
Pagi berikutnya
"Anak kita aneh aneh ya Pa, Mama takut perasaan suka sama seseorang itu membuat dirinya berperilaku yang tidak biasanya" Mamanya Alya menarik nafas panjang mengingat Alya yang meminta mereka sebagai orangtuanya menjadi penyambung keinginannya.
Alya tak malu bicara perasaannya dan rasa sukanya pada dr Prabu kepada kedua orangtuanya, dan memang dari kecil di ajarkan terbuka dalam hal pendapat dan soal apapun di keluarga kecil itu, baik harapan keinginan dan cita-cita semua jadi obrolan setiap saat dalam keluarganya.
"Itu sudah biasa, kecemasan perasaan anak muda mencari jati diri ya seperti itu, masih dalam batas wajar dalam kesendiriannya pasti ada rasa cemas dan belum punya sandaran mungkin berusaha meminta fasilitas kepada orang tua apa salahnya ? tetapi apa yang harus kita lakukan Ma, Papa terasa saat ini nggak punya kepentingan untuk berbicara dengan dr Prabu, apalagi bicara yang Papa rasa aneh-aneh seperti itu dan memang seperti kata Alya harus ada event yang kita buat tapi anggarannya tidak ada di kantor untuk membuat acara apapun saat ini."
"Iya Pa, kenapa harus dr Prabu? Mama merasa malu mencuri-curi perhatiannya, karena Mama tahu sikapnya begitu dingin atau karena aturan pekerjaan yang mengharuskannya kelihatan serius dan profesional?"
"Mungkin karena kita belum akrab saja, jadi merasa canggung tapi kalau sudah kenal akan akrab dan biasa-biasa saja."
"Terus apa usaha kita Pa untuk mewujudkan keinginan anak kita ? apalagi Mama dengar dari Desty teman akrabnya semua teman-teman seangkatannya sudah pada berumah tangga, merasa sendirinya anak kita walaupun di tengah usaha yang dijalankan begitu maju malah menambah segan seorang laki-laki untuk dekat dengan dirinya"
"Papa juga bingung, harusnya Mama yang punya ide Mama kan lebih banyak bersosialisasi di arisan di pertemuan ibu-ibu perum komplek. Di pengajian rutin sedangkan Papa kan lebih sibuk mengurusi pekerjaan di kantor, Papa hampir tidak punya kesempatan untuk memperhatikan perkembangan anak kita hari ke harinya, atau sekedar mendengar pengalaman orang lain dengan kondisi seperti ini."
"Apa karena kita terlalu mengekang nya sejak awal Alya tumbuh dewasa Pak? sehingga Alya susah mencari teman dan susah sosialisasi mencari pacar, juga harus melibatkan kita orang tuanya ?" Ibu Walikota setengah mengeluh dan mengadu pada suaminya, apa mungkin pikirnya kita sebagai orangtua salah menerapkan pola asuh pada anak mereka.
Renungan dan obrolan saat sarapan selalu diakhiri dengan diskusi yang serius antara kedua orangtua Alya. Mengingat akhir-akhir ini dan mendengar permintaan anaknya seakan berbeda dari permintaan sebelum-sebelumnya.
Permintaan Alya yang dianggap aneh, seperti protes terhadap orang tuanya dianggap Pak walikota Sofyan Wijaya dan Ibu Diah tak urung membuat pikiran keduanya menjadi sedikit cemas. Apa ini sudah menyangkut krisis tidak percaya dirinya Alya dalam memilih pasangan untuk masa depannya?
"Sudahlah dulu obrolan kita Ma, nanti Papa ada waktu kita sambung lagi. Takut kedengaran Alya apa hari ini dia ke tempat kerjanya ? hanya pesan Papa awasi dan awasi setiap saat perkembangan Alya jangan sampai dia ke jalur yang salah yang tidak kita harapkan. Papa takut ketidakpercayaan dirinya membawa Alya kepada hal-hal yang salah tapi semoga tidak sampai seperti itu."
"Iya Pa, sama Mama juga berpikiran begitu terkadang setiap hari Mama lihat Alya begitu ceria, atau terkadang murung mengurung diri di kamar terkadang semangat pergi ke tempat kerja atau malah berleha-leha di rumah dengan banyak alasan yang sepertinya tidak masuk akal."
__ADS_1
"Iya Ma, awasi saja dulu bila perlu Mama sesekali kontrol keberadaannya pastikan dia ada di tempat usahanya. Di bakery nya atau di cafe dan pastikan juga manajemen usahanya itu masih berjalan dengan baik."
