
"Itu sah-sah saja, di saat kita belum bisa memberikan dan memenuhi harapan orang tua demi satu kata yaitu ketaatan bagiku tidak masalah, orang tua tidak akan memberikan atau menjerumuskan kita pada hal-hal yang jelek, orang tua pasti membimbing kita ke arah yang baik walaupun terkadang kita mengartikan semuanya terlalu fanatik dan mengatur, bagiku semua kalau ada baiknya kenapa tidak dicoba?" ucap Vionna begitu lugas menjawab pertanyaan dr Imam walaupun menurut dr Imam itu adalah pertanyaan yang sangat berat kalau harus dijawab, kalau tidak punya alasan kuat dan pandangan yang luas tentang wawasan.
Kata-kata Vionna bagai duri yang menusuk hati dr Imam, semua benar banget, Kalau mengikuti kata hati dan pendapat pribadi dr Imam tak ingin mengikuti keinginan orang tua tetapi demi satu ketaatan akhirnya dirinya bisa mencoba memahami semuanya.
"Dokter! di panggil Ibu makan dulu katanya sama Mbak Vionna juga, nanti di sambung lagi ngobrolnya," suara khas ART begitu jelas terdengar walau memanggilnya kelihatannya memanggil dari tangga bawah.
"Ya, sebentar turun!" dr Imam menjawab sambil mengangguk pada Vionna.
Mereka turun beriringan, sampai bawah semua mata tertuju pada dr Imam dan Vionna yang turun beriringan ada rasa bersalah di hati dr Imam kenapa harus turun bersamaan?
"Nah, begitu kan enak kelihatannya langsung akrab, apa sih susahnya sudah pada gede tinggal saling mengisi dan sudah pada mengerti, orangtua hanya bisa merestui," ucap Ibunya dr Imam sambil menyambut Vionna dan meraih tangannya lalu di dudukkan di sampingnya.
Dr Imam hanya bengong melihat semuanya sudah siap makan, tinggal menunggu dirinya dan Vionna saja.
Senyum kedua orangtua Vionna dan semua tamu membuat dr Imam tak bisa berbuat banyak hanya membungkuk dan balas tersenyum pada mereka. Sungguh suasana ini begitu tak membuatnya nyaman.
Dua Kakaknya Vionna laki-laki dan perempuan juga istri dan suaminya kelihatan begitu ramah dan sangat antusias terlihat dari bahagia roman muka mereka, semua itu malah membuat de Imam semakin gak nyaman dalam suasana itu.
Bagaimana nanti sikap mereka akan berbalik penuh pertanyaan atau malah membencinya saat tahu dr Imam tak ingin di jodohkan dan sudah punya calon sendiri, terlebih orangtuanya sendiri yang tak mau mengerti. Tapi sepahit apapun harus ada keterusterangan yang terucap, itu hanya masalah waktu saja bagi dr Imam.
Beban berat bagi dr Imam apalagi Vionna seperti tanpa masalah saat di perkenalkan dan begitu menerima kelihatannya, terlihat dari obrolannya sepintas tadi. Satu pertanyaan yang ada dalam benak dr Imam kenapa gadis pintar, mandiri dan secantik Vionna nggak bisa cari jodoh sendiri? bukankah begitu mudah menaklukan siapa saja dalam posisinya?
Kelihatan Vionna malah begitu mengagumi dr Imam, pandangannya telah begitu siap berumahtangga dan siap melepaskan karir yang begitu tinggi bila itu demi keluarga. Semua itu yak membuat dr Imam kagum, mungkin itu hanya ucapan awal saja, siapa yang rela rintisan karir yang di bagun dengan susah payah dari bawah rela lepas begitu saja? pasti banyak pertimbangan dan pemikiran panjang dalam memutuskannya.
Sungguh dr Imam tak ingin merusak persaudaraan dan hubungan keluarga dirinya dengan kedua orangtuanya Vionna, juga dengan orangtuanya sendiri yang pasti jadi banyak pertentangan tapi di satu sisi janji dengan Intan tak bisa diabaikan begitu saja, dr Imam tak ingin jadi pecundang di hadapan Kakak dan keluarga Intan apalagi dr Prabu adalah sahabat dan atasannya di tempatnya kerja juga Intan adalah kekasihnya yang telah di pacarinya cukup lama.
__ADS_1
"Makan yang banyak jangan dulu diet hari ini Nak Vionna, dietnya lain hari saja, masakan Ibu begini saja tapi semua kesukaan keluarga di sini," ucap Ibunya dr imam tertuju pada Vionna.
