
"Al, Alya lo di mana sih?"
Desty dengan suara khasnya yang cempreng dan bawel masuk tanpa salam tanpa ketuk pintu, dan langsung menerobos ke kamar tempat Alya istirahat di cafe nya.
"Apaan sih lo teriak-teriak tinggal masuk juga kayak Tarzan aja, emang ini hutan apa?" Alya melotot memandang Desty.
"Ketus amat lo Al, apa lo nggak mau dengar khabar baik gue hari ini?"
Alya lagi tiduran sambil melihat lihat ponselnya, kembali melihat ponselnya saat Desty duduk di tempat tidurnya.
"Woi... di tanya orang itu jawab dong non!"
"Apaan yang mau lo kabarin sama gue? lo teman gue cewek satu satunya yang belum menikah. Mau ngabarin ada teman menikah lagi apa? menikah lagi menikah lagi seperti yang lainnya atau khabar tunangan gitu sama gue heh?"
"Astaga apaan li sensitif banget sih Al? biarin mereka nikah, atau kawin juga kumpul kambing juga, mau tunangan itu sudah jodohnya, kenapa jadi lo yang kayak makan anak lebah gitu setiap denger ada teman yang nikah lo kayak tersengat lebah heh? gue merasa biasa-biasa aja tuh karena jodoh gue belum datang lo sepertinya gatal amat."
Alya diam dan kembali melihat lihat ponselnya dan Desty kesal juga keki banget karena di cuekin, lalu merebut ponsel Alya karena Alya tak menggubrisnya. Alya melotot, Desty juga sama melotot dan saling melotot akhirnya tertawa bersama.
"Apa lo? khabar apa yang lo bawa buat gue, gue kesel tahu sama lo Des"
"Haaa...kesel kenapa? karena lo sakit pura-pura itu nggak berhasil menarik perhatian tuh dokter heh? masih untung lo nggak di suntik tiap satu jam sekali."
"Enak aja, emang gue rabies apa pake di suntik tiap satu jam sekali?"
Desty terkekeh sendiri membayangkan si Alya begitu takutnya jarum suntik, sedang yang dia incar adalah seorang dokter.
"Rencana lo nggak ada yang jitu tahu, semua Gatot alias gagal total."
"Hai itu kan cuma saran, dan masukan solidaritas teman mau berhasil nggak nya kan itu namanya usaha Non! daripada suka sama orang tapi nggak ada eksyen sama sekali ya mending ide gue di lakukan."
"Khabar apa yang lo bilang tadi hah?"
"Ntar salah lagi ujung-ujungnya salahin gue lagi."
"Kayaknya gue harus cari teman yang sudah pengalaman benar-benar dan membuktikan cara-cara yang baik bukan sama sama jomblo kaya lo."
__ADS_1
"Haaa...silahkan, iris kuping gue kalau dalam satu Minggu lo nggak telephon dan butuh gue, berteman sama Ibu-Ibu arisan komplek biar lo di kasih pengalaman dan pencerahan gimana menyenangkan suami dan meredakan tangis anaknya yang rewel dan nakal."
Alya hanya diam.
"Gue bawa khabar, kalau lo masih ngejar tuh dokter?"
"Maksudnya apaan Des?"
"Lo selalu mencela setiap ide gue tapi selalu antusias mendengarnya heran gue!"
"Kali ini gue denger heee..."
"Tuh di rumahsakit nya yang dokternya lo taksir lagi ulangtahun dan merayakan hari jadinya. Mengadakan turnamen bulu tangkis yang akan berjalan lumayan lama satu minggu sampai dua mingguan pasti tuh dokter yang lo kecengin ada selalu di GOR itu, kalau lo masih berminat nonton dan pantengin tiap sore mulai jam dua siang."
"Hah? apa Des serius lo?"
"Janganlah antusias berlebihan Al, gue jadi sedih nih, lo begitu berharap banget tapi gue takut lo mentok lagi dan lagi akhirnya gue yang kena sasaran lagi, padahal gue niatnya baik sama lo."
"Katanya gue harus semangat? lo ini gimana sih gue jadi nggak ngerti."
"Ngomong apa lo? brengsek lo! malah kasihani gue, emang gue sebegitu memprihatinkan butuh status baru? pokoknya nanti kita ke GOR rumah sakit itu siang nanti lo ikut gue ya Des."
"Ya, ya ya Non!"
"Gue akan berusaha semaksimal mungkin Des kalau semua gagal gue jujur nggak nyalahin lo kali ini, tapi gue pasrah kalaupun harus di jodohkan sama Mama Papa gue."
"Semoga berhasil Al dan gue biarin jadi teman perempuan lo yang nikahnya terakhir."
