
"Intan sehat? gimana skripsinya sudah tuntas dan selesai?" tanya dr Prabu pada Intan, setelah duduk di hadapannya sama-sama sarapan pagi.
"Sudah kemarin terakhir menyelesaikan revisinya tinggal menunggu jadwal sidang saja, jadi Aku merasa santai boleh kan Aku tinggal di sini?" sahut Intan semalam sudah nginep tapi baru minta izinnya sekarang.
"Boleh saja, tapi bilang enggak pada Ibu sama Bapak kemarin?" tanya dr Prabu lagi sambil melihat wajah Intan yang semakin cantik saja.
"Enggak, bilangnya mau ke kost dan diantar Mas Imam."
"Nah di situ salahnya, itu kesalahan kecil tetapi tidak boleh dibiasakan salah memang pamit ke situ datang ke sini, sekarang telepon Bapak sama Ibu bilang kalau Kamu ada di sini cukup segitu aja, itu untuk memperbaiki kesalahanmu, dan menenangkan mereka," jawab dr Prabu sambil menyuap makanannya.
"Baik Kak." Intan meraih ponselnya yang berada di samping dirinya duduk di meja makan karena lagi sarapan di pagi itu.
Intan menelepon dan tidak terlalu banyak bertentangan karena Intan langsung memberikan alasan semua tugas dan kewajibannya sudah selesai jadi dirinya mending menemani Mbak Retno di Tasikmalaya memang begitu banyak akalnya.
Yang datang ke sini sendiri, yang bikin alasan sendiri, mungkin Anak muda yang pintar dan mencari penyelesaian dari masalahnya dengan begitu mudah.
"Intan Aku ingin melihat hasil dari kuliahmu Aku tidak ingin melihat Kamu berleha-leha santai di rumah saja selama di sini, boleh kalau Aku meminta sesuatu padamu?"
"Apa Kak?"
__ADS_1
"Besok ikut belajar praktek bersamaku di rumah sakit, cari pakaian Mbak Retno karena banyak pakaian Mbak mu sewaktu tubuhnya masih sepertimu," ucap dr Prabu sambil melirik Retno di sampingnya.
"Ada honornya nggak?" celetuk Intan.
"Intan! Jangan semua dinilai dari segi materi dan uang Aku hanya ingin melihat kemampuan Kamu jangan lihat Aku sebagai Kakakmu nanti di tempat kerja, tapi lihat semua itu sebagai rekan kerja Kamu kalau Kamu mau tinggal di sini!"
"Aku malu Kak," sahut Intan membayangkan dirinya bersama suster dan perawat lainnya.
"Malu pada siapa Apa kamu tidak ada keinginan untuk bekerja? suatu saat ilmu kamu itu akan diterapkan di tempat kerja, Aku sekarang memfasilitasi Kamu pokoknya pikirkan kalau hari ini satu hari pertama Kamu kerja, cari pakaian sama Mbakmu kalau sudah siap besok kamu mulai ikut!" sahut dr Prabu tak memaksa harus mengatakan iya sekarang.
Intan diam hatinya begitu banyak meragu sebenarnya memasuki dunia kerja rasa hatinya belum siap tetapi dipikir lagi siapnya kapan? toh pada akhirnya dirinya akan kerja-kerja juga, tetapi yang Intan dipikirkan di rumah sakit itu ada pacarnya sendiri dr Imam apa nanti kata dr Imam? dan dokter juga suster yang lain. Apakah bisa menerima dirinya? tapi yang merekomendasikan adalah Kakaknya sendiri. Intan timbul keinginannya.
"Mbak Aku mau deh kerja yang di katakan Kak Prabu tadi, boleh nggak Aku pinjam pakaian Mbak?" ucap Intan pada Retno saat dr Prabu sudah berangkat.
"Yakin mau kerja? boleh pakai saja baju Mbak banyak kok yang masih baru juga ada," sahut Retno sambil meneliti raut muka cantik Adik iparnya.
"Bilang dong sama Kak Prabu Mbak!"
"Iya, nanti Mbak bilang. Sekalian kita ngobrol Intan, Mbak akhir-akhir ini merasa tidak nyaman di sini minta mau melahirkan di Pekalongan saja tapi Kakakmu tak mengizinkan, sebenarnya permasalahannya Aku malas ke rumahsakit itu banyak banget yang membuat hati ini pengen berontak dan marah."
__ADS_1
"Masalah apa Mbak?"
"Aku memergoki Kakakmu sama Alya di rumah makan sebrang rumah sakit itu, terus Aku bertemu Alya di pasar saat belanja sama Bi Iyah, ucapan Alya tidak mengenakkan banget sebenarnya Aku sedang ada masalah dengan Kakakmu saat ini," ujar Retno bicara perlahan.
"Mbak?"
"Iya Intan, Aku pengen tenang menghadapi kehamilan ini apalagi ini ada masa akhir dan mendekati persalinan, Aku perlu ketenangan bukan malah banyak masalah."
"Apa kalau Mbak di Pekalongan merasa tentram meniggalkan Kak Prabu di sini?"
"Iya sih, mungkin di sana juga bakal kepikiran tapi minimal Aku tidak melihat batang hidung Si Ulat bulu itu dan mendengar ceritanya kalau sekarang Dia lagi meminta pihak rumahsakit untuk jadi donatur di Yayasannya, juga lagi konsultasi pada pacarmu ceritanya program kehamilan apa itu masuk akal? atau hanya akal-akalan saja?" ujar Retno sambil tertawa tidak senang.
"Oh alah, begitu ya Mbak?"
.
.
.
__ADS_1
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️