Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Cerita ulat bulu


__ADS_3

"Kalau itu maumu Aku tak memaksa, istirahatlah Aku siap mendengarkan kapan saja Kamu bisa cerita," ucap dr Prabu sambil mengelus kepala Retno yang hanya diam menutup mukanya dengan ujung kerudungnya.


Dr Prabu mencium kepala Retno dan beranjak dari tempat tidur. Biasanya biar Retno tenang dulu, kalau di paksa malah akan semakin sulit diajak bicara, mungkin Retno mengumpulkan kekuatan dan berharap bisa dengan kuat cerita tentang kekesalan hatinya.


"Aku di kolam belakang ya Sayang, mau minum nggak? Aku ambilkan dulu kalau mau, makan buah juga kayaknya enak yuk mau?" sekali lagi ajak dr Prabu sambil menggoyangkan lengan Retno. Tapi Retno hanya diam, butuh kesiapan untuk bicara sepertinya. Dr Prabu tak memaksa, rasa sayangnya pada Retno mengalahkan segalanya lebih baik mengalah itu menurut kata hatinya, dan biarkan istrinya tenang dulu.


"Diam juga bukan solusi pemecahan masalah, kalau sudah tenang panggil Aku ya Sayang," ucap dr Prabu tetap lembut mengusap punggung Retno lalu keluar kamar dan turun tangga, tak sedikitpun terbaca kenapa semua jadi begini, apa ada hubungannya


dari kejadian kemarin? tapi apa masalahnya?


Kebiasaannya memberi makan ikan di kolam belakang selalu menjadi rutinitas merefresh diri dari kesibukannya di kantor, bukan hobi tapi merasa senang saja melihat ikan dan ikan hiasnya kian hari semakin bertambah banyak dan berkembang. Menjadi hiburan tersendiri saat penat dan jenuh dalam pekerjaan bercerita segalanya bersama Retno istrinya yang lagi hamil rasanya hilang semua capeknya.


Melihat istrinya sehat dan senyumnya merekah saat mereka bercengkrama rasanya tak ingin momen itu berlalu begitu saja, selalu ada dalam kamera mereka dan mengabadikan kebersamaan Retno dalam keadaan perutnya besar.


Biasanya bersama Retno sambil mencelupkan kakinya ke kolam dan duduk di pinggir kolam membiarkan ikan lalu lalang melewati kaki mereka.


Mungkin karena sudah jinak dan ikan juga seperti sudah tidak takut dengan gerakan, datang lagi datang lagi karena mungkin kalau ada orang dan gerakan pasti ada makanan.


Momen indah mereka lewatkan saat Retno hamil dan selalu jalan-jalan di belakang rumahnya menghirup udara segar yang rindang dan teduh juga dengan hijaunya pepohonan yang ditanam Pak Min dan Bi Iyah di sela-sela waktu senggangnya.


Dr Prabu asyik memberi makan ikan, kadang jongkok untuk lebih seksama melihat dari jarak dekat ikan-ikannya.


Tanpa di sadarinya Bi Iyah datang menghampirinya dengan perlahan.


"Oh Bibi?" Dr Prabu berdiri sambil memegang wadah makanan ikan di tangannya.


"Iyalah Pak dokter, tadi Bu dokter nggak jadi belanjanya, baru beli bumbu kering saja, gara-gara ada seorang wanita dengan tiba-tiba datang mengata-ngatai Bu dokter, entah apa yang dikatakannya Bibi nggak ngerti," ucap Bi Iyah dengan mimik masih ketakutan.


"Apa? mengata-ngatai apa Bi? siapa orang itu?" jawab dr Prabu begitu keheranan dan mengerutkan dahinya.


"Bibi nggak tahu Pak dokter, tiba-tiba wanita itu datang mengata-ngatai dengan kencang dan keras pada Bu dokter dan Bu dokter juga balas ngata-ngatain tapi Bibi nggak mengerti apa yang mereka ucapkan," jawab Bi Iyah begitu jujurnya.

__ADS_1


"Retno balas mengata ngatai orang itu? apa yang mereka katakan Bi?" tanya dr Prabu lagi, meminta kejelasan Bi Iyah dalam memberi keterangan dan penjelasan.


"Pokoknya hal jelek saja Pak dokter, ulat bulu segala pokoknya yang Bu dokter katakan pada orang itu, malah waktu Bibi tanya siapa orang itu Bu dokter? kata Bibi. Bu dokter bilang orang gila katanya," jawab Bi Iyah seperti mengingat kalau ucapan yang ada tersimpan di otaknya adalah kata 'ulat bulu.'


Deg! hati dr Prabu langsung berdegup kencang, berarti tadi Retno bertemu Alya di pasar apa yang mereka ucapkan di ruang publik itu?


Jangan-jangan Alya menyerang Retno dengan membabi buta, itu mungkin saja terjadi dan Alya orang yang tidak kompromi dengan aturan, semua serba seenaknya saja dimanapun berada.


Dr Prabu menjatuhkan tempat makan ikan dan berlari masuk ke dalam rumah dan langsung naik ke tangga.


Membuka pintu kamar tapi Retno sudah tidak tiduran lagi, celingukan mencari kesana kemari dan akhirnya dr Prabu melihat istrinya sedang berdiri di pagar balkon teras depan sambil memandang jauh ke lembah di bawah sana.


Dr Prabu berjalan dan menghampiri istrinya lalu memeluknya dari belakang sambil mencium pipi sebelah kiri Retno.


Retno diam saja, tak seperti biasanya balas memeluk dengan manja dan membenamkan kepalanya di dada suaminya.


"Sayang sudah tenang? kita makan buah yuk di bawah mau ya?" ucap dr Prabu sambil masih memeluk punggung Retno yang semakin gemuk dan berat badannya semakin meningkat seiring usia kehamilannya.


"Ada apa Sayang? kenapa begitu cepat keputusan itu di ambil bukankah kita telah sepakat Kamu akan mendapatkan pelayanan prioritas di rumah sakit di sini?" jawab dr Prabu dengan tetap lembut sambil memegang kedua pergelangan tangan Retno.


"Aku merasa tak nyaman di sini Mas, merasa ada yang mengancam, Aku merasa tak tenang melakukan apapun terlebih melihat suamiku sendiri seakan terbawa arus orang yang masih ingