
"Alya ada di kampung ku jauh di suatu daerah di Jawa Timur."
"Kok bisa?" Desty bengong antara yakin dan enggak, percaya nggak percaya.
"Waktu itu saya dalam perjalanan pulang kampung karena ingin menengok keluarga, orang tua dan kampung halaman. Kampung ku waktu itu dalam musibah bencana alam erupsi gunung yang meletus itu."
"Ya, gue tahu, tapi dari tv."
Rendra berhenti meminum sisa minuman di gelasnya.
"Dalam bus malam saya satu jok berdampingan dengan seorang wanita yang tidak bicara apapun. Tidak bicara sesuatu, tidak memperlihatkan ekspresi apapun, Saat kutanya apa Mbak ini mabuk perjalanan atau pusing atau kenapa?"
Desty menyimak apa yang di ceritakan Rendra. Ini orang bisa di percaya apa tidak?
"Waktu kutanya yang ke berapa kalinya kenapa, dia hanya menjawab sekedarnya. Mengatakan tidak pusing tidak apa dan dia hanya sesekali minum air mineral di botolnya."
Hening.
"Saya terus bertanya mau ke mana barangkali satu tujuan dengan saya. Karena bus malam ini akan berhenti sebelum waktu subuh. Sedangkan dia perempuan timbul perasaan takut saya, takut terjadi apa-apa. Ingin saya menemaninya menjadi temannya walaupun hanya teman dalam perjalanan."
"Masa tak bicara sedikit juga?"
"Saya tanya mau ke mana tujuannya, mau turun di mana dan lanjut mau nyambung ke daerah mana dia jawab nggak tahu, se-berhentinya bus ini saja dan kemana kakinya melangkah ke situ dia berpijak katanya, ya saya heran. Karena kaku ngobrolnya saya ajak kenalan sekalian biar kami merasa akrab, dan bisa mengorek keterangan ternyata dia pergi ke mana tanpa tujuan sama sekali, naik bus juga acak sepertinya tak melihat jurusan mana asal naik yang penting naik bus ke luar kota sudah titik."
"Ya ampuuuuun... Alya, kamu kok segitunya."
"Dari situ kami mulai ngobrol dan akhirnya saya tawarkan ikut ke kampung saya yang lagi kena bencana, juga saya tawarkan jadi relawan di tengah masyarakat yang lagi kena musibah. Siapa tahu ada hikmah dan kebaikan dari pada nggak punya tujuan sama sekali saya juga tahu kalau dia lagi hamil dan minggat dari keluarganya."
"Astagfirullah Alya, jadi sekarang dia ada di kampungnya lo, eh Mas?"
"Ya, dia tinggal di rumah orangtuaku, kegiatannya kalau siang ke barak pengungsian mengajari anak-anak, belajar, bernyanyi dan yang lainnya juga suka bikin kue-kue juga mengajari ibu-ibunya."
__ADS_1
Desty mengangguk angguk mengerti.
"Selanjutnya saya pengen tahu saja seperti di awal tadi pertanyaan saya, benar ternyata perkiraan saya, Alya bukan datang dari keluarga biasa saja dari Alya anak seorang pejabat di wilayah ini saya sungguh tidak tahu tetapi saya melihat dari penampilan awalnya ini orang pasti bukan dari orang-orang biasa kelihatannya bersih, modis, rapi, terawat, dan juga banyak keahlian yang dia miliki bahkan mengataka padaku kalau dia pernah kuliah."
"Jadi Mas Rendra maunya aku yang menyampaikan kepada kedua orang tuanya?"
"Ya baiknya seperti apa, tapi yang pasti Alya dalam keadaan baik-baik saja di tempat orang tuaku."
"Sebaiknya kita bersama saja ke rumah orangtuanya, biar mereka merasa tenang, apa Alya yang menyuruh Mas Rendra menemui saya?"
"Saya memang menyarankan kepada Alya setengah memaksa agar dia bisa mengabari kepada kedua orangtuanya. Tetapi dia tetap tidak mau dan saya memberi masukan lain setidaknya kasih tahu kepada saya dimana orang tuanya biar saya temui. Tetapi dia malah memberikan nomor telepon kamu sebagai sahabatnya untuk bisa menyampaikan semuanya kepada orangtua nya."
