
Duduk di meja makan. Raden Haryo Atmojo duduk duluan di ujung meja lonjong ukiran jati mengkilap coklat kehitam-hitaman, sudah menunggu anggota yang lainnya untuk sarapan bersama. Suasana hening menambah kharisma Raden Haryo Atmojo sebagai pimpinan atau kepala rumahtangga yang di segani dan di hormati.
Di sebelah kirinya Raden Ayu Tri Hapsari duduk dengan anggunnya siap melayani sarapan suaminya.
Sebelah kanannya duduk Dimas Sastro Atmojo, Retno yang datang belakangan dengan dr Prabu langsung di persilahkan duduk.
Retno duduk di samping Adiknya Dimas, sebenarnya harusnya Retno sebagI anak pertama yang duduk di sebelah Romo nya.
Dimas merasa bersalah karena lama Retno tiada hadir di keluarga itu, jadi dirinya menduduki kursi yang biasa di duduki Retno sejak kecil.
Dimas berdiri dan menawarkan kursinya sebagai rasa hormat pada kakaknya, tapi Retno malah mempersilahkan Dimas duduk kembali.
Raden Haryo Atmojo tersenyum begitu juga Raden Ayu Tri Hapsari, melihat tingkah kedua anaknya. Dimas yang begitu menghargai Retno sebagai kakaknya.
"Silahkan Nak Prabu, anggap seperti di rumahmu." Raden Ayu Tri Hapsari tersenyum melihat Dr Prabu masih agak kaku.
"Terima kasih Ibu."
Sarapan di mulai dengan Raden Haryo Atmojo di susul dengan yang lainnya, menuangkan minuman kesukaan masing masing, setelah terlebih dahulu meminum air putih. Ada banyak pilihan minuman tinggal memilih mana yang di suka. Teh jahe merah, susu, teh lemon, teh manis dana lain-lain.
Mbok Sum berdiri tak jauh dari meja makan, menunggu perintah kalau-kalau dari anggota keluarga itu butuh sesuatu dan bantuannya.
Suatu kebahagiaan bagi Mbok Sum, bisa mendampingi keluarga Raden Haryo Atmojo sampai di usianya yang sekarang.
Kesetiaan Mbok Sum dan suaminya Pakde Boyo cukup di hargai keluarga Raden Haryo Atmojo, saking dermawan nya Raden Haryo Atmojo, semua kebutuhannya di cukupi bahkan jaminan hari tuanya juga dalam tanggungan Raden Haryo Atmojo.
Sepetak tanah dan bangunan rumah telah di hibahkan Raden Haryo Atmojo pada keluarga Pakde Boyo, dan semua itu telah di sampaikan pada anak-anaknya agar semua di ketahuinya, juga jangan menganggap keluarga Pakde Boyo orang lain tapi anggap keluarga sendiri.
Sarapan santai, tapi tegang menurut dr Prabu. Semua serba teratur dan tertib tapi semua keluarga biasa menjalani semua itu. Kecuali dr Prabu segalanya serba kaku.
Menu sarapannya Nasi megono, merupakan kuliner khas Pekalongan yang nikmat disantap sebagai menu sarapan.
Nasi megono merupakan hidangan berupa nasi dan sayur megono dari cacahan nangka muda berbumbu rempah.
Nasi megono juga enak disajikan bersama lauk lainnya.
Ada banyak ragam sarapan selain nasi megono di meja makan yang bisa di cicipi saat pagi hari.
Dr Prabu memilih dari beberapa makanan yang agak asing di pandangannya, tanpa banyak bertanya pada Retno.
Selain nasi megono di meja yang terhidang mungkin biasa disajikan dengan tempe mendoan dan garang asem.
Selain sayur megono, terdapat aneka pilihan lauk seperti rendang, telur, ayam suwir dan masih banyak lagi.
"Mas Prabu, selain nasi megono ini, di Pekalongan juga ada menu sarapan enak yang wajib dicoba yaitu soto tauto, apa pernah dengar atau cicipi?" Retno begitu berbinar menawarkan dan bertanya pada dr Prabu.
__ADS_1
"Boleh, Aku memilih soto berkuah ini aja, kelihatan menarik seperti kamu." dr Prabu seperti berbisik pada Retno.
"Ish...sembarangan kalau bicara."
"Lihat kuah kaldu dan tautonya sangat kental dan bumbu rempahnya melimpah sehingga rasanya begitu 'melekat' di lidah, coba ya, walau cocoknya buat makan siang, tapi aku begitu menyukainya di pakai sarapan juga."
Dr Prabu mengangguk tanda setuju, dengan pilihan menu sarapannya.
"Mungkin terasa aneh bagi yang pertama makan, tapi lama-lama akan menikmati juga." Ibunya Retno tersenyum melihat putrinya mengenalkan makanan kesukaannya.
"Anggap aja kalau di Bandung atau Tasikmalaya lontong sayur heee..."
"Iya."
Tapi kalau lontong sayur itu nggak ada dagingnya murni sayur sama lontong saja, tapi soto tauto ini daging yang tekstur dagingnya pun empuk dan lembut, semakin nikmat disantap dengan miso atau bihun rebus."
Dr Prabu mencicipinya apa yang menjadi kesukaan Retno.
