
"Halo, Assalamualaikum Bu Harni, apa khabarnya?" dr prabu memulai pembicaraannya.
"Saya baik Pak Prabu, Pak Prabu sendiri bagaimana khabarnya?"
"Alhamdulillah aku baik, mungkin begini menjadi laki-laki yang tidak berguna, saat istrinya hamil aku tak bisa sedikitpun memberi perhatian."
"Sabar Pak Prabu, semua akan ada saatnya, saya membawa khabar baik dari Retno, Retno mungkin sudah benar-benar memaafkan dan ikhlas dengan segalanya."
"Tadi tadi pagi Retno mengijinkan saya, untuk memberikan nomor ponselnya pada Pak Prabu."
"Ya Allah, benarkah itu Bu Harni?"
"Iya, semoga kedepannya lebih baik lagi Pak Prabu."
"Terimakasih banyak Bu Harni, nanti saya akan menelephon Retno setelah selesai pekerjaan, tak sabar rasanya ingin mendengar suaranya."
"Retno sudah hampir selesai skripsinya, hanya tinggal revisi mungkin di beberapa bab saja. Saya juga nggak sabar ingin segera melihat Pak Prabu menjemputnya ke sini."
"Pasti Bu, saya akan menjemputnya saya akan membawanya pulang dan berharap tak ada lagi yang menyakiti hatinya, saya hanya tinggal menunggu lampu hijau persetujuan Retno kapan mau di jemput." ujar dr Prabu kedengaran sedih.
"Ibu selalu wanti-wanti dengan kehamilan pertamanya, Ibu memang cerewet dalam segala hal kalau untuk kebaikan."
"Nggak apa-apa Bu mending begitu biar jadi kehati-hatian."
"Ya sudah Pak Prabu, nanti nomor Retno Ibu kirimkan ya."
"Ya Bu."
Sambungan telepon terputus. Dr Prabu menunggu nomor teleponnya yang akan dikirimkan Ibu Harni, tak terkira rasa hati dr Prabu gembira luar biasa dan memikirkan apa yang pertama akan diucapkan saat dirinya menelepon Retno nanti.
Notifikasi ponselnya berbunyi satu nomor kiriman Bu Harni langsung di simpannya dengan nama 'Mama Tersayang' dr Prabu melihat kapan terakhir Retno menengok ponselnya, kelihatan sekarang juga lagi online.
Ingin rasanya saat ini juga dr Prabu menelephon, dan mendengar suara Retno yang sudah lebih sebulan tak mendengarnya.
Tapi apa yang akan dikatakannya? dr Prabu merasa bingung merasa dirinya tak pantas untuk mengatakan apapun.
Hatinya takut, takut menyakitinya lagi, takut menyinggungnya takut salah dan tak ada keberanian, semua kalah oleh rasa bersalah.
Dr Prabu menyimpan ponselnya, lalu mengambilnya kembali dan menimbang-nimbang apa yang seharusnya dilakukan.
Dr Prabu menulis singkat pesan semoga Retno bisa membacanya.
Sayang, aku sudah menyimpan nomormu.
Lama menunggu pesan hanya centang dua, artinya sudah terkirim tapi masih warna hitam belum biru yang artinya sudah di baca.
Mengingat istrinya Retno adalah hal terindah yang bisa dilakukan dr Prabu, dalam sepi dalam diam atau di tengah keramaian hanya Retno yang mengisi relung hatinya, betapa kehadiran Retno dalam hidupnya tak pernah tergantikan oleh siapapun.
__ADS_1
Satu kebahagiaan datang dari kabar kehamilannya, juga sekaligus jadi kesedihannya.
Betapa tidak bahagia seorang suami menerima kabar kalau istrinya hamil mengandung anak buah cinta mereka, di satu sisi kesedihannya dr Prabu tidak bisa mendampingi di awal-awal kehamilan Retno.
Retno menjalani awal kehamilannya seorang diri tenggelam dalam masalah yang membelitnya dengan kesibukan yang di sibuk-sibukan.
*****
Dr Prabu sore ini berniat menemui Alya, di alamat yang disebutkan seorang Ibu-ibu
saat rumah sakit.
Ingin rasanya dr Prabu bicara dari hati ke hati dengan Alya memberi support dan semangat untuk masa depannya, meminta maaf atas semua yang telah terjadi terlepas dirinya atau Alya yang bersalah dalam hal ini.
Satu lagi permintaan maaf atas keputusannya, akan menikahinya menjadi keputusan yang tidak bisa dilanjutkan. Karena semua sudah tanpa alasan lagi.
Tak terasa dr Prabu sudah jauh membawa mobilnya tinggal mencari lokasinya saja karena ini bukan di kota besar tetapi di kampung dan pedesaan. Semua orang pasti tahu saat kita bertanya mengatakan seseorang atau alamat.
