Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Luka lama


__ADS_3

"Retno sayang, kenapa nggak telephon dulu kalau mau ke sini? kalau hanya soal ponsel Intan biar Intan balik lagi atau Aku yang ambilkan," ucap dr Prabu begitu hati-hati sambil menyodorkan gelas minum pada Retno yang masih diam tak bicara apapun.


Retno tak mengambil gelas yang di sodorkan suaminya, rasa benci pada kenyataan membuatnya malas untuk sekedar bertanya atau meminta penjelasan, Alya adalah bumerang dalam hidupnya juga dalam hubungan dengan suaminya, semua telah melukai perasaan terdalamnya kini semua seakan bagai layar slide membuka kembali luka lama yang mulai sembuh tapi masih berbekas, semua kejadian itu terpampang kembali goreskan luka di bekas yang masih terasa.


Perasaan Retno berdarah lagi hanya airmata yang tak di undang datang mewakili perasaannya, perasaan sakit yang sama saat tahu suaminya ada hubungan dengan Alya dan Alya dalam keadaan hamil di awal pernikahannya saat pelaminan masih wangi bunga melati, Retno pernah pasrah pada keadaan dan merelakan demi tanggung jawab suaminya pada perbuatannya. Sampai pada akhirnya takdir berkata lain, Alya keguguran dan bayinya tidak tertolong di tempatnya mengasingkan diri membuat semua buyar. Retno memaafkan suaminya demi semua yang telah dirinya perjuangkan, juga tadinya ikhlas kalau suaminya harus di tuntut tanggung jawab sebagai orang yang bersalah dan dipersalahkan pihak Alya.


Kini semua seakan mengingatkan kembali dan luka itu bagai duri yang kembali melukai hati dan perasaan Retno, semua datang tiba-tiba dan Retno menyaksikan sendiri suaminya sedang mengobrol dengan Alya berdua makan siang sedangkan setahu Retno tidak ada keperluan dan kepentingan apapun antara mereka ada apa semua ini?


"Mengertilah Sayang semua tidak di sengaja, bicaralah Aku siap dengan jawaban dan pertanggung jawabanku kenapa Aku bisa duduk dengan Alya satu meja tadi itu," ucap dr Prabu sambil memegang tangan Retno yang mengusap airmatanya.

__ADS_1


"Alya lagi konsultasi dengan dr Imam, juga lagi program kehamilan, karena Alya datang terakhir di jam praktek dr Imam akhirnya mereka makan bareng, Aku berniat mencari dr Imam di rumah makan itu mau kasih tahu kalau Intan mau pamitan ada di kantorku di sini, akhirnya dr Imam tanpa bisa dicegah meninggalkan Aku di situ entah Aku terlalu baik atau terlalu berpikir tata krama dan etika akhirnya Aku ngobrol alakadarnya sambil menunggu dokter Imam datang kembali sampai akhirnya Kamu datang begitulah semuanya tak kurang juga tak di lebihkan," dr Prabu berlutut di hadapan Retno.


"Aku hanya mengingatkan dan masih memegang janji kita, salah satu diantara kita melakukan kesalahan itu penghianatan pada cinta kita, mungkin Aku pernah memaafkan Mas Prabu tapi jangan harap selalu ada kata itu untuk ke sekian kalinya." Retno bicara sambil menatap tajam ke arah suaminya.


"Retno, Aku tahu. Aku tidak akan meminta maaf karena itu bukan satu kesalahan bagiku, hanya kebetulan saja. Hanya kebetulan titik. Yang Aku pikirkan kini bukan untuk yang lain hanya Kamu buah hati kita dan masa depan yang lebih baik selebihnya tidak ada di dalam otakku." dr Prabu menaruh kepalanya di pangkuan Retno, rasanya tak sanggup kalau harus kehilangan dan sebentar saja berpisah mungkin kehidupannya berhenti sampai di situ.


"Aku mau pulang!"


"Aku mau pulang!"

__ADS_1


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2