
"Jadi kamu berangkat sekarang ke Bandung?"
"Iya, Rendra."
"Jam berapa sampai Bandung apa nggak kemalaman?"
"Insya Allah nggak, dua jam telatnya atau dua jam setengah sudah sampai, sekarang setengah lima masih banyak waktu."
"Terus jadwal kamu main?"
"Aku kan tinggal nunggu yang menang di penyisihan ini, tadi aku sudah tanya sama panitia dan aku turun lagi di babak selanjutnya selang satu hari dari sekarang, aku ada urusan dulu di Bandung."
"Sebagai sahabat ingin rasanya aku antar kamu, tapi aku harus main dan jadwalnya nanti habis maghrib, maafkan aku ya Retno"
"Oh, nggak apa-apa Rendra, aku sudah terbiasa sendiri dan aku lagi ada masalah dengan pacarku, terimakasih takut malah menambah runcing permasalahan kami, aku harap kamu mengerti ya."
"Kamu yakin?"
"Nggak apa-apa tenang aja, aku hanya perlu introspeksi diri kami masing-masing dan kita mesti melihat permasalahan diantara kami dengan kepala dingin itu saja."
"Bagus itu, semoga ada jalan keluarnya, sepertinya kamu orang nya lembut dan bijaksana Retno."
"Iya Rendra terima kasih, dan jangan terlalu memuji kamu belum tahu saja siapa aku sebenarnya." Rendra menatap Retno yang agak malu mendapat pujian dan nggak enak juga hatinya.
"Ayo, aku cegat kan mobil busnya."
Retno dan Rendra berjalan ke depan rumahsakit, keluar dari mess nya dan melewati lorong panjang dan ke parkiran, lalu ke arah gerbang depan rumahsakit lalu keluar dan berdua berdiri di pinggir jalan dan tak lama bus yang di maksud datang Rendra mencegatnya, Retno melambaikan tangannya sambil tersenyum, bus melaju membawa Retno ke tempat tujuannya.
Aku serasa jadi orang bodoh di hadapan Mas Prabu dan Alya si ulat gatal ke-gatalan itu, sungguh aku nggak mau melihat drama yang di pertontonkan keduanya, apa susahnya mengatakan dan terus terang sama ulat gatal itu kalau kita ada hubungan. Apa segitunya Mas Prabu jaga image dan hubungan baik dengan penguasa mengabaikan satu perasaan yang tersakiti ? sungguh semua tak bisa di terima Retno dan akal sehatnya, apalagi saat emosi seperti sekarang ini, jadi menghindari semuanya perdebatan, pertengkaran dan ribut Retno memilih menenangkan diri itu yang terbaik menurut hatinya.
__ADS_1
Retno anteng sendiri sambil memandang dan membuka-buka ponselnya dan sekalian memakai headset nya, beberapa kali panggilan telephon Mas Prabu di abaikannya, untuk apa ? tadi juga dirinya mengabaikan aku, jelas aku marah, kecewa dan sangat benci keadaan ini dan suasana hatinya saat ini begitu tak enak.
Masih segar di ingatannya saat Retno pamit, dan memberitahu kedua sahabat satu kamarnya Ella dan Ismi.
"Katanya mau istirahat dan biar bisa rileks saat turun lapangan lagi besok, kok malah jalan ke Bandung memang ada apa, apa soal tadi Pak Prabu sama si Alya itu?"
"Menurut aku Mbak Retno, itu masalah kecil dan jangan di besar-besarkan, cancel lah untuk apa ke Bandung ?" Ismi berusaha menahan dan merayu Retno biar nggak pergi ke Bandung.
"Iya Mbak, ngapain diambil hati?"
"Terus,kalau aku di tanyain cowokmu jawabnya apa?" Ismi menambahkan.
"Jawab aja nggak tahu, atau kalau enggak abaikan saja."
"Abaikan gimana?"
"Iya Mbak,kami pasti di kenakan pertanggung jawaban dan pasti pertanyaan pertanyaan yang menyudutkan." Ella seperti tak rela kalau sahabatnya itu pergi hanya karena permasalahan ada cewek yang deketin pacarnya.
"Ya sudah kalau tidak bisa di ganggu gugat lagi, hati-hati dan khabari kita kalau sudah sampai dan selamat istirahat jangan lupa lusa kita jadi supporter lagi ya" Ella yang mau ngantar ke depan di tolak Retno biar tak terlalu banyak pertanyaan yang rata-rata bikin mumet hati dan perasaannya.
