Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Titik awal masa depanku


__ADS_3

Sampai di rumahnya dr Prabu di sambut Pak Min dan Bi Iyah, dan terjadi kesalahan di kira Intan adalah kekasih dan teman dekatnya dr Prabu memang baru pertama kali Intan datang berkunjung ke rumah Kakak nya ini.


"Oh alah Neng Intan ini adik Pak dokter rupanya, Bibi kira calon istrinya heee..."


"Nanti Bi sebentar lagi calon istrinya akan di bawa ke sini tapi sekarang masih proses heee..."


"Syukurlah, Bibi hanya mendo'akan Neng semoga Pak dokter cepat dapat jodoh terbaiknya."


"Aamiin Bi."


Dr Prabu hanya tersenyum mendengar percakapan Intan dan Bi Iyah, dalam hati dr Prabu berkata, bukan hanya Bibi aku juga sudah pengen banget Bi ada yang mengurus dan menemani hari harinya kalau harus jujur mah.


"Kamarmu pilih saja mau di atas apa di bawah terserah, minta ganti seprai sama Bi Iyah."


"Iya Kak."


Dr Prabu berjalan ke atas dan menaiki tangga yang terlihat begitu megah dan masuk ke kamarnya yang paling besar dan ada di lantai dua, Intan lebih memilih kamar yang ada di bawah yang ada pemandangan taman di halaman depan.


Dr Prabu mengambil ponselnya dan lantas menelephon seseorang.


"Di tunggu di lapangan indoor rumah sakit jam empat, kamu masih punya utang kekalahan kamu beberapa set, apa mau melunasi hutang itu atau menambahnya?"


"Haaaaaaaa... kelihatannya emosi banget, siap boss gue terima tantangan lo habis ashar ya gue sholat dulu kan santri gini gini juga."


"Iya kamu santri ngelayap seperti kalong."


"Haaaaaaaa... biotas boss biar okem tapi santri."


"Dikira biar okem yang penting orang Tasikmalaya."


"Oke begitu juga bisa, boss di mana sekarang?"


"Seperti biasa aku di rumah."


"Nggak keluar ceritanya seharian?"


"Nggak aku habis ngantor!"


"Busyet deh rajin amat hari libur ngantor, ngantor apa ngintip mess yang lagi KKN? haaaaaaaa..."


"Tuh kamu tahu."

__ADS_1


"Tahu lah sampai dalam hatinya juga, isi hati boskuh merindu dan meragu heee... yang ada sakit sampai ke tulang sum-sum kangen itu menyiksa dokter dan tak ada obatnya selain orangnya ada senyum di hadapan kita." dr Imam dengan enaknya memojokkan dr Prabu.


"Sialan kamu! ya sudah kita ketemu di arena ya."


"Yups!"


"Seperti biasa yang kalah traktir, menikmati kekalahan dan menikmati kemenangan dalam permainan itu biasa."


"Siap! sepertinya aku akan menang." dr Imam berbesar hati.


"Buktikan!"


"Cukur tuh jambang jenggot sama kumis kalau kalah set dari gue,j angan jadi tempat persembunyian lo haaaa..."


"Iya nanti aku cukur sekalian kepala kamu aku gundulin."


"Haaaaaaaahaaaaaaa..."


Keterlaluan si Imam pake memojokkan aku segala merindu dan meragu, memang dua kata yang tepat ada di hatiku tapi itu kata yang sebenarnya tak boleh orang tahu minimal saat ini, rindu yang tak pernah padam pada Retno membuat semua kegiatan dan kesibukannya tak berarti, apalagi Retno beraktivitas ada di hadapanku membuat semakin tersiksanya hati ini.


Ditambah dengan beban hasrat ingin mengerjainya yang tak pernah surut, mungkinkah si Imam cerita pada Retno siapa dirinya di rumah sakit itu? tak mungkin si Imam pasti masih menjaga etika membuka semuanya kan dari awal sudah di wanti-wanti jangan dulu membuka identitas dirinya dulu.


Hari minggu begini bagi jomblo seperti dirinya mau ngapain coba? jalan sama siapa tujuan juga nggak punya paling di rumah main game atau nanti malam ajak teman sesama jomblo ngobrol juga ngopi di cafe, mencoba lihat yang bening-bening yang kata dr Imam SpOG cafe bukan tempat nyari jodoh, semua yang datang nggak jelas orangnya, kalau niat cari jodoh di kampus, di pekerjaan atau sekalian di pesantren jelas orang itu orang baik-baik ,benar nggak?


Apalagi di bus atau dari telephon nyasar jangan masukin di hati mending di jodohkan sama orang tua kata dr Imam, yang pada kenyataannya dirinya juga sampai saat ini masih saja sendiri seperti dirinya, sendiri dan beda kasus dan masalahnya.


