
tok tok tok...tok tok tok...
"Dokter tolong buka pintunya! ada yang gawat darurat perlu pertolongan segera!" suara berat laki laki membangunkan lamunan dr Prabu yang baru saja pulang dari barak ke barak keliling dan baru saja mau istirahat sejenak menulis e-mail tentang perasaannya untuk istri tercintanya Retno.
Dr Prabu membuka pintu dengan tergesa dan memakai sandal jepitnya.
"Ada apa? apa erupsi lagi?"
"Bukan Pak dokter, ada seorang perempuan relawan mengantarkan kue ke barak sini jatuh dari motor dan berdarah darah."
"Astaghfirullahaladzim, di mana dia?"
"Itu masih pada berkerumun di depan, kami tidak bisa mengambil tindakan apa-apa hanya dokter yang bisa menanganinya."
"Mari kita lihat!"
Dr Prabu dengan hanya mengenakan kaos dalam karena gerah menghampiri kerumunan orang-orang sambil membawa stetoskop untuk mengecek detak jantung dan deteksi tanda-tanda kehidupan lainnya.
Semua orang menyingkir memberikan jalan dan ruang kepada dr Prabu untuk bisa memeriksanya.
"Sepertinya dia pingsan dokter."
"Tolong bawa dulu ke dalam barak biar saya periksa dulu."
Dr Prabu memeriksa sesosok wanita itu, masih bernafas cuma agak lemah. Ini harus segera di larikan ke rumah sakit terdekat karena untuk penanganan yang lebih serius karena ada pendarahan dan belum siuman dikhawatirkan wanita ini mengalami luka dalam.
Detak nadi dan jantungnya masih ada, cuma terkulai lemas dengan nafas teratur.
Akhirnya wanita itu di bopong ke dalam mobil Ambulan dengan darah yang masih menetes, dari balik rok panjangnya.
Dikarenakan sopir mobil ambulans lagi tidak ada entah kemana, mungkin karena ini waktu istirahat terpaksa dr Prabu sendiri yang membawa mobil ambulan ke rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari pengungsian itu.
Langsung masuk UGD biar di tangani langsung, dr Prabu memperkenalkan diri kalau dirinya juga dokter yang menjadi relawan di barak pengungsian.
Setelah pasien memasuki ruang UGD dr Prabu menemui seorang bapak tadi yang menemuinya di kamarnya.
"Pak, apa ada identitas wanita itu?"
"Wah saya nggak tahu Pak dokter saya hanya melihat kejadiannya dari dekat, kalau wanita itu membawa tempat kue-kue kecil seperti kerepotan memang di bonceng seseorang makanya pas turun dia sampai jatuh dan tersungkur karena duduk di boncengan nyamping dengan bawaan banyak. Nggak tahu kalau tadi di tempat kejadian ada tasnya apa tidak saya tidak melihat karena panik melihat dia langsung berdarah-darah dan pingsan."
__ADS_1
"Sekarang Bapak ke barak itu lagi, saya tunggu perkembangannya di sini, cari tahu identitas atau barang milik wanita itu, juga yang tadi bawa motor memboncengnya ajak aja ke sini, apa dia warga sini apa dia relawan juga."
"Baik dokter."
Si Bapak tadi berangkat bersama temannya dengan mengendarai motor yang mengikutinya dari belakang mobil ambulan bersama beberapa orang.
Selang beberapa menit datang serombongan ibu-ibu, bapak-bapak, juga ibu-ibu yang membawa anak kecil seusia SD dan TK mereka berkumpul di depan ruangan UGD dan seseorang mencari informasi pada petugas kesehatan yang ada di situ.
Dr Prabu menghampiri seorang Ibu yang kelihatan begitu cemas.
"Apa Ibu ini kerabat atau keluarga korban yang jatuh dari motor itu?"
"Ya, bagaimana keadaannya Pak?"
"Saya tidak tahu, karena tadi saya membawa dia ke sini dalam keadaan pingsan dan berdarah tapi sekarang sudah ditangani di UGD, bagaimana keadaannya kita tunggu aja hasilnya bersama-sama."
"Astaghfirullahaladzim Neng, kenapa harus diantar sendiri? kan banyak orang lain juga yang bisa membantu." Ibu itu seakan menyesali tindakan wanita itu yang ingin mengantar kue bikinannya sendiri ke tempat pengungsian.
