Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Titip rindu


__ADS_3

1 Minggu kemudian


"Halo Bu Harni, maaf saya Prabu.


Bu Harni apa khabarnya?"


"Oh, Pak dr Prabu? Alhamdulillah saya baik-baik saja, Pak Prabu sendiri gimana khabarnya?"


"Saya kurang begitu baik, tapi walau begitu berusaha memperbaiki diri. Saya hanya ingin tahu khabar Retno Bu, apa dia baik-baik saja dan sehat?"


"Retno kelihatan mulai mau beraktivitas minggu-minggu ini, mulai fokus dengan tugas akhirnya, walau sama kurang begitu baik, tapi mulai ada peningkatan hanya mungkin jarang makan jadi kelihatan tambah langsing saja."


"Saya percaya sama Bu Harni, bisa mengarahkan Retno sebaik mungkin, dan Retno pasti sudah cerita semuanya, saya menyerahkan semuanya pada Retno, saya tak mau menyakitinya lagi apapun keputusannya saya terima."


"Ya Pak Prabu, kelihatan banget Retno begitu terpukul dan depresi berat, tiap hari tiap malam secara perlahan saya mencoba masuki hatinya, memasuki dunia nya, saya selami semuanya. Saya tak mau anakku terpuruk terlalu dalam, saya tidak mau anak saya mengalami perasaan syok berkepanjangan, Retno harus kembali seperti semula sebelum permasalahan mendera nya."


Dr Prabu diam, hanya kedengaran tarikan nafas begitu berat. Mungkin seberat beban hatinya.


Kata Anakku yang di ucapkan suster kepala Harni membuat semakin perih hatinya, begitu terjaga satu ikatan dan perasaan antara suster kepala Harni dan Retno. Padahal siapa mereka berdua? saudara bukan, hanya ikatan bathin yang mengendalikan mereka.


Sedang dirinya orang terdekatnya yang seharusnya memberikan kedamaian, ketenangan dan melindungi malah menyebabkan sakit dan menorehkan duka sejuta ketidaknyamanan juga luka yang menganga di hati Retno.


Hatinya merasa sakit yang tak terperi, apalagi mendengar Retno semakin kurus dan di samarkan dengan kata langsing membuat perasaan dr Prabu tak bisa di bayangkan, terasa remuk rasa hatinya.


Tubuh yang pernah di peluk dengan berjuta cintanya, mencurahkan segala rasa hatinya dengan sepenuh perasaannya, selalu di ciumnya dengan kehangatan dan kerinduan penuh gairah dan hasrat, istrinya yang selalu menanti belaian kasih sayangnya, kini sendiri dan begitu jauh dari khabar dan jangkauannya terpisah dalam ruang dan waktu yang tak menentu entah sampai kapan.

__ADS_1


Hanya ada ungkapan, 'Maafkan aku sayang' hanya itu yang ada dalam hatinya, selain kecemasan dan kerinduan yang semakin menyesakkan dalam dadanya.


"Ya, Retno telah cerita semua setelah seminggu dia berada di sini, karena setiap hari selalu saya serang dan tekan dengan pertanyaan-pertanyaan, itu juga tak mudah bagi dia mengatakan yang sesungguhnya dan terbuka akan masalah yang sebenarnya. Saya mengerti permasalahan ini terlalu berat bagi dia untuk menerimanya, jangankan untuk memaafkan, inginnya lari dan pergi sejauh mungkin kalau bisa tanpa mendengar dan melihat permasalahannya."


Dr Prabu menyimak apa yang di katakan suster kepala Harni di ujung telephon.


"Apa lagi semua ini terjadi di awal-awal pernikahan kalian, saya juga merasakan bagaimana luluh lantak nya hati Retno. Saat ini saya mencoba bukan untuk menyembuhkan tapi sedikit mengalihkan agar dia bisa pelan-pelan menerima kenyataan sampai dia bisa terbuka hati untuk maafkan dr Prabu, walau bagaimanapun. kalian sudah jadi suami istri, sudah seharusnya kalian bisa menjaga aib masing-masing kekurangan dan kelebihan dengan saling menutupi."


