
"Mas Arya"
"Hai Retno, katanya sakit udah sehat lagi?"
"Alhamdulillah Mas, hanya kecapekan saja heeeee..."
"Berapa hari kemarin nggak kerja?"
"Tiga hari Mas."
"Jaga kesehatan dong sudah capek cuaca nggak bersahabat, kurang tidur ya sudah jadi santapan empuk penyakit menyergap kita."
"Iya Mas."
"Aku cuma khawatir takutnya kamu sakitnya keterusan, tadi pagi telephon kamu nggak aktif apa lupa men-cash ponselmu? aku telephon suster Harni ada kok katanya sudah sembuh."
"Heeeee... iya Mas, maaf sudah bikin Mas Arya cemas, berangkatnya pagi banget Mas?"
"Aku belum sarapan, kamu sudah sarapan belum berangkat bareng yuk ?"
"Oh, eh aku masih lama deh kayaknya, masih ada yang mesti di bereskan, soalnya siangnya aku cus lagi ke Tasikmalaya."
"Serius nggak bareng?"
"Iya Mas, makasih lain kali saja."
"Oke, aku jalan duluan ya."
Retno tersenyum mengangguk dan melambaikan tangan."
Retno balik ke kamarnya dengan langkah ringan, dan dr Prabu yang melihatnya merasa marah seakan dirinya tak di beri sedikit pun sikap baik dari Retno, sedang dengan orang tadi Retno begitu ramah ber hai hei dengan senyum manisnya di umbar dengan bebas. Retno melihat benar saja semua sarapannya belum di sentuhnya sedikitpun sama Mas Prabu.
"Persiapkan semuanya selesai kamu kerja langsung kita berangkat aku banyak pekerjaan banyak agenda yang tertunda juga rapat yang di cancel, aku juga meninggalkan adikku Intan, apalagi rumah sakit mau memperingati hari jadi, aku pulang langsung lembur."
"Mas berangkat saja duluan aku nyusul nanti seperti biasa, aku masih mau mengambil pakaian di laundry, juga ada janji dulu sama teman, aku biasa kerja naik motor."
"Aku ingin memastikan kamu nggak ada janji dengan orang yang nggak jelas seperti tadi, dan siang nanti kamu ikut bareng aku dan nggak ada perdebatan lagi titik."
"Mas! nggak jelas apanya?"
"Ayo kita berangkat sekarang."
"Aku mau sarapan dulu dan minum obat, makanan minuman nggak di sentuh sayang mubazir."
"Yang ngasihnya juga nggak ikhlas, gimana mau di makan mau di minum."
Retno cuek saja makan makanan sendiri ada lontong, risol dan kue kue lainnya, dan sisanya di bawa pula di masukan ke kotak makanan plastik bekal, di simpan juga di situ pasti nggak ada yang makan, kalau di tempat kerja apa apa juga terasa enak apalagi di makan bareng.
__ADS_1
"Retno sekali lagi maafkan aku, aku tidak mau orang itu mendekatimu lagi, aku melihat sorot matanya, juga perhatiannya padamu dan aku nggak suka semua itu."
"Mas! Mas Arya itu yang selalu di titip makanan kesukaanku dari Ibu dan Romo ku dari Pekalongan, aku selalu tanya khabar keluargaku, khabar Dimas adikku, Mas tidak bisa merubah ikatan sodara kami, ikatan pertemanan kami, aku tahu aku belum sempat pulang entah sudah berapa bulan, rasanya bertemu Mas Arya adalah pengobat kerinduanku pada keluargaku."
"Tapi dia kelihatan suka padamu."
"Kalau dia memang suka apa salahnya?"
"Jelas salah Retno, karena aku yang mencintaimu! dan yang kamu cintai!"
"Cinta tak pernah menghukum dan menyakiti dan juga mempermainkan rasa cinta itu sendiri, dan aku meminta waktu untuk berfikir ulang Mas, aku perlu tahu sampai isi hati Mas tak ada sedikitpun dendam padaku dan keluargaku, aku selalu di bayang-bayangi semua perlakuan Mas padaku, wajar aku merasa trauma dan paranoid."
"Oke, Retno mari kita buktikan kalau cinta itu masih ada di hati kita, satu yang aku pinta beri aku kesempatan!"
"Oke, aku beri kesempatan aku tak akan marah-marah lagi, tapi satu kesalahan diantara kita yang tidak berdasarkan rasa yang kita jaga atau salah satu diantara kita saling menyakiti akan dianggap penghianatan."
"Dari kemarin aku menunggu kata kata itu dan hatimu cair sayang, cinta itu komitmen, kita berkomitmen mulai hari ini, boleh aku lihat senyum kamu?"
"Nggak."
"Katanya nggak marah lagi..."
Aku memang nggak marah lagi, capek tahu marah melulu."
"Haaaaaaaa...siapa suruh marah-marah, nanti nggak cantik lagi boleh Mas peluk kamu?"