Sampai di satu rumah yang lumayan besar untuk ukuran rumah di pedesaan, dr Prabu celingukan dan berjalan ke teras rumah yang kelihatan sepi.
Sebelum mengetuk pintu seseorang membuka pintu dan bapak-bapak muncul dari balik pintu.
"Assalamualaikum, Pak."
"Waalaikum salaam, Bapak cari siapa?"
"Oh, Bapak yang menolong Nak Alya kemarin itu?" bapak itu mempersilahkan dr Prabu untuk masuk, tapi dr Prabu malah duduk di kursi teras.
"Cukup di sini saja Pak."
"Ya sudah biar saya panggilkan Ibunya juga Nak Alya." ya Pak terimakasih.
Selang beberapa saat muncul pertama Ibu-ibu yang kemarin yang memberikan alamat rumah ini pada dr Prabu. Tak lama Alya juga keluar.
Alya begitu kaget saat melihat dr Prabu yang duduk di teras yang di katakan Bapak Rendra seseorang mencarinya.
Sejenak Alya tertegun dan terpaku di tempatnya berdiri, dr Prabu meaandangnya Alya juga sama seperti mereka belum kenal, Alya duduk sambil menghilangkan kekagetannya.
"Oh, alah Neng kita kedatangan tamu istimewa dokter yang menolong dan membawa kamu kemarin ke rumah sakit, apa khabar dokter?" Kelihatan wajah Ibunya Rendra sumringah.
Ibunya Rendra menyalami dr Prabu.
"Kalian belum kenal kan?"
"Oh, iya kenalkan saya Prabu." dr prabu menyebutkan namanya sambil menyodorkan tangan ke hadapan Alya, Alya menyambutnya sambil menyebutkan namanya.
"Ibu lupa nama dokter, heee... maklum sudah tua, jadi Ibu juga lupa kasih tahu Nak Alya orang yang menolong mu kemarin itu.
__ADS_1
"Nggak apa-apa Bu, sudah selayaknya kita saling menolong, dan keberadaan saya di sini juga untuk menolong sesama yang terkena musibah."
"Silahkan ngobrol dulu, Ibu bikin minum dulu."
"Ya Bu, silahkan."
Ibunya Rendra beranjak ke belakang, dengan membungkuk mungkin hatinya senang kedatangan orang baik yang menolong Alya kemarin.
Tinggal Alya dan dr Prabu dalam diam, dalam kekakuan.
"Al, apa kamu baik-baik saja? apa masih ada keluhan yang di rasa?" dr Prabu memulai dengan sapaannya.
"Alhamdulillah, nggak ada. Aku merasa lebih baik."
"Syukurlah, aku tak ingin membahas soal apapun, asal kamu baik-baik saja itu sudah cukup, kalau bisa anggap kita baru kenal di sini."
Alya diam, tak bisa mencerna apa yang di ucapkan dr Prabu.
"Aku sangat menghargai keputusanmu berada di sini, juga ibu dan bapak angkat mu."
"Terimakasih telah menolongku, begitu banyak hikmah yang bisa aku petik dari semua kejadian ini.
Satu lagi maafkan aku, telah merepotkan semua orang."
"Jangan meminta maaf, semua sudah ada ketentuannya. Aku sudah menikah dan istriku sekarang lagi hamil, tadinya aku berniat untuk menikahi mu walau rumahtangga ku jadi taruhannya."
Alya diam sambil menunduk.
"Aku gamang antara rumah tanggaku dan tanggungjawab terhadap mu, sekarang Yang Maha Kuasa menunjukkan Kuasa-Nya, mungkin ini jalan terbaik yang selalu aku pinta dalam do'a-do'aku selama berada berada di sini."
Ada tetes airmata dari mata Alya, membasahi ujung kelopak matanya dan menetes sebagian di pipinya.
"Maafkan aku Al, aku harap setelah kejadian ini kita bisa menjalani dan menapaki kehidupan kita yang sebenarnya, kita saling do'akan semoga masa depan kita lebih baik. Terutama masa depanmu walau tanpa aku."
"Ya dokter, aku mengerti hanya kata maaf yang bisa aku pinta dengan se-sadar-sadarnya."
"Do'a terbaik buatmu kedepannya, Aku tidak bisa berlama-lama di sini, banyak yang harus aku persiapkan juga masa-masa akhir keberadaan ku di sini mungkin di percepat."
Alya tersenyum sambil mengusap airmatanya, pertama kali dr Prabu melihat senyum tulus dari Alya.
.
.
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir ( Karya baru yang baru beberapa Bab) By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1