"Ya lo juga berusaha lah, kalau bisa kita nikahnya bareng."
"Maksud lo kawin apa nikah?"
"Nikah lah kan kawin mah lo sudah kan? haaa..." Alya malah balik menggoda Desty sahabatnya.
"Iya iya...cuma lo yang nggak doyan di suntik"
__ADS_1
"Gue suntik jarum yang phobia semprul! tapi kalau suntik yang lain sepertinya kalau sudah di coba akan jadi ketagihan dan semakin ingin mencoba dan merasakannya."
"Yeeeee...kalau suntik tumpul itu mah bikin mendesah tujuh tanjakan heee..."
Desty begitu sedih melihat usaha yang di lakukan Alya dan begitu gigihnya Alya dalam memperjuangkan usahanya untuk memiliki kekasih, seorang suami dan ujung-ujungnya berumah tangga, besar keinginannya untuk segera merubah statusnya untuk menjadi seorang Ibu rumah tangga, istri dari seseorang yang selalu diucapkan setiap saat mereka bertemu dan setiap mereka ngobrol, tapi sampai saat ini belum ada yang cocok dan mampir mengisi hatinya.
Dan terkadang Desty juga merasa takut kalau jodohnya datang duluan akan seperti apa perasaannya Alya. Terkadang Desty tidak mau ekspose hubungannya dengan seorang laki-laki yang sekarang sedang serius di jalaninya, biarlah Alya menganggapnya sama-sama jomblo saja seperti dirinya, padahal Desty sedang merancang masa depannya sendiri.
Besar keinginan Alya menjadikan seorang dokter itu yang menjadi idaman hatinya menjadi kenyataan, memang tak muluk untuk ukuran seorang Alya cuman Desty melihat sikap Alya agresifnya akhir-akhir ini saat teman-temannya mulai satu persatu mulai menikah, mungkin kepikiran nya saat ini seiring bertambahnya usia yang semakin merambat naik.
"Al, sebenarnya gue juga mau bilang sama lo kalau gue sudah masuk kerja dari kemarin kemarin, sebagai tenaga pemasaran hasil produksinya bantu-bantu aja dulu di usaha Paman gue tapi masih coba-coba."
"Serius lo Des?"
"Iya Al, maafin gue ya!"
"Kok jadi lo yang minta maaf? kan itu hak lo nggak ada keharusan gue untuk melarang-larang lo."
"Iya, tapi gue nggak bisa temani lo setiap saat lo butuh, gue ingin masa depan juga kaya lo jadi gue memulai, juga gue mencari seseorang yang serius juga, bosan gonta-ganti pacar melulu heee..."
"Bagus lah, walau gue akan kehilangan dan merasa sendiri tapi kan kita harus punya tujuan, seperti gue yang bosan dengan status sendiri ingin kalau ada yang cocok segera merubah status gue."
"Tapi gue masih sempat kok nengok lo dan khabar-khabari, kerja gue hanya memasarkan hasil jahitan dan bordir ke pasar pasar tradisional karena pekerja Paman gue yang kemarin berhenti tanpa sebab, siapa tahu ada cowok yang memasarkan diri juga cocok buat gue haaa..."
"Iya Desty jodoh siapa tahu, datang dimana saja dan kapan saja tanpa kita tahu, selamat ya... semoga betah lo mulai kerja dan
semoga dapat jodoh juga di lingkungan baru lo."
"Sementara ini gue kerja hanya tiga hari seminggu, tapi nggak tahu kalau nanti sudah ramai mungkin full seminggu."
Alya menatap sahabatnya dekat, sahabat baiknya, sahabat konyolnya, sahabat gilanya, sahabat dari masa-masa sekolahnya, hanya Desty yang di perbolehkan kedua orang tuanya masuk dengan bebas di rumahnya, mungkin karena di batasi pergaulan anaknya.
Seorang pejabat mungkin begitu Papa dan Mamanya Alya sangat selektif dalam hal apapun, termasuk pergaulan anaknya, dan Desty kenal keluarga ini dari mulai Papanya Alya menjadi anggota dewan dan sekarang menjabat walikota.
Mungkin dari pergaulan yang di batasi juga sehingga Alya tumbuh menjadi seorang yang kurang percaya diri dan agak sedikit manja, dan kurang soal pergaulan dan sahabat walau masih punya satu dua sahabat kampusnya semasa kuliah tapi pada jauh tak seperti sama Desty telephon butuh teman ngobrol dan curhat langsung nongol.
__ADS_1
Kehilangan semua sahabat masa kecilnya sampai sekarang saat butuh-butuhnya dirinya, teman curhat dan dukungan membuat Alya begitu mendung di mata Desty walau kelihatan bahagia temannya mulai kerja dan menatap jauh masa depannya.