"Hemght...enak juga,"
"Selain kuah soto tauto yang gurih sedikit asam manis segar, Soto tauto bisa pilih topping daging dan jeroan atau campur kayak gini nih Mas." Retno menunjukan makanan di depannya dengan wadah-wadah terpisah.
"Cukup dulu, biar nanti nambah deh." dr Prabu mencegah Retno mengambilkan untuk dirinya banyak-banyak.
"Cukup sayang, nanti aku cicip semuanya terimakasih."
Raden Haryo Atmojo dan Raden Ayu Tri Hapsari tersenyum. Melihat putrinya begitu sibuk menawarkan semua makanan kepada tamunya, sampai-sampai sendirinya lupa belum mengambil makanan bagiannya.
Setelah semuanya mengambil bagiannya sesuai selera masing-masing ada nasi megono dan juga ada nasi soto tauto.
Mereka mulai menikmati sarapannya.
"Gimana khabar keluargamu Nak Prabu?" suara Raden Haryo Atmojo mengawali pertanyaan di sela-sela suapannya. Kedengaran suaranya begitu berat dan berkharisma tinggi.
"Baik semua sehat Alhamdulillah Romo, Bapak sama Ibuku titip salam untuk keluarga di sini."
"Waalaikum salaam, syukurlah kalau sehat semuanya, salamnya di terima."
Dr Prabu berhenti sebentar menikmati sarapan menu barunya. Semua khidmat mendengarkan tak ada satu pun yang menyela sebelum Romo nya selesai bicara.
"Romo minta maaf untuk keluarga Nak Prabu, atas sikap Romo yang beberapa tahun lalu, Romo tak bermaksud untuk menyinggung keluarga Nak Prabu, tapi Romo tujuannya ingin menyampaikan keinginan Romo sebagai orangtua pada putri Romo sendiri."
Semua hening, hanya bunyi sendok beradu piring atau tegukan minum juga gelas di simpan dengan hati-hati di atas meja makan.
"Harapan orangtua semua pasti ingin yang terbaik buat anak-anaknya, ingin mengikuti keinginan orangtuanya, tapi pada kenyataannya itu bukan yang terbaik."
__ADS_1
Romo meneguk minumannya dan menatap putri cantiknya, bergantian pada dr Prabu yang sedikit menunduk, lalu beralih kepada anak bungsunya Dimas Sastro Atmojo lalu tersenyum sambil meneruskan bicaranya.
"Romo sampai lupa, kalau anak-anak Romo semuanya Ajeng sama Dimas tidak hidup dalam sangkar juga 24 jam dalam pengawasan dan aturan Romo. Mereka sekolah di luar sana, mengenal berbagai lapisan masyarakat, budaya dan pengaruh luar ilmu lainnya."
"Iya Romo." dr Prabu mengangguk mengiyakan, Retno menunduk saja merasa dirinya jadi objek pembicaraan.
"Kesalahan bagi Romo, mengatur hidup mereka, dan kesadaran itu datang saat Ajeng melakukan protes pada Romo, pindah kuliah dan nggak mau pulang, bertahan tanpa biaya dari Romo, keluarga berharap Retno menyerah dan pulang. Tapi keinginannya begitu kuat sampai pada akhirnya bertemu kembali dengan Nak Prabu."
Dr Prabu tersenyum juga Raden Ayu Tri Hapsari juga Dimas. Retno merona bersemu merah wajahnya merasa malu juga walau di depan keluarganya sendiri.
"Beruntungnya Kamu itu Nak Prabu, dan Romo titipkan mulai sekarang Ajeng di pundak Nak Prabu, iringi langkahnya bahagiakan Ajeng seperti Romo yang selalu ingin memberi kebahagiaan dan senyum di wajah orang-orang yang Romo cintai."
"Alhamdulillah Romo, terimakasih atas kepercayaannya, semoga aku bisa menjadi orang yang bisa membahagiakan Ajeng di sepanjang hidupku." dr Prabu bicara terbata.
"Ya, semoga. Kapan Nak Prabu mau melamar Ajeng untuk jadi istrimu?"
"A-aku? sekarang aja Romo"
"Haaaaa...masa melamar anak Romo di meja makan? tunggu sampai malam lah, biar ada saksi dari keluarga Romo."
"I-iya Romo, maksud saya hari ini juga." dr Prabu merasa malu saking semangatnya.
"Bu, siapkan acara lamaran nanti malam, Dimas undang kerabat Kangjeng Ibu sama Romo untuk acaranya nanti."
"Iya, Romo." Dimas menjawab sambil raut mukanya begitu bahagia.
"Ajeng, apa ini keinginanmu? Romo sudah kabulkan, maafkan Romo mu ini, terasa Romo ingin menebus kesalahan yang telah Romo lakukan."
Retno yang sudah menyudahi sarapannya, bangkit mencium pipi Romo nya dan memeluk dengan sayang, juga pada Ibunya dan terakhir pada adiknya Dimas.
Dr Prabu agak cemberut karena nggak kebagian pelukan, Retno tersenyum dan kembali duduk di tempatnya semula.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
...Hai, readers tercinta! habis baca Biarkan Aku Memilih Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, Berbagi Cinta :"Noda Merah Pernikahan"...
...By mama reni baca, like, comment vote dan beri hadiah juga ya🙏...
__ADS_1