Dr Prabu setia pada cinta dan masa lalunya yang tak bisa pindah atau belum bisa memulai lagi dengan membuka hati untuk kehadiran wanita lain di sisinya sampai saat ini, juga sakit hatinya yang masih saja menghantui jalan hidupnya menjadikan seperti trauma berkepanjangan, dr Imam SpOG ketidak cocokan menjadikannya sering berganti pacar dan belum ada satupun yang cocok memenuhi keinginan hatinya juga keinginan orang tuanya dan sampai saat ini kadang punya pacar kadang jomblo lama."


Di lain tempat di rumah dr Imam SpOG tersenyum sendiri, saat mendengar tantangan dari boss nya yang lagi uring-uringan sendiri, dan dr Imam mengerti kegelisahan hati sahabatnya dan ingin rasanya memberi hiburan dan solusi dari permasalahan seandainya bisa dan satu yang telah di lakukannya yaitu menjaga kekasihnya Retno dan menggali isi hati Retno saat makan malam di Bandung malam tadi.


"Retno aku panggil kamu Retno saja ya karena kita bukan lagi kerja dan dinas."


"Oh, nggak apa-apa dok aku malah senang."


"Jangan panggil aku dokter dong...panggil saja namaku Imam, atau Mas Imam juga boleh dan kelihatan akrab gimana enaknya kamu."


"Oke, Mas Imam terimakasih heee..."


Memang asalnya canggung tapi lama-lama Retno jadi terbiasa dan kelihatannya Retno cepat akrab.


"Eh tadi yang turun di jalan itu siapa namanya? suster Aisyah itu teman akrab kamu ya?"

__ADS_1


"Iya Mas, kenapa naksir? heee... boleh aku sampaikan."


"Oh nggak, cantik juga dia orang Sunda asli ya?"


"Iya Mas asli orang Bandung."


"Masih single?"


"Masih." Retno tersenyum.


"Haaaaaaaa...kok jadi tanya-tanya soal suster Aisyah sudah lah nanti dia nggak enak hati lagi kita bicarakan melulu."


Retno mengangguk sambil tersenyum.


"Katanya mau cerita kenapa kamu memilih di kesehatan bukan di ekonomi seperti keluargamu harapkan untuk meneruskan bisnis keluarga? kita kan sekarang banyak waktu aku bersedia mendengar ceritamu."


"Hanya pilihan Mas, dan aku tidak tertarik lagi dengan bisnis dan usaha keluarga sejak lima tahun lalu."


"Masalahnya?"


"Masalah ya itu pilihan dan panggilan hati aku lebih nyaman di dunia ini penuh kasih sayang bukan persaingan seperti dalam dunia bisnis."


"Apa kamu mencari kasih sayang juga di duniamu yang sekarang ini?"


Deg! Retno kelihatan malu dan memerah sedikit roman mukanya, tak bisa di pungkiri semua berawal dari lima tahun lalu.


"Semua orang juga mencari pelabuhan hati Mas, aku memang mencari dan menunggu seperti orang lain mungkin juga seperti Mas Imam?"


"Iya sih pada dasarnya kita sama mencari yang sesuai dengan keinginan dan kriteria idealnya kita tapi aku heran gadis secantik kamu masih saja malam minggu sendiri, apa ada yang di tunggu? apa sudah ada yang mungkin habis kuliah semua pada siap atau trauma?"


"Kalau aku harus cerita aku memang menunggu seseorang yang aku cintai dan kita berpisah tanpa kata dan pesan apapun hanya meninggalkan janji di hatiku. Sebelum aku mendapatkan khabar dia yang aku tunggu sudah menikah dan bahagia aku tak akan membuka hati untuk laki-laki lain dan tetap pada prinsip konyolku, baru setelah aku tahu yang dulu aku cintai sudah menikah baru aku akan mulai menata hidupku dan masa depanku."


"Wow, aku jadi mau tahu laki-laki yang beruntung telah mengisi hatimu itu Retno, tapi aku ingin sekali meninju nya agar dia tahu dan bisa membuka mata hatinya untuk gadis seperti kamu, lima tahun dalam ketidakpastian apa-apaan? mungkin laki-laki itu sudah ke laut Retno."


"Tapi aku yakin aku punya tempat mengadu lewat do'a do'a ku yaitu Yang Maha Kuasa suatu saat itu akan datang dan kebenaran akan terang benderang."


"Apa kamu yakin masih mencintainya?"


"Aku sendiri tidak yakin dan itu yang akan aku pertanyakan pada dirinya dan yang aku rasakan sendiri apa cinta itu masih milik kami berdua? saat aku bertemu suatu saat."


"Oke Retno, kamu akan bertemu suatu saat itu keyakinan mu, setelah kamu bertanya kan ada dua jawaban apa kamu siap dengan salah satu jawaban itu?"

__ADS_1


"Kenapa enggak? menjalani penantian lima tahun aku jalani dengan ikhlas, apalagi hanya mendengar satu jawaban dan itu semua akan aku jadikan titik awal masa depanku."


Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan votenya✌️💝


__ADS_2