Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Luka Retno


__ADS_3

Praaaaang bruk...Retno menyenggol cermin di sampingnya dan semua berantakan di lantai.


"Astaghfirullahaladzim ya Allah aaaaaaah... Ella, maaf cermin kesayanganmu hancur deh." Retno berjinjit takut pecahan kaca mengenai kakinya lagi. Retno ingin membuka baju kaosnya karena nyangkut pada hanger jadi ketarik dan sikutnya menyentuh cermin yang talinya nyangkut dangkal di paku kecil.


Kaki Retno tetap terluka walau tidak terlalu parah tapi tak urung membuat Retno meringis kesakitan, Ella dan Ismi merasa kaget dan terpekik.


Kaki Retno terluka dan berdarah kena pecahan kaca yang jatuh mental terakhir, Ismi dan Ella memegang tangan Retno dan membimbingnya ke arah keluar mencari lantai yang masih bersih dari pecahan kaca.


Karena di kamarnya tidak ada kotak P3K Ella lari ke ruangan suster jaga untuk meminta antiseptik dan perban. Di situ ada suster kepala Miranti yang masih berpakaian olahraga masih berkostum saat tadi tampil mungkin baru mau pulang tetapi berpesan dulu kepada suster yang jaga saat itu.


"Red jaket ada apa panik gitu?" Suster kepala Miranti menatap Ella yang sedikit tersengal.


"Retno, suster kena pecahan kaca kakinya, saya mau meminjam kotak P3K."


"Astagfirullah, terluka? apa serius?"


"Sedikit suster biar saya yang tangani," Ella menerima kotak P3K dari suster jaga.


"Tak apa mari Ibu bantu." suster kepala Miranti mengikuti Ella yang berjalan duluan menuju ke kamar mess nya.


"Coba sini Retno, biar Ibu lihat dulu takut masih ada beling yang menempel di lukamu."


"Maaf, aku jadi ngerepotin Bu Miranti." Retno merasa nggak enak padahal dirasa lukanya tidak terlalu serius mungkin hanya robek sedikit cukup dikasih antiseptik dan di plester semua sudah selesai.


"Ish...nggak usah ngomong gitu, luka kecil kalau tidak ditangani dengan benar semua akan berubah menjadi besar."


Suster kepala Miranti mengoleskan pencuci dan memeriksa luka yang agak sedikit panjang, dan juga ada goresannya membersihkan semua darahnya lalu memberikan antiseptik lalu memasang perban.


Ismi sibuk menyapu lantai dan membuang sisa pecahan kaca ke tempat sampah.


"Sudah selesai, kamu baik-baik aja kan Retno?"suster kepala Miranti menatap Retno.


"Iya Bu, saya baik-baik saja cuma lunglai habis bermain lima set, terima kasih telah mengobati saya."


"Heeee...sama saya juga lima set, apalagi aku usia sudah di atas kalian yang masih muda-muda masih pada kuat masih semangat tinggi."


"Tapi Bu Miranti mainnya masih bagus kok."


"Ya bagusan kamu lah Retno, dan kalau kita ketemu di partai final mungkin akan lucu ya?"


Semoga aku masuk final Bu Miranti, tapi aku berharap Jangan Ibu yang akan menjadi lawan saya karena saya akan menjadi dilema tidak sopan rasanya mengalahkan pimpinan heee..." Retno sedikit bercanda.

__ADS_1


"Oh jangan punya pikiran begitu Retno, kalau kamu punya pikiran begitu permainan Kamu tidak akan keluar dan tidak akan cantik lagi."


"Iya Bu."


"Ya sudah istirahat, lukanya sudah di obati kalau bisa jangan kena air dulu, saya pulang ya."


"Ya Bu Miranti, sekali lagi terimakasih."


"Ya ya ya."


Di koridor rumah sakit suster kepala Miranti bertemu Intan dan dr Imam SpOG yang lagi asyik berdua jalan ke parkiran.


"Eh Bu Miranti, baru mau pulang ya Bu?" Intan pertama manggut dan menyapa dengan senyum dilihat suster kepala Miranti dirinya jalan dengan dr Imam SpOG Intan merasa malu.