"Iya Bu, kelihatan semuanya enak, walau Aku kerja tapi hobbiku masak juga," sahut Vionna sambil tersenyum pada Ibunya dr Imam.
"Betul itu Jeng, Vionna selalu menciptakan sesuatu yang baru, boleh nanti di coba saat dia liburan di sini, orangnya nggak mau diam apa aja di kerjakan," ucap Ibunya Vionna kelihatan bangga dengan putrinya yang satu ini.
Vionna Anak ke tiga atau bungsu dari keluarganya, dua Kakaknya laki-laki dan perempuan telah menikah dan memberikan cucu, melihat Vionna santai saja saat usianya semakin merambat naik orangtuanya merasa cemas, Kesehariannya hanya kerja dan karir yang di jalaninya juga malam minggu hanya karaokean di rumah, atau membaca di kamarnya tanpa ada seseorang mengunjunginya atau keluar bersama membuat kedua orangtuanya sibuk mencari saudara jauh yang punya bujang berkualitas, dan jatuhlah pilihan pada keluarga dr Imam sampai akhirnya mereka bertemu dan mempertemukan keduanya dengan alasan silaturahmi keluarga.
Bapaknya dr Imam kelihatan cocok dengan Bapaknya Vionna mengobrol dengan topik sendiri seputar pensiun dari kerja dan kegiatan setelah pensiun yang membuat otak tidak tumpul dan pikun. Semua terlihat akrab dan begitu menikmati suasana itu, hanya Dr Imam yang hatinya tak ada di situ sibuk dengan pikiran bagaimana caranya keluar dari suasana bahagia itu.
Sungguh tak ingin menyakiti siapapun termasuk kedua orangtuanya juga kedua orangtuanya Vionna juga Vionna sendiri, tapi haruskah dirinya mengorbankan perasaannya sendiri dan cintanya bersama Intan yang di cintainya?
Temannya adalah dr Prabu haruskan meminta pendapatnya? apa etis dan beretika kalau dirinya bercerita tentang masalahnya sama Kakak Intan?
Dr imam akhirnya bisa juga masuk kamarnya, saat Vionna bercengkrama dengan keluarganya dr Imam pamit mau sholat dhuhur dulu.
Dengan lesu dr Imam melempar tubuhnya ke tempat tidur, meraih ponselnya dan menimbang nimbang mungkin jam segini Intan lagi istirahat.
"Ya, halo Intan. Lagi istirahat ya?" ucap dr Imam saat sambungan telepon di jawab Intan di sebrang sana.
"Iya Mas, Aku nggak masuk kelas hari ini Aku kurang enak badan," ucap Intan kedengaran suaranya parau.
"Kamu sakit apa? kecapekan kali juga Kamu suka nggak disiplin kalau jam makan itu," dr Imam merasa semakin bersalah hatinya sakit saat mendengar Intan kurang enak badan.
"Aku hanya flu biasa sudah berobat tadi, tapi masih sakit kepala, mungkin di istirahatkan semua bisa cepet baikan."
__ADS_1
"Ya ampun Intan, Aku hanya minta maaf nggak jadi datang malam ini mendadak ada panggilan tindakan darurat di tempat kerja, sekali lagi Aku minta Maaf, cepet sembuh ya dan jangan lupa di minum obatnya dan istirahat." Ucapan dr Imam begitu bergetar tak biasa berbohong terlebih pada Intan dan untuk alasan yang mungkin Intan juga tahu itu hanya alasan formalitas saja.
"Iya Mas, Intan mengerti," ada isak di sela jawaban Intan yang membuat dr Imam tak berani meneruskan ucapannya semua terasa tercekat di tenggorokannya.
Intan mengerti itu alasan saja, tak mungkin Mas Imam meninggalkan tamunya begitu saja, akan seperti apa sikap orangtuanya?
Intan sudah memprediksi kalau Mas Imam nggak akan datang walau telah memberikan alasan yang baginya hanya alasan saja.
Intan bahkan tak berani berharap banyak dari hubungannya kini, semua tinggal menunggu berakhir dengan sendirinya ada atau tak ada kata putus dari keduanya.
Hatinya sudah terkoyak saat menerima sikap tak menerima kedua orangtua dr Imam, dan saat tahu dr imam mau di jodohkan orangtuanya hati Intan sudah merasa sakit.
.
,
,
,
,
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1