Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Depan mata dan kepala


__ADS_3

"Hai Pak dokter." Alya pasang wajah cerah saat melihat siapa yang datang.


"Ya Alya, sudah sehat? pulang ya hari ini." dr Prabu berjalan santai sambil sebelah tangannya di masukan ke saku celananya.


"Iya Pak Prabu, makasih banyak lho...pelayanannya sangat bagus, tahu nih anak pake sakit segala." Ibu walikota yang menjawabnya.


"Iya Bu, sama-sama semoga Alya kalau sudah pulang semakin sehat dan bisa meneruskan istirahat nya di rumah."


"Bapaknya titip salam buat Pak Prabu. Nggak bisa datang jemput Alya karena lagi ada rapat penting."


"Waalaikum salam, dan salam kan kembali Bu buat Pak walikota."


"Iya Pak Prabu, nanti saya sampaikan."


"Aku tunggu lho Pak Prabu di rumah. Jangan lupa kapan mau mampir aku tunggu jangan nggak mampir hitung-hitung aku terima kasih keluarga kami." Alya bicara serius.


"Iya Alya. Kapan-kapan aku pasti mampir."


"Jawabnya kok kapan-kapan melulu seperti lagu Koes plus saja." Alya agak merenggut manja.


"Heeeee... iya kapan ya aku lagi sibuk banget, rumah sakit mau ngadain acara hari jadinya jadi akan banyak event yang di buat untuk memeriahkan acaranya."


"Iya, saya mengerti Pak Prabu orang sibuk, kalau nggak ke cafe nya Alya aja kali-kali mampir, bisa santai sambil mengobrol, tempatnya enak banget, menu nya juga lumayan laris manis ya sayang?" Ibu Walikota mempromosikan usaha anaknya sambil menatap Alya.


Alya mengangguk dan mengiyakan.


Datang satu suster memanggil Ibu walikota dan memberitahukan kalau administrasi sudah selesai dan obat bisa di tebus di apotek. Ibu walikota pamit sebentar pada dr Prabu dan bergegas keluar tinggal Alya dan dr Prabu di dalam ruangan.


Alya turun dari ranjang pasien yang tadinya duduk lalu menghampiri dr Prabu yang lagi berdiri dekat jendela kaca.


"Sesibuk apa sih pekerjaan Pak Prabu? sampai nggak punya waktu untuk diri sendiri?"


Alya memepet dr Prabu di tembok dan Alya juga sama memasukkan sebelah tangannya ke saku jaketnya sendiri sebelah tangan kanannya mengusap dada dr Prabu dan kancing kemejanya. Tangannya di simpan di bawah pundak kanan, dr Prabu terkesima dan tampak kaget juga gugup dengan tanpa aba-aba Alya melakukan itu pada dirinya.


"Dokter, aku suka sama dokter dan aku harap dokter juga mencintaiku, dan ini adalah undangan resmi ku bukan hanya sekedar basa-basi saja, aku tunggu di mana dokter suka, mau di rumahku atau di cafe ku."


"Mas Prabu?!"


"Retno? kok kamu sudah pulang lagi?" setengah loncat dr Prabu menepis tangan Alya di dadanya, berlari mengejar Retno yang telah keluar duluan di susul langkah Alya yang merasa heran siapa wanita itu?

__ADS_1


Alya mengejar dr Prabu yang tak menggubrisnya, dr Prabu bertabrakan dengan dr Burhan


dan dr Prabu merasa sangat bersalah, terutama di hadapan Retno ini kejadian yang seharusnya tak terjadi, kenapa aku tak menghindar dari sentuhan Alya yang sedang mencuri-curi perhatian ku dan berusaha menarik perhatianku? perang badar benar-benar Ya Allah kali ini, baru saja ingin memperbaiki diri, berdamai dan menanamkan kepercayaan Retno, ingin rasanya dr Prabu teriak dan bersujud di hadapan Retno.


"Astaghfirullah. Pak Burhan kapan kesini? ayo-ayo ke ruangan ku." dr Prabu sangat terkejut tak di sangka Pak Burhan tiba-tiba ada di hadapannya belum lagi terkejut nya hilang saat tadi mendapatkan dirinya lagi berduaan sama Alya di dalam ruangan. Alya sendiri entah apa maksudnya begitu agresif dan kenapa pula kejadian itu di tangkap mata Retno bulat-bulat?


"Aku bawa spanduk dan balihonya juga banner pesananmu malah aku bareng sama suster Retno barusan." Pak Burhan direktur rumah sakit Bandung Medical Center menyadarkan terkejut dan gugupnya dr Prabu.


Dr Prabu nggak bisa mencerna apa yang di ucapkan Pak Burhan semua terasa kacau.


"Aku kasihan biarin suster Retno belum kerja juga aku ajak aja balik lagi sekalian ke sini, sekali-kali aku mau menyenangkan orang dan mau ngasih dispensasi sedikit heee... siapa tahu menyenangkan dr Prabu juga." Pak Burhan tertawa di ikuti dr Prabu yang sebenarnya nggak tahu dan nggak fokus apa yang di bicarakan Pak Burhan.


