
Retno menangis sejadi-jadinya dan dengan isakan pilu penuh kesedihan, dan membiarkan dr Prabu memeluknya dan mengusap-usap punggungnya, tapi setelah amarahnya reda tak menyurutkan niatnya untuk pergi dan meninggalkan semuanya.
"Dr Imam coba antar dan tanya mau kemana Retno pergi malam malam begini?" dr Prabu bicara pada dr Imam.
Dr Imam masuk dan bicara pelan pelan di hadapan Retno, sambil memegang tangannya.
"Retno, kita kan sepakat jadi sahabat dari pertama kita bertemu, kita belum melupakannya kan? aku sebagai sahabatmu tak bisa membiarkan kamu pergi sendiri malam-malam begini, cobalah dewasa sedikit melihat permasalahan ini, dan mengertilah kekhawatiran kami semua, teman-teman kamu pasti merasa cemas juga, katakan mau ke mana?"
Retno hanya diam, dengan isakan dan pandangan dr Prabu.
"Ayo aku antar kalau memang maksa, tapi aku sarankan lebih baik istirahatlah dulu, tenangkan fikiran mu baru besok kamu boleh mengambil keputusan, ambil keputusan yang paling bijaksana menurut kata hatimu, istirahatlah besok bicara padaku aku siap mendengarkan mu."
Retno diam dan bersandar di dinding tembok.
Dr Prabu mengambil tas yang sudah di selempang kan di pundaknya Retno, dan menaruhnya di bawah dan menarik tangan Retno pelan-pelan untuk duduk dan Retno duduk lalu melempar tubuhnya ke tempat tidur dan nutup mukanya dengan bantal, dr Prabu membuka sepatu Retno dan menyelimutinya, dr Imam hanya tersenyum melihatnya dan kedua temannya Ismi dan Ella menarik nafas lega.
Dr Prabu dan dr Imam SpOG keluar, Ella dan Ismi masuk dan menutupkan separuh pintu.
Semua pada diam sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Sampaikan pada security kalau ada yang keluar malam-malam bawa koper perempuan jangan sampai di beri izin keluar, pasien yang sudah sembuh dan keluarganya tak ada kepulangan malam-malam dan tidak membawa koper."
"Baik boss, nanti aku urus."
"Sepertinya aku tidur di kantor malam ini."
"Seperti malam-malam sebelumnya kan?" dr Imam sedikit bercanda menghilangkan ketegangan.
"Aku ingin melihat Retno pagi-pagi apa dia pergi kerja ke Bandung bawa koper dan barang barangnya? itu saja."
"Biar aku besok yang ngomong sama dia boss." dr Imam menenangkan.
"Tapi sepertinya Retno tahu duluan siapa aku, dan kelihatan benci banget padaku, juga sudah tak perduli apa-apa dia akan menyudahi KKN nya."
"Semua begitu syok bagi Retno, tapi setidaknya masih dengar kata kataku tadi."
__ADS_1
"Iya aku terimakasih banget..."
"Tenang saja boss, aku bantu apa yang aku bisa." dr Imam tersenyum.
"Intan di suruh pulang ya?"
"Suruh di jemput Pak Min tadi."
"Kalau tadi nyuruh aku antar Intan pasti dengan senang hati boss heee..."
"Macam-macam aku getok juga kamu!"
"Haaaaaaaa..."
Dua sahabat berpisah di halaman rumah sakit,dr Imam pulang ke rumahnya, praktek hanya sampai jam sembilan, dan dr Prabu berjalan ke ruangannya dan masuk menutup pintu.
Retno, kok jadi pingsan? apa aku keterlaluan dan tak berperasaan? semua terjadi di luar perkiraan dr Prabu.
Duduk di sofa dengan ruangan yang berantakan dr Prabu tak menentu pikirannya, jangan-jangan Retno malah jatuh sakit, apa yang harus di lakukannya? sedang Retno seperti tak sudi melihatnya.
"Mbak sabar ya, aku sama Ella ikut prihatin dengan masalah yang Mbak Retno hadapi."
"Iya Mbak, Mbak jangan sampai mengambil langkah salah, dari kemarin-kemarin begitu kuat kenapa sekarang jadi kendor begini?"
"Maafkan aku Ella, Ismi, aku telah melibatkan kalian dalam masalahku, aku bukan tak kuat menjalani perjalanan Bandung - Tasikmalaya dan menjalani hukuman dan sangsi juga sikap tidak bersahabat suster kepala Miranti tapi sandiwara yang mereka lakukan padaku begitu menyakitkan dan aku tak terima itu"
"Sandiwara apa Mbak?" Ella dan Ismi hampir bareng bertanya.