"Ah aku nggak mau kalau sendirian, kita berdua saja ke rumah orang tuanya aku takut mereka mendesak sedangkan aku tidak terlalu banyak tahu keberadaannya di sana. Jadi mending Mas Rendra aja yang cerita kepada kedua orang tuanya dan aku yakin orang tuanya ingin menjemput dia ke sana."
"Aku bingung takut Alya belum siap dan masih ingin tetap di sana."
Tapi setidaknya kalau kedua orang tuanya sudah tahu malah mungkin sudah menengok ke sana dan Alya ingin tetap tinggal di sana mungkin akan mengerti. Tetapi saya berpikir kedua orangtuanya merasa lebih baik Alya tidak jauh dari sisinya, Alya anak tunggal anak satu-satunya bagaimana kecemasan mereka dapat kita bayangkan."
"Sekarang saja kita ke rumahnya."
"Tapi aku lagi kerja, sore aja, aku tunggu di kantorku ya?"
"Kantor lo eh, Mas Rendra di mana?"
Rendra menyebutkan alamat kantornya.
"Kan itu mah yang ada rumah sakit TMC kan?"
"Memang kantorku percis sebrang rumahsakit itu, emang kenapa?"
"Oh, nggak apa-apa aku hanya tahunya kalau jalan itu adalah terkenalnya rumah sakit itu."
__ADS_1
"Ya sudah, keluar jam empat sore aku tunggu di sana."
Mereka sepakat dan berpisah, Rendra beranjak dan pamitan jaga Desty menuju ke parkiran menyelesaikan dulu pekerjaannya yang hanya sedikit lagi.
"Alya, Alya pantesan semua sahabat lama kamu juga saudara dannkerabat mu sudah dikeliling sama kedua orang tuamu ditanyain dan dicek tetapi tidak satupun mereka kamu singgahi. Ternyata kamu begitu jauh pergi aku turut prihatin dengan semua yang menimpa dirimu Alya kenapa kamu harus pergi meninggalkan semua masalah? bukankah dokter berupaya bertanggung jawab kepadamu walaupun dia sudah menikah mungkin dia merelakan rumahtangganya demi tanggungjawab terhadap dirimu.
Desty memakai helm dan starter motor lalu menjalankan motornya dengan perlahan.
Terbayang di mata Desty Alya tinggal pengungsian seperti apa dan hidup di tempat orang tuanya Rendra sungguh sesuatu yang bukan kebiasaannya. Tetapi karena keterpaksaan semua dijalani semua itu adalah pendewasaan diri Alya.
Sebenarnya melihat Alya dan mendengarnya ingin menjadi relawan dan mengabdikan dirinya kepada kemanusiaan di pengungsian sungguh luar biasa. Biasa di layani sekarang harus melayani dan terjun dengan peluh, panas, dan debu, ditengah orang-orang yang kesusahan.
Masalah memang tidak selesai hanya ditinggalkan tetap harus dihadapi dan diselesaikan, dengan musyawarah dan kata sepakat.
Biarlah nanti Rendra yang akan langsung ngomong pada kedua orangtuanya, dan akan seperti apa tanggapannya.
Kemungkinan langsung menengoknya, walau sementara mengikuti keinginan anaknya untuk masih tinggal dan menetap di tempatnya Rendra dan aktivitas di tempat pengungsian itu.
Sedikit lega di hati Desty setidaknya tahu keberadaan Alya kini dan dalam keadaan baik-baik saja, bahkan mungkin lebih di baik bandingkan saat berada di rumahnya.
Tak sabar rasanya menunggu bubar jam kantor, Mas Rendra memang jadi apa di kantor itu ya?
Orangnya sopan banget malah dirinya yang suka salah, bilang lo lagi lo lagi padahal dia nggak biasa bicara lo gue, lucu memang.
.
.
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir ( Karya baru yang baru beberapa Bab) By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1