"Suster kepala Miranti, tolong ke ruangan saya ya tolong bawakan minuman dua saya lagi ada tamu."


Telephon di tutup dr Prabu kembali duduk di sebrang Pak Burhan.


"Tadi Retno mencari Pak Prabu ke mana dia ya?"


"Oh, mungkin di kamar mess nya istirahat."


Di pintu ruangannya Alya nongol bersama Ibu walikota Mamanya.


Ibu walikota dan Alya bersalaman, Alya seperti biasa memegang tangan dr Prabu malah dengan kedua tangannya lama tak melepaskannya seperti mau menariknya, tapi dr Prabu seperti tak mau kecolongan lagi dan berusaha secara halus melepaskan tangan Alya yang menempelnya, walau pada kenyataannya dirinya sudah terlanjur dalam masalah besar dengan Retno gara-gara Alya yang begitu ingin dekat dengan dirinya.


"Oh iya Bu. Alya selamat ya semoga sembuh seterusnya dan Insya Allah saya mampir suatu saat."


"Jangan lupa di tunggu ya." Alya tersenyum dan menatap dr Prabu dengan pandangan menggoda.


Dr Prabu tersenyum mengangguk dan membungkuk.


Dr Prabu menghela nafas dalam dan panjang. Setelah Ibu walikota dan Alya berlalu meninggalkan letusan masalah dalam dirinya. Ingin segera Pak Burhan juga segera pergi dan berpamitan tapi baru datang masa di suguhi juga belum sudah pulang lagi dan datang dari jauh mau banyak yang di bahas pastinya.


Datang suster kepala Miranti dengan minuman dan makanan Pak Burhan sedang menelephon seseorang dan dr Prabu keluar dulu tak sedikitpun melihat bayangan Retno. dr Prabu mengetuk mess yang di huni Retno dan dia temannya yang keluar Ella dan saat di tanya malah balik bertanya.


"Mbak Retno lagi kerja, belum waktu nya datang jam segini mah, biasanya Mbak Retno datangnya sore kan?"


"Memang suster Ella nggak tahu kalau Retno sudah ada di sini?" berarti nggak masuk ke mess nya sejak tadi.


"Kapan datangnya?"

__ADS_1


"Barusan, sama Pak Burhan."


"Pak Burhan yang atasannya di tempat kerja Mbak Retno?"


"Iya, pokoknya cari Retno pastikan dia baik-baik aja dan jangan ada pertanyaan dulu"


"Baik, Pak Prabu."


"Kemana orang itu? nggak mungkin balik lagi ke Bandung kan baru datang."


Fokus saja dulu dengan dr Burhan itu lebih baik, dr Prabu masuk lagi ke ruangannya, dr Burhan lagi minum.


"Pak Prabu, di lihat dulu spanduk printing nya takut ada yang salah juga yang lain lainnya."


"Gampang Pak Burhan nanti saja, gimana ceritanya kok Retno bisa bareng lagi ke sini? paling dia baru kerja satu jam?"


"Suster kepala Harni yang nyaranin dan memberi keleluasaan, pekerjaan nya juga mungkin agak longgar, jadi sekalian aja suster Retno ajak katanya."


"Oh."


"Aku fikir juga benar hayo aja, walau suster Retno asalnya menolak, tapi setelah aku bilang aku nggak ada teman ngobrol hanya dengan sopir akhirnya dia mau juga, sepertinya suster Retno berat di sini Pak Prabu? haaa..."


"Haaaaaaaa... Pak Burhan bisa aja, mungkin juga ya?"


"Kan sudah jelas ada orang yang bikin betahnya."


"Ya ya ya semoga begitu, Pak Burhan mau kemana lagi habis dari sini?"


"Mau sekalian aja jalan-jalan bernostalgia sendiri, tapi sayang anak istri nggak ada yang ikut, mau mandi air panas di Galunggung, sudah banyak yang di rasa Pak Prabu sudah tua, bangun tidur bukannya enak malah badan pada berat, memang anak muda seperti Pak Prabu yang boleh jalan-jalan?"


"Bagus itu Pak, aku juga sering ke sana enak banget terapi mandi belerang, nyaman dan tenang sebagai mandi aromaterapi yang menyehatkan."


"Pak Prabu masih muda, tenaga dalamnya belum terpakai jadi masih orisinil, makanya cepat manfaatin tuh masa mudanya biar jadi seorang suami dan Bapak haaa..."


"Aamiin, do'ain saja lah Pak Burhan."


Aamiin, oke bukannya tidak sopan dan tidak mau ngobrol lebih lanjut saya permisi aja dulu, semoga acaranya sukses dan meriah titip anak saya Retno jangan dulu di apa-apakan sebelum dia sendiri yang bersedia haaaaaaaa...maksudnya bersedia jadi istri Pak Prabu."


"Haaaaaaaa...ya ya ya terimakasih banyak Pak Burhan selamat jalan."

__ADS_1


Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝


__ADS_2