata wayangnya.


Dr Imam di sambut berdiri semua tamunya termasuk Vionna yang senyum sejak tadi dr Imam datang dengan senyuman juga.


Vionna memang cantik khas campuran Jawa Sunda, pandangannya begitu tajam dan sedikit penuh selidik dari kerlingan dan lirikannya, kelihatan intuisi tinggi, sepintas dr Imam tahu Vionna begitu pengalaman entah karena usianya sudah dewasa atau terbiasa karena di tempat kerjanya yang pasti punya posisi.

__ADS_1


Dr Imam tak bisa membandingkan antara Vionna dan Intan, keduanya punya kecantikan tapi berbeda entah di mananya, Vionna kelihatan begitu terawat segalanya, penampilannya terjaga sempurna walau habis perjalanan jauh.


"Hai, Aku Imam!"


"Aku Vionna, sebenarnya mungkin di acara keluarga kita pernah bertemu tapi kita tidak saling memperhatikan, tapi Aku baru tahu kalau salah satu saudara jauhku ada yang begitu mempesona," ucap Vionna dengan suara lembutnya dan jabatan tangannya begitu lama tak di lepaskannya.


"Ah, Kamu bisa aja, perasaan Aku baru kenal deh," jawab dr Imam sambil tersenyum.


Mereka duduk berhadapan, sungguh suasana itu bagi dr Imam sangat tidak nyaman dan tegang melebihi suasana di ruang operasi yang memerlukan konsentrasi tunggi dan kecepatan penanganan, tapi di sini di perlukan basa-basi, senyum ramah, anggukan dan kata saling sanjung penuh pujian. Itu semua tak biasa Bagi dr Imam.


"Di cicip makanannya Jeng, minumannya juga, seadanya sebentar lagi kita sarapan bareng, Kalau ada yang mau istirahat dulu di persilahkan ada beberapa kamar yang telah di sediakan, maaf tempatnya hanya begini," ucap Ibunya de Imam dengan ramahnya.


"Ah, Mam jangan suka berlebihan, kami semua begitu senang berkunjung ke sini rasanya sudah terlalu lama kita tidak bertemu menyambungkan tali silaturahmi yang lama tidak kita simpulkan," jawab Ibunya Vionna di sambut tawan dan anggukan yang lainnya.


Dr Imam bangkit mengambil koper Vionna dan berjalan sambil mempersilahkan dengan sopan Vionna berjalan di depannya, mungkin dengan cara itu dr Imam bisa melepaskan kekakuannya di hadapan keluarga Vionna.


"Mau di mana? di atas apa di bawah?" ucap dr Imam sambil melirik Vionna di sampingnya.


"Ih, pertanyaannya tak jelas tapi seperti menjurus begitu, mentang-mentang dr SpOG!" ucap Vionna tersipu malu.


Dr Imam menyadari apa yang di ucapkannya, Vionna kelihatan begitu pintar, menangkap dan mengartikan semua ucapannya menjadi sesuatu yang di pahami berbeda. Tapi dianggap jadi suatu yang menghibur untuk pertemuan pertama mereka.


"Sorry, Aku hanya bertanya tentang kamar pilihanmu tadi," jawab dr Imam agak malu sendiri.


"Menurut Mas Imam nyamannya di mana?" tanya Vionna sambil senyum-senyum.

__ADS_1


"Aku sih enaknya di atas, tapi kalau selera kamu Aku tidak tahu, hanya pendapatku saja itu!" Vionna mengusap dada dr Imam dengan lembut sambil tertawa kecil merasa lucu saja obrolan mereka soal kamar menjadi diartikan ganda menurut pandangan orang dewasa.


"Jawabannya sesuai kodrat ya Mas Imam?" jawab Vionna sambil memerah rona mukanya.


Deg! dr Imam tertegun merasa terjebak sendiri, menyadari ucapannya barusan seperti orang yang mengucapkan dengan polos saja.


"Oke, No comment untuk selanjutnya, silahkan mau di mana Aku antar." Dr Imam merasa seba salah setiap ucapannya mengandung arti ganda bagi Vionna


"Kok pasrah begitu?"


"Bukan pasrah, tapi lebih ke menghargai saja," ucap dr Imam tersenyum manis.


.


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2