"Bu Harni, saya merasa optimis dan timbul secercah cahaya dalam hati saya saat mendengar betapa bijaksananya Ibu menyikapi permasalahan saya dan Retno."


"Tapi maaf Pak Prabu, saya tidak menjamin apa langkah selanjutnya yang akan di ambil Retno untuk kebaikan semua atau hanya baik untuk dirinya, semoga saja Retno bisa berpikir dengan dewasa. Untuk waktu sekarang dia hanya ingin fokus kepada tugas akhir dan skripsi nya sudah itu saya tidak tahu apa pilihannya karena saya katakan jangan terlalu banyak pikiran dan rencana, jalani saja yang ada di hadapanmu sekarang."


"Saya bersalah Bu, saya salah besar di hadapan Retno tetapi saya berharap masih ada sedikit maaf untukku dan kami masih bisa bersatu kembali suatu saat, saya akan sabar menunggu maaf itu walaupun tidak tahu entah kapan itu jadi satu kenyataan."


"Saya yakin akan ada kata maaf buat Pak Prabu tetapi untuk saat ini saya hanya menyarankan bersabarlah."


"Oh ya? dr Prabu jadi relawan musibah bencana alam itu?Lakukan yang terbaik dokter! Saya hanya bisa berdoa semoga ada penyelesaian yang baik untuk permasalahannya."


"Semoga suster Harni, sambil terus saya berdo'a yang terbaik untuk rumah tanggaku."


"Iya Pak Prabu, semoga Retno bisa berbesar hati membuka pintu maaf untuk Pak Prabu. Sekiranya ada apa-apa saya akan kabarkan sama Pak Prabu, tapi kalau untuk berkunjung dan melihat ke sini jangan dulu, kelihatannya Retno belum siap. Jangan khawatir saya akan mencoba secara perlahan memberi pengertian bagaimana cara memaafkan tulus bagaimana menerima dengan ikhlas semua yang terjadi atas diri kita pada Retno."


"Bu Harni tak terhingga maaf saya untuk Bu Harni dan juga terima kasih saya hanya bisa merepotkan Bu Harni, tetapi tolong Bu Harni seandainya ada apa-apa kabarin saya, saya akan selalu siap menerima apapun keputusan Retno tetapi tolong rangkul dia untuk bisa bergairah lagi menatap masa depan dan hidupnya."


"Iya Pak Prabu, pasti itu, semoga Pak Prabu juga mendapat hikmah dari semua kejadian ini dan keberadaan dr Prabu di tempat sekarang begitu bermanfaat bagi sesama, jangan lupa jaga kesehatan biar kita sama-sama sehat menghadapai semuanya."

__ADS_1


"Bu, karena Retno memutuskan hubungan komunikasi dengan saya saya juga mengerti itu karena dia belum bisa memaafkan saya, saya terima itu tapi saya mencoba mengabarkan apa-apa lewat e-mail, saya tahu dia sudah membacanya walaupun tak membalasnya."


"Seperti itu bagus menurut saya, bangun tetap komunikasi biar hatinya tergugah, biar hatinya tak merasa sendiri, bagaimanapun suaminya tetap memberikan perhatian, setidaknya itu yang menjadi pengakuan hatinya, semakin terbuka hatinya semoga terbuka juga jalan komunikasinya bukan berarti saya membela Pak Prabu dalam hal ini, tapi fakta maaf akan ada karena hati yang terpanggil karena ada komunikasi tadi."


"Iya, Bu Harni, sampaikan salam saya, maaf saya juga rasa rindu yang semakin bertumpuk."


"Iya Pak Prabu, saya juga penasaran ingin melihat reaksi dan roman mukanya saat nanti saya sampaikan kalau Pak Prabu menelephon dan titip salam, maaf dan juga rindu."


"Sekali lagi terima kasih dan maaf saya Bu Harni, Assalamualaikum!"


"Waalaikum salaam."


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


Hai, readers tercinta! habis baca


"Biarkan Aku Memilih"Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, Meniti Pelangi


By Enis Sudrajat juga, baca, like,

__ADS_1


vote dan beri hadiah ya!



__ADS_2