Rendra balik lagi ke GOR. Berkelebat di mata dr Prabu dan matanya terus menguntit seperti mata elang menemukan mangsanya, dan dalam pandangan dr Prabu seperti mendapat titik terang, Alya dan Desty yang duduk di sampingnya lagi makan cemilan dan asyik ngobrol, dan dari kejauhan dr Prabu melihat dua sahabat Retno tanpa Retno membuat dr Prabu mengerutkan dahinya, tak bersama Rendra, tak bersama dua sahabatnya Ella dan Ismi dimana Retno?
"Aku balik lagi nanti ya Al, tunggu sebentar aku ada perlu dulu." Dr Prabu pamit keluar dulu.
"Oh, iya dok silahkan."
Dr prabu turun ke bagian bawah dan berjalan ke arah Ella dan Ismi.
"Retno nya di mana La?" Ella dan Ismi saling pandang dan mencari jawaban yang pas untuk di sampaikan pada si pemberi pertanyaan seperti kata Retno terserah mau jawab apa juga.
__ADS_1
"Memang Pak Prabu nggak tahu?"
"Tahu apa maksudnya?"
"Kalau Mbak Retno pergi ke Bandung tadi, dan diantar Kak Rendra ke depannya."
"Apa? ke Bandung? ya ampuuuuun kok nggak bilang aku sih kalau mau ke Bandung?"
Salah sendiri dalam hati Ismi dan Ella, Ismi dan Ella hanya diam dan tak melihat kekagetan lagi di mata dr Prabu karena dr Prabu sudah menghilang dari pandangannya.
Tak perduli Alya dan Desty yang melihatnya dari sejak dr Prabu turun dan menghampiri Ella dan Ismi, dr Prabu bergegas dengan langkah panjang keluar dari GOR yang lagi ramai sorak-sorai saat dr Imam SpOG memperlihatkan aksinya dengan gemilang memenangkan set-set nya dan Intan menjadi yang paling begitu bersemangat di pinggir lapangan.
Seserius ini Retno melihat permasalahan ku dengan si Alya. Apa nggak ada kompromi lagi sih, semua jadi berantakan dan malah pergi dengan tanpa pesan dan mungkin dengan perasaan marahnya.
Diakui Retno saat ini dirinya begitu sensitif dan juga mengakui apa sikapnya terlalu berlebihan ? apalagi yang menyangkut perasaannya dan satu yang di inginkan Retno pergi jauh menghindari keributan antara dirinya dan Mas Prabu.
Keputusan sewaktu-waktu berubah itulah keadaan dirinya masih belum yakin dengan perasaannya sendiri, apakah ini yang terbaik untuk dirinya yang terbaik untuk Mas Prabu dan masa depannya Retno ingin merenung dan meyakinkan dirinya dalam kesendiriannya.
Apa yang terjadi di depan matanya dirinya tak siap, berada di sisi Mas Prabu saat orang lain ada yang menginginkannya, saat orang lain ada yang begitu iri terhadap dirinya saat kehadiran kita diinginkan seseorang jelas membuat kita tak nyaman.
Inginnya Retno dr Prabu mengerti dan bisa mengambil keputusan tepat juga bisa menyelesaikan masalah ini dan Retno baru mungkin merasa dihargai dan di butuhkan.
Dalam kesendirian dan penantian yang begitu panjang telah membuat hatinya kebal dan kuat terhadap apapun, tapi untuk yang satu ini ketidaknyamanan hati ketidaksukaan orang terhadap dirinya ingin semua itu diluruskan terlebih sama Mas Prabu yang menjadi pusat permasalahannya.
Aku bukan orang yang kuat Mas Prabu, aku begitu letih aku begitu lemah aku tak bisa terus-terusan dalam tekanan perasaan dan saat ini aku ingin tenang.
Retno mengusap air mata di ujung bola matanya, begitu sulitnya menciptakan kedamaian di hatinya, begitu susah dirinya untuk mendapatkan suatu keutuhan perasaan yang telah lama dinantinya sekian lama berpisah dengan Mas Prabu tentu banyak hal-hal yang tidak diketahuinya termasuk hubungannya dengan Alya, dan entah dengan yang lainnya, dan semua berbanding terbalik dengan dirinya yang tidak ada satupun orang mengisi hatinya selain Mas Prabu dan kalau orang yang menyukai dirinya Itu masalahnya sendiri semua tidak ada kaitannya dan tak ada di dalam hatinya.
.
__ADS_1
.
.