
Rasa marah, gelisah, takut, galau dan rasa bersalah hilang entah kemana, saat mereka telah bergumul di tempat tidur, dalam pelukan dan pagutan yang lama dan tangan tangan yang menyasar tak kenal rambu, tapi otak waras dr Imam masih bisa berpikir dengan baik jangan sampai melakukan satu hal. Itu kalau mampu tapin kalau tak bisa semua bablas seperti hilangnya masa depan yang di rancang dengan indah bersama Intan. Dr Imam tak ingin semua itu terjadi.
Berulangkali Vionna meminta lakukan Mas! lakukan Mas! tapi semua hanya keinginan tanpa bersambut, yang ada di benak dr Imam kasus dan pengalaman sahabatnya dr Prabu, mengikuti emosi sesaat tanpa merasakan kenikmatan tapi masalah begitu berat datang, juga wajah Intan selalu ada di hadapannya menyalahkan dirinya membuat perlawanan dr Imam semakin kendor saja.
"Kenapa Mas?" Vionna memeluk punggung kekar dr Imam dari belakang yang semua pakaiannya sudah berantakan. Dr Imam duduk bertelanjang dada di tepi tempat tidurnya.
"Maaf Aku tak bisa, Aku tak ingin menyesal dan memberi penyesalan padamu Vio! hatiku tak bisa merespon semua yang kamu sodorkan, simpanlah semua yang berharga di dirimu semua bukan untuk di jadikan percobaan dan pembuktian saat kita emosi, itu adalah mahkota dan jari dirimu yang paling berharga, jadi Aku nggak pantas merenggutnya," ujar dr Imam perlahan.
Vionna masih diam memeluk punggungnya, berharap ada kejadian malam ini dan menjadi kekuatannya untuk terus maju dengan jalan apapun akan di tempuhnya.
"Aku mencintaimu Mas!"
"Terimakasih telah mencintaiku, kita kembali ke awal biarlah kita berteman saja dulu dan Aku sudah jujur padamu kalau Aku punya kekasih Vio," jawab dr Imam masih dalam duduknya.
"Mas! Aku pengen tahu seperti apa yang Mas sebut kekasih Mas itu? apa dia lebih segalanya dariku?" ucap Vionna merasa penasaran dengan ucapan dr Imam.
__ADS_1
"Tidak Vio! dia hanya gadis biasa tapi banyak nilai luhur yang bisa Aku lihat dari dirinya, Aku akan merasa malu dengan diriku sendiri yang tak bisa melawan egoku sendiri," sahut dr Imam.
"Jadi hubungan kita seperti apa Mas?"
"Berpakaianlah! kita harus bersyukur sebelum semuanya terlanjur terjadi," sahut dr Imam tanpa melihat Vionna tanpa pakaian di belakangnya.
"Sekarang juga sudah terlanjur!"
"Tapi itu kamu yang memulai dan masuk ke kamarku!"
"Baik, Aku keluar sekarang tapi mungkin ini bukan yang terakhir!" Dr Imam melirik saat Viona turun dari tempat tidur lalu keluar mungkin masuk ke kamarnya.
Paginya Ibunya mengetuk kamar putra kesayangannya tapi sepertinya masih tidur dengan pulas nya, sedikit mendorong pintu tak di kunci lalu masuk dengan perlahan berniat membangunkan karena semalam dr Imam berpesan kalau hari ini akan masuk kerja full sampai malam menggantikan temannya yang izin tak masuk.
Dr Imam tidur dengan telanjang dada satu kebiasaan yang tak pernah Ibunya lihat, tamat tidur yang berantakan membuat kening Ibunya dr Imam mengerut dan satu lagi kakinya menginjak sesuatu di lantai dilihat dengan jelas penutup dada perempuan juga tank top yang bercecer di lantai.
__ADS_1
Ada kehersnan di hati Ibunya dr Imam sepertinya berdua semalam telah kebablasan, dan bukan itu yang di harapkan nya.
Kebebasan yang dirinya berikan untuk saling mengenal satu sama lain bukan dengan bebas melakukan apa saja sebelum mereka sah menjadi suami istri tetapi semua telah terbukti kalau mereka saling suka satu sam lain kalau begini kenyataannya.
Jelas Ibunya dr Imam marah, malu dan kecewa, kedewasaan bukan berarti jaminan kalau mereka bisa mengendalikan diri dan bersikap dewasa, tapi semua telah mereka berdua langgar tanpa aturan.
Jelas semalam Vionna pasti masuk ke sini dan meninggalkan pakaian dalamnya, kalau bukan habis melakukan sesuatu yang di larang sebelum menikah apa yang mereka lakukan di dalam sini, pria dan wanita dewasa lalu meninggalkan jejak pakaian dalam yang tertinggal?
.
.
.
.
__ADS_1
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️