
Sampai Tasikmalaya jam delapan malam dr Imam langsung mengantarkan Intan ke rumah Kakaknya dr Prabu.
Retno dan dr Prabu merasa kaget mendapatkan Intan telah berdiri di balik pintu, dan langsung masuk meninggalkan dr Imam yang berbasa-basi dengan Retno juga dr Prabu.
"Masuk Mas Imam, istirahat barang sejenak" sahut Retno sambil menyalakan lampu ruang tamu.
Dr Imam masuk dan duduk kelihatan lelah dan penat dari raut wajahnya.
Retno datang membawakan dua gelas teh hangat dan toples makanan.
"Gimana Intan sudah sehat kemarin katanya sakit beberapa hari," tanya dr Prabu memancing obrolan dengan dr Imam.
"Iya sehat bos, tadinya mau Aku antar ke Bandung ke tempat kost, seperti itu pamitannya kepada orang tuanya tetapi di tengah jalan Dia berubah mau ikut ke sini Aku tidak bisa memaksa juga tidak bisa melarang akhirnya Dia ikut ke sini kelihatan sudah sehat mungkin capek aja terlalu banyak kegiatan dan memforsir diri," jawab dr Imam sambil minum teh menghidangkan Retno.
"Kalian berdua baik-baik saja kan? mau seperti apa ke depannya?" tanya dr Prabu sambil melirik dr Imam.
__ADS_1
"Kami sedang tidak baik-baik saja, banyak masalah dan pertentangan, Intan maunya sekejap masalah hilang tapi kan tak semudah itu, harus ada jalan dan prosesnya, Aku selalu berharap Intan sabar, semua berpangkal dari orangtuaku dan Vionna itu bos," sahut dr Imam seperti enggan membahas semuanya.
"Kalau sudah saatnya semua masalah akan terlewati, ya kuncinya sabar itu tapi harus dengan usaha. Kenapa Intan malah ikut ke sini ya?" tanya dr Prabu lagi.
"Aku juga mempertanyakan hal itu bukannya lagi masa sibuk? tapi Dia mengatakan skripsinya sudah siap bersama revisinya tinggal menunggu sidang seperti itu katanya mungkin benar sudah agak longgar."
"Gimana sikap orangtuamu kini?"
"Sepertinya mereka bersikukuh ingin mendekatkan Aku dengan Vionna tapi kalau masalah hati kan kita semua tahu punya pilihan masing-masing itu yang tidak dimengerti orang tuaku, juga melihat sikap Vionna seperti suka diperkenalkan dan didekatkan seperti itu membuat Aku serba salah, sepertinya itu berawal dari kekecewaan mereka padaku selama ini, Aku datang membawa cewek sebelum Intan ke rumah di perkenalkan pada mereka dan akhirnya putus nggak jelas tak ada kecocokan pokoknya nggak jelas juntrungannya sampai Aku merasa cocok dan memperkenalkan Intan. Orang tuaku sudah tidak percaya di situ masalahnya jadi mosi tidak percaya itu membuat dampak terhadap Intan di saat Aku sedang membangun satu kepercayaan dengan keseriusan hilang semuanya, bagaimana Aku meyakinkan kembali orang tuaku kalau pilihanku kali ini adalah serius." Dr Imam panjang lebar berkisah masalahnya.
"Aku menangkap signal jelek Bos, Alya jujur ingin dekat dengan Bos lagi, dan menyalahkan keadaan dirinya yang tidak bisa hamil, intinya itu. Konsultasi padaku kenapa kejadian waktu itu dirinya bisa hamil tapi sekarang berumahtangga hampir setahun belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan."
"Maksudnya apa?"
"Kalau maksudnya Aku tidak tahu, Bos cari tahu sendiri saja maunya apa!" sahut dr Imam sambil tersenyum.
__ADS_1
"Nggak jelas banget, Retno sudah beri Aku ultimatum, mau lahiran di Pekalongan, kalau Alya tak minta maaf pada dirinya waktu kejadian di pasar, Aku jadi bingung lagi apa yang harus Aku sampaikan pada Alya? apa mesti seperti itu baiknya? lalu urusan pastinya seperti apa?" dr Prabu seperti bingung sendiri.
"Itu mungkin hanya ngambek biasa Bos, karena merasa Mbak Retno lagi hamil dan hanya peringatan menurutku biar ada kehati-hatian saja," sambung dr Imam.
"Tapi kelihatannya Retno begitu serius, Aku yang jadi ketakutan masa istrinya mau melahirkan malah pergi?"
.
.
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1