"Apa kalian tahu siapa pimpinan rumah sakit ini? yang menyuruh aku selama KKN ini membersihkan ruangannya?
yang tidak memberi keringanan kehadiran? dan mungkin yang menyuruh suster kepala Miranti begitu kecut terhadapku?
Ella sama Isti bengong dan serius menyimak.
"Itu dia orang yang lima tahun ini menghilang, dan aku tunggu dengan penuh damba, aku cari walau hanya khabarnya saja, aku tak bisa membayangkan semuanya berakhir segalanya di sini."
__ADS_1
"Apa ???" itu dr Prabu yang Mbak pernah ceritain?"
"Ya! yang sekian lama mengisi hatiku dan hari-hariku dalam penantian, yang membuat aku kuat dengan satu harapan akan bertemu dengan satu kebahagiaan, yang membuat aku setia pada janji hati ku dan yang membuat aku bertahan selama lima tahun ini yang merubah haluan hidupku, dan yang membuat aku nekad pergi dari keluargaku!"
"Mbak."
"Semua usai sudah, semua berakhir di sini aku tak bermaksud melanjutkan KKN ini lagi, pagi aku berangkat ke Bandung, kalau memungkinkan aku ikut team lain KKN nyusul di tempat lain."
"Mbak nggak ada solusi lain? fikirkan lagi Mbak biarlah yang lalu-lalu menjadi masa lalu."
"Aku nggak akan sanggup Ismi Ella, melihat Mas Prabu dengan wanita lain, atau mungkin malah memamerkan kebersamaannya di hadapanku, aku sudah mendapatkan jawaban dari semuanya, tak ada cinta lagi di hati Mas Prabu untukku, waktu telah merubah segalanya, baginya aku hanya seorang hina yang mengemis kebaikannya, aku di perlakukan layaknya seorang yang hanya bisa membersihkan ruangannya, Mas Prabu masih sakit hati dan belum memaafkan orangtuaku."
"Apa yang bisa kita bantu Mbak?"
Retno hanya diam hatinya begitu hancur dan sakit tak terobati, butiran panas dari matanya tak henti di usapnya, Ella hanya memegang tangan sahabatnya dan dengan rasa ikut prihatin dengan masalah yang sedang di hadapi sahabatnya.
Malam semakin larut Retno benar-benar tak bisa memejamkan matanya, tergambar jelas saat dirinya melihat kertas dengan tulisan dr Prabu Seto Wardhana, juga di plang nama buat di meja yang sengaja di sembunyikan di laci mejanya, dan saat Mas Prabu di gandeng seorang wanita cantik tinggi semampai dan masuk ruangannya, remuk redam sudah hati Retno.
Karena tak bisa tidur Retno berusaha bangun tapi kepalanya terasa berat dan sakit, pusing menguasainya juga badannya terasa meriang, demam dan terasa panas, melihat jam baru pukul dua dinihari harusnya Retno masih punya satu jam waktu tidur tapi dari semalam matanya entah kenapa sama sekali tak bisa di tidurkan.
Ya Allah jangan sampai aku sakit kuatkan aku,nsehatkan aku tapi rasa pusing dan sakit kepala begitu hebatnya juga di tambah mual-mual, dan akhirnya Retno pasrah saat muntah di kamar mandi dan membangunkan teman-temannya.
"Astagfirullah, Mbak Retno kenapa Mbak?" Ella terperanjat bangun dan melihat Retno lagi muntah-muntah, Retno berdiri dan limbung matanya terasa berkunang kunang, Ismi memegang tangan Retno dan berteriak.
"Ya Allah Mbak, badanmu panas banget, Mbak Retno sakit Ismi beritahukan pada suster jaga dan dokter jaga biar di periksa."
Ismi memakai jaket dan keluar mau memberitahukan suster jaga dan di luar menabrak seseorang yang lagi berdiri tak jauh dari halaman mess, dr Prabu kaget Ismi juga sama dan dr Prabu langsung bertanya.
"Mau kemana?"
"Itu teman saya sakit muntah-muntah, badannya demam panas tinggi, saya mau panggilkan suster jaga" tanpa pikir panjang lagi dr Prabu setengah loncat masuk ke kamar mess Retno dan melihat Retno dalam selimut lagi menggigil dengan muka pucat dan matanya terpejam giginya gemeretuk menahan sakit di kepalanya.
"Retno kenapa? Ya Allah maafkan aku kamu kok jadi begini?" dr Prabu mengusap tangan Retno dan memegang keningnya, terlihat kepanikan dan langsung memerintahkan suster jaga yang datang untuk mencari kamar perawatan.
Dr Prabu memeluk dan membopong tubuh Retno dengan ringannya dan membawa Retno mengikuti suster jaga menuju kamar perawatan.
__ADS_1
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