"Iya Intan, dr Imam kalian juga sama mau pulang? apa kalian melihat dr Prabu tidak, sepertinya aku tak melihatnya sore ini di GOR?"


"Iya Bu Miranti, saya juga tidak melihatnya dan sedang mencarinya nggak tahu sejak sore sepertinya menghilang begitu saja, jangan-jangan dia sakit dan pulang duluan ke rumah makanya saya mau pulang ini."


"Oh ya, sudah dulu ya semoga tidak terjadi apa-apa dengan direktur dan baik-baik saja, saya duluan pulangnya ya."


"Iya Bu Miranti, mari silahkan


"


"Oh, itu tadi habis melihat Retno luka kakinya kena pecahan kaca di kamar mess nya, dan saya mengobatinya dulu, nggak apa-apa luka ringan saja cuma agak panjang." suster kepala Miranti berlalu.


"Ya ampuuuuun...Mas, aku melihat dulu Mbak Retno akh"


"Ya sudah, ayo balik lagi."


Intan dan dr Imam kembali ke belakang, Intan langsung memasuki kamar Retno yang lagi melihat-lihat ponselnya sambil minum dan menjulurkan kakinya kelihatan lagi santai sambil ngobrol dengan kedua temannya.


"Eh dr Imam sama Intan, mari masuk belum pulang Tan?"


"Belum Mbak, Mbak Retno kecelakaan ya kata Bu Miranti kok bisa sampai pecah kacanya?"


"Iya Tan, tapi nggak serius kok luka kecil sudah diobati tapi lumayan agak sakit, semoga dua hari yang akan datang normal lagi dan aku masih bisa turun di babak semifinal."


"Iya Mbak Retno, cepat sehat ya."


"Iya Intan, nggak usah khawatir terima kasih."

__ADS_1


"Mbak tahu nggak di mana Kak Prabu? barangkali kasih khabar ke Mbak Retno?"


"Intan, justru aku mau bertanya pada kamu tapi aku malu."


"Tahu tuh orang kemana suka aneh-aneh deh kelakuannya ampun." Intan setengah menggerutu.


"Nggak apa-apa Intan, nanti juga balik lagi sudah bukan anak kecil lagi kok."


"Ya sudah Mbak, aku pulang dulu ya."


"Mari Retno" dr Imam berpamitan juga.


"Ya ya ya hati-hati Intan, maksudnya dengan yang di sebelahnya heee..."


"Iya Mbak, aku sangat hati-hati banget tenang aja masih aman dan terkendali hehehe..."


Dr Imam tersenyum kecut kenapa aku mesti jadi pusat hati-hati?memangnya aku ada potongan galak? kalau aku ada potongan sadis? atau bahkan ada potongan sebangsa yang menakutkan apa? Dasar cewek memang susah dimengerti.


"Mas Kak Prabu bener-bener tuh orang nggak datang, nggak hadir, ke mana ya dia aku jadi khawatir juga Mas kita langsung pulang ya? siapa tahu dia lagi sakit di rumah."


"Katanya mau jalan keluar kok pulang sih?"


"Iya, nanti kan jalannya aku mau mandi dulu masa jalan sama pacar nggak mandi dulu memangnya Mas mau bawa cewek nggak mandi?"


"Nggak apa-apa kamu tetap cantik kok, aku juga nggak mandi tapi aku nggak mandi karena takut."


"Takut apa maksudnya?"


"Takut kegantengan."


Intan merasa terjebak oleh kata katanya sendiri dan hanya memandang dr Imam dengan senyuman.


Mobil keluar dari parkiran rumah sakit dan intan mencoba menelephon kembali Kakaknya tapi terdengar nada tidak di angkat.


''Bener-bener nggak mengerti Kak Prabu Mas, tanpa pesan pada siapapun menghilang bersama cewek yang anak walikota itu yang mengejarnya."


''Biarin saja, dia sudah besar seperti kata Retno, ngapain pusing mikirin urusan orang, yang penting kita nanti jalan untuk pertama kalinya dengan status pacaran.


.


.

__ADS_1


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai doping up nya 🤦😆💝🙏


__ADS_2