"Iya Pa, sudah siang Papa pergi saja mungkin Alya ke tempat kerjaannya agak siangan. Atau mungkin dia tidur lagi cuman Mama heran belakangan ini juga teman akrabnya Desty jarang main ke sini biasanya kalau ada Desty Mama suka ada masukkan informasi, atau apa sajalah yang menyangkut keseharian mereka berdua."
"Papa pergi dulu ya, hati-hati kalau bicara sama Alya jangan sampai merasa di pojokan, merasa disalahkan merasa dihakimi merasa seakan dia tak mampu dan jaga itu baik-baik, yang harus kita usahakan itu tanggapi keluhan dia kasih motivasi dan semangat kalau memungkinkan kasih jalan keluar kasih ide-ide baru dari kita itu yang dibutuhkan dia saat ini"
"Mama faham Pa."
Pak Sofyan Wijaya bangkit dan Ibu juga sama bangkit dari meja makan, membawakan tas kulit suaminya yang disimpan di sofa ruang keluarga mengiringi langkah suaminya ke arah teras. Sopir pribadinya telah lama membukakan pintu mobil dan berdiri di samping pintu mobilnya, ritual rutin suami istri saat berangkat ke kantor atau ke tempat kerja selalu di akhiri dengan cium tangan sang suami dan cium kening istri. Terlantunlah do'a do'a dalam hati sang istri bagi si kepala keluarga dan mengantar kepergian suami sampai mobil yang membawanya hilang di kejauhan.
Mamanya Alya masuk kembali ke ruang makan dan melangkah ke tangga menuju kamar anaknya. Mengetuknya dan mencoba membuka pintunya yang tak di kunci.
Perlahan masuk dengan biasa saja karena memang hari sudah siang. Sudah saatnya Alya bangun kehadiran dirinya di kamar semoga membuat Alya bisa bangun dan itu harapannya. Tetapi Mamanya Alya melihat anaknya masih pulas tidur dengan menutup seluruh badannya dengan selimut.
"Sayang kok belum bangun apa kamu sakit Nak?" Alya tak menjawab tapi Mama Diah tahu kalau anaknya sudah bangun tetapi mungkin karena malas masih tetap dalam posisinya, tapi kakinya terlihat gerak seperti yang diregangkan.
"Ayo bangun mau ke tempat kerja nggak? kalau mau ke tempat kerja Mama mau ikut Mama bosan di rumah sekali-kali mau melihat ke tempat bakery kamu atau melihat suasana di cafe kamu."
"Aku berangkatnya siang aja Ma, tapi aku nggak ke tempat bakery atau ke cafe aku mau menonton pertandingan bulutangkis di GOR rumah sakit TMC."
"Memangnya ada pertandingan bulu tangkis?"
"Iya, memeriahkan hari jadinya rumah sakit itu" Alya masih dalam balutan selimutnya.
"Kamu dari mana tahu ? kalau di rumah sakit itu lagi ada pertandingan?" Mama Diah bertanya penuh selidik.
__ADS_1
"Dari Desty."
"Oh, kok Mama nggak di kasih tahu sih kan Mama juga suka melihat pertandingan olahraga itu."
Alya bangun dan duduk di tempat tidur dengan muka masih ngantuk dan mengucek nya. Dia merasa antusias saat Mamanya juga mengatakan ingin menonton, mungkin kalau nggak sama Desty sama Mamanya juga enggak apa-apa dan akan lebih nyaman dan bisa lebih menarik perhatian dr Prabu dan tidak meninggalkannya kembali seperti kemarin lusa saat dr Prabu menjadi peserta pemain di turnamen di rumah sakit itu.
"Tapi pertandingannya mulai jam 02.00 Ma. Alya mungkin ke cafe dulu dan ke bakery dulu baru kita jalan-jalan dan menonton pertandingan."
"Mama siap."
"Papa, sudah berangkat Ma?"
"Sudah, makanya bangun ayo temani mama sarapan dan kita ngobrolnya sambil sarapan maunya sarapan apa?" Mamanya Alya seperti pada anak kecil saja.
"Apa aja lah Ma, uuuuuught... Alya menguap malas." dan Mamanya membuka gorden.
"Ya sudah, Mama tunggu di bawah ya sayang."
"Ya Ma."
Bu Diah mengusap rambut anaknya yang berurai tak beraturan, tersenyum lalu keluar dari kamar membiarkan Alya malas-malasan sebentar di tempat tidurnya.
"Mandi sana, Mama tunggu di meja makan"
Happy readingโค๏ธ๐๐๐๐
__ADS_1