"Bu, apa kak Alya tidak apa-apa Bu?" dua anak kecil menghampiri Ibu itu sambil memegang tangan Ibu itu.
Deg! Dr Prabu melirik anak itu yang barusan mengatakan satu nama Alya, mengingatkan akan semua masalahnya kenapa dirinya sampai ada disini, semua berawal dari satu kata nama itu Alya, biang dari sebuah konflik rumah tangganya, biang dari semua masalah hidupnya dia seseorang yang sekarang sedang dicari dan ditunggu kabarnya, agar semua masalahnya cepat terselesaikan.
"Ya, dia relawan dari jauh yang tinggal di rumah saya, dia rajin mengajari anak-anak di barak pengungsian mengajari pelajaran yang tertinggal, mengajari menyanyi, mengajak anak-anak bergembira dan juga dia selalu menyempatkan waktu karena dia pintar membikin kue-kue juga makanan-makanan dan dia senang mengantar nya sendiri berbagi dengan anak-anak di barak-barak."
Deg! Astaghfirullahaladzim, apa dia Alya itu? dr Prabu panas dingin dan berkeringat tanpa mengindahkan wajah si Ibu itu yang begitu cemas.
Apa dia Alya yang selama ini dia cari? kenapa ada di sini juga? dr Prabu mencoba tenang sampai dirinya mendapat kepastian kalau itu benar-benar Alya yang sebenarnya, mungkin di sinilah dirinya akan bertemu dengan Alya dan bisa membereskan semua permasalahannya bila mungkin dr Prabu akan menikahinya di sini juga, dan bisa pulang secepatnya menjemput Retno di Bandung.
Petugas UGD keluar dan dr Prabu keduluan Ibu tadi yang menghampirinya.
"Pak gimana keadaan anak saya?
apa dia baik-baik saja?"
"Ibu keluarganya?"
"Ya saya keluarganya."
"Maaf Ibu, pasien sudah siuman dari pingsannya, cuma akibat jatuh dan kena benturan tadi kehamilannya tak bisa di selamatkan, dia keguguran dan untuk mencegah pendarahan berlanjut sudah di masukkan ke ruang operasi untuk ditangani selanjutnya mungkin akan di adakan tindakan kuret atau pembersihan di dalam rahimnya."
__ADS_1
Deg! Astaghfirullahaladzim.
Silahkan Ibu ke bagian administrasinya untuk di minta persetujuan tindakan selanjutnya.
Dr Prabu meyakini semua itu kini, Alya, relawan dari jauh, mengajari anak-anak belajar, bernyanyi pintar masak kue-kue, dan hamil satu kesimpulan yang berkaitan telah tersimpul kan.
"Di mana bagian Administrasi nya? saya dr Prabu Seto Wardhana sebagai relawan juga seperti dia yang akan bertanggungjawab semuanya."
"Baiklah dokter, mari ikut saya."
Dr Prabu mengangguk pada Ibu-ibu dan bapak-bapak juga anak-anak kecil yang berkerumun dan pergi meninggalkannya.
Si Ibu tadi tertegun mendengarnya.
Seperti seorang suami yang begitu tegang menunggu seorang istri yang ada di ruang tindakan dr Prabu hilir mudik dan tak enak duduk, ingin segera mendapat khabar baik dan hasil tindakan yang menggembirakan.
Selang satu jam kurang dalam ketegangan akhirnya seorang dokter dan suster datang membuka pintu.
"Ibu Alya sudah selesai menjalani kuret, dan sekarang sudah di pindah di ruang perawatan, tapi masih dalam kondisi belum siuman pengaruh obat bius total tadi, bagi keluarganya boleh menunggu di luar kamar perawatan melati dan gantian untuk menemuinya."
"Baik suster."
Dr Prabu setengah berlari mengikuti suster tadi dan berjalan memepetnya.
"Apa dia baik-baik saja suster?" dr Prabu bertanya.
"Hanya kuret bukan operasi, cuma mungkin trauma keguguran dan kehilangan harapan punya buah hati yang menjadi masalahnya, lambat laun dia akan biasa lagi dengan perhatian keluarga dan support orang terdekat."
.
.
.
Biarkan Aku Memilih Kurang lebih sepuluh episode terakhir.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir ( Karya baru yang baru beberapa Bab) By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1