Retno memandang dr Prabu dengan pandangan yang sulit di artikan membuat dr Prabu gemes sendiri.
"Bayar kalau mau senyum!"
"Yah elah...matre banget nih cewek terus berapa harus bayarnya? sana senyum seharian sama tiang listrik biar aku bayar di borong sekalian."
Mau tidak mau Retno akhirnya tersenyum juga, tak terkira senangnya hati dr Prabu terasa mengena semua yang di ucapkan nya, walau semua yang di ucapkan nya terasa kedengaran konyol.
"Berangkat sekarang?" dr Prabu memperlihatkan wajah yang sumringah, dan Retno pun mengangguk dan mulai ada sedikit sungging senyum di sudut bibirnya.
"Bu Harni nggak sekalian berangkat sekarang? coba lihat dulu."
"Nggak bakalan mau, selalu suaminya yang mengantar, kadang aku ajak naik motor tapi tak pernah sekalipun dia mau, serasa belum sempurna memulai hari tanpa ngobrol dan kebersamaan sepanjang jalan suaminya mengantar ke tempat kerjanya katanya."
"Luar biasa banget suami istri itu, bener-bener aku kagum dan sudah langka bahkan hampir punah mungkin yang seperti itu."
"Aku mengagumi segalanya dari Bu Harni, terutama bijaksananya dalam mengambil keputusan."
Dr Prabu manggut-manggut sambil memandang Retno yang lagi mengenakan sepatunya.
"Tapi aku pamit berangkat duluan dulu sama Ibu ya Mas."
__ADS_1
"Oh, ya ya ya tentu aku juga sekalian pamit."
Retno masuk ke ruang depan, dan tak lama keluar sama Bu Harni juga suaminya dengan senyum ramahnya.
"Bu Harni terimakasih banyak segalanya, saya jadi merepotkan Ibu, saya sekalian pamit pulang sambil nunggu Retno pulang kerja nanti siang."
"Sama-sama Pak Prabu, saya senang banget mungkin sama senangnya seperti yang di samping Pak Prabu heeee... jangan kapok ya kapan-kapan main lagi." Retno merona pipinya dan kelihatan salah tingkah.
"Oh, tentu saja nggak bakalan kapok Bu, mungkin tambah sering Ibu yang jangan bosan."
"Heeee...ya sudah jalan duluan, Ibu sebentar lagi nyusul."
Dr Prabu menyalami Bu Harni dan suaminya, lalu berjalan ke mobil dan menghidupkannya, terlihat Retno masih bicara dan menyerahkan kunci juga piring dan cangkir entah apa lagi yang di bicarakannya, terlihat Retno tertawa segala.
Dan akhirnya Retno duduk di samping kursi kemudi, dan mobil mulai melaju menuju ke arah rumah sakit Bandung Medical Center, masih tanpa bicara entah seperti apa perasaan Retno saat ini yang pasti semoga bahagia.
"Retno aku ingin merayakan pertemuan kita, entah kapan waktunya aku ingin mengajakmu makan malam apa kamu bersedia memenuhi undangan ku?"
"Ini kan masih pagi, kok bicaranya makan malam?"
"Aku tahu makan siang aja belum bahkan sarapan juga tadi nggak mood, cuma mungkin karena aku teramat bahagia, apa aku perlu ungkapkan lagi perasaanku padamu?"
"Kayak ABG aja."
"Retno tolong jangan begitu aku ingin berdua denganmu, dan itu juga mungkin harapanmu juga, aku tahu kita telah sama-sama dewasa tapi apa salahnya aku sedikit romantis padamu."
"Boleh aja, tapi kan aku liburnya Sabtu minggu ya mungkin di hari dan malam itu bisa, mau di mana di Bandung atau di Tasikmalaya? mau suasana baru apa menapak tilas kenangan kita?"
"Makasih sayang, nanti aku pikirkan dulu dan mengatur waktunya aku mengikuti waktu senggang mu."
Mobil sampai di halaman parkir rumah sakit, dan Retno bersiap mau turun dengan membuka sabuk pengaman, tapi tangan dr Prabu menahannya dan memegang tangan itu, mau tidak mau Retno memandang wajah yang selama ini menghiasi lubuk hatinya.
"Retno, aku sayang kamu."
Retno tersenyum untuk pertama kalinya dan mengangguk, seperti siraman air es saja di hati dr Prabu, hilang semua sesak, sakit dan kecewa juga marah yang jadi beban yang begitu menggila di dalam hatinya.
"Aku di cafe itu, dan agak siangan mungkin ke ruangan Pak Burhan."
"Mas."
"Hemght?"
"Aku juga sayang Mas."
"Aku tahu itu, sudah nanti kamu nggak fokus kerjanya."
"Aku jalan dulu ya."
__ADS_1
Dr Prabu melepaskan genggamannya, dan menatap Retno yang membuka pintu mobil dan berjalan keluar.
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