
"Intan pulanglah tapi jangan dalam keadaan marah begitu, Aku merasa tak enak banget, semua akan baik-baik saja, Kamu telah mencuri hatiku tak mudah bagiku berpaling apalagi Vionna Aku tidak tahu seperti apa orangnya, Aku hanya ingin memperlihatkan ketaatan kepada orang tuaku saja tapi selebihnya Aku akan menolak tapi secara pelan-pelan beri Aku kesempatan dan kepercayaan," ucap dr Imam sambil memegang jemari Intan yang diam sejak mereka bertemu dan sekarang mereka lagi ngobrol di taman belakang rumahsakit.
"Aku tak bisa bayangkan Mas Imam bertemu seseorang yang di peruntukkan buat Mas Imam, pasti semua akan berbeda dari ucapan sekarang, bukan soal keraguan cinta kita tapi kalau sudah menyangkut keinginan orangtua semua akan sulit dibantahkan," jawab Intan dengan perlahan.
"Intan, tolong beri Aku kepercayaan, kalau kita bisa melewati semua ini, pulanglah nanti malam minggu Aku janji akan datang ke Bandung," ucap dr Imam begitu ingin Intan percaya pada janjinya.
"Memang seharusnya Aku pulang, banyak yang Aku abaikan di kuliah akhirku, jangan berjanji kalau mau datang datanglah jadi Aku tidak menunggu, kalau sudah janji mungkin Aku tunggu," ucap Intan sambil mengambil tasnya dan mengaitkan di pundaknya.
"Tapi Aku akan usahakan datang, untuk keseriusanku Intan." dr Imam memperlihatkan keseriusannya kalau dirinya begitu berat kepada Intan.
"Semoga saja Mas bisa datang!"
"Aku Akan berusaha memenuhi janjiku Intan, ayo kalau mau berangkat sekarang Aku antar ke depan gerbang."
Intan tak menjawab hanya bangkit dan berjalan dengan tanpa ekspresi, sulit di bayangkan kedatangannya kali ini yang sejak awal begitu di sambutnya dengan suka-cita dan kebahagiaan, tapi mendapatkan kenyataan di luar ekspektasinya.
Sambutan dingin kedua orangtua dr Imam begitu menyakitkan hati Intan. Akhirnya dr Imam jujur juga kalau dirinya dijodohkan dengan sepupu jauhnya bernama Vionna atas dasar tak ada lagi kepercayaan orangtua dr Imam karena seringnya ganti pacar dan putus berulangkali setelah dikenalkan pada mereka.
Mungkin hilang kepercayaan kedua orang tuanya membuat mereka mengambil langkah lain harus segera memperkenalkan dengan seseorang dan segera menjodohkan dan menikahkan mereka.
Semua pendapat dr Imam di bantah kedua orangtuanya dengan alasan tidak lama lagi mereka akan putus, apalagi Intan dalam masa-masa masih kuliah mungkin menurut pikiran orang tua dr Imam Intan masih lama untuk bisa diajak serius dan kemungkinan untuk serius juga masih jauh.
Tak sampai di situ, banyak alasan kedua orangtuanya dr Imam yang sangat tidak masuk akal menurut dr Imam sendiri, termasuk sikap yang drastis kedua orangtuanya terhadap Intan yang kali ini sudah begitu dekat dan dr Imam akan segera melamarnya setelah Intan selesai kuliah.
__ADS_1
"Jangan banyak pikiran, Aku akan mengabarkan apapun soal besok, semua masih bisa di bicarakan, belum tentu Vionna juga merasa cocok denganku karena kami sama sama dikenalkan sama orangtua." Dr Imam menggandeng Intan tapi dengan perlahan Intan melepaskan.
"Ambil ponsel kamu di kantor Kakakmu, tadi Retno yang antar ke sini," ujar dr Imam melirik Intan yang berjalan di sampingnya.
"Oh, ya ampun. Aku jadi lupa begini jadi ngerjain Mbak Retno." Intan sekan bicara pada dirinya dan menyalahkan sendirinya.
Dr Imam mengantar Intan dan mencegat bus menuju Bandung, Ada rasa lain di hati Intan berpisah kali ini, hatinya begitu jauh dan merasa semua harapannya akan hilang.
Berpisah hanya anggukan dengan senyum yang di paksakan membuat hati dr Imam merasa sakit dan bersalah, mungkin ini cobaan cintanya yang harus mereka lewati.
Dengan lesu dr Imam kembali ke ruang prakteknya, suster Erna yang menemaninya merasa heran melihat perubahan yang terlihat dokter yang didampinginya.
"Masih banyak pasien yang belum masuk Sus?" sapa dr Imam pada suster Erna.
"Tinggal beberapa saja dok, tapi tadi yang sudah masuk Bu Alya masih menunggu juga," sahut suster Erna sambil melihat kertas di tangannya yang di contek dari absensi dan antrian di depan.
"Masih nunggu dokter, katanya masih ada yang mau di konsultasikan."
"Bukankah sudah selesai tadi sebelum makan siang? dikira sudah pulang?"
Suster Erna hanya mengangkat bahunya, tak mengerti juga, memang kadang pasien ada yang aneh merasa tidak cukup waktu dan ingin semuanya di konsultasikan bukan hanya keluhan saja.
"Ya sudah mulai saja!"
__ADS_1
"Baik dok."
Akhirnya sampai juga pada Alya lagi, dr Imam mengerutkan dahinya saat Alya datang dengan senyuman.
"Aku hanya berterima kasih saja dok karena tadi tak sempat pamitan, makasih juga waktunya karena dokter begitu pengertian telah mempertemukan Aku dengan dr Prabu, Aku jadi lama ngobrol tadi sampai istrinya datang," ucap Alya kelihatan mukanya begitu senang.
'Astagfirullah, jadi Retno datang ke sini?'
"Ya ya ya, Bu Alya sama sama, mungkin kalau sudah tidak ada yang dikonsultasikan lagi Aku akan menutup praktek hari ini, dan mempersiapkan praktek malam nanti, dan Aku perlu istirahat dulu," ucap dr Imam sambil membereskan berkas di mejanya dan menyimpan alat prakteknya.
"Baiklah Aku pamit yan dok, minggu depan ke sini lagi hanya cek saja kan?"
"Ya baiklah."
Dr Imam langsung menelephon dr Prabu, tapi tidak di angkat.
.
.
.
.
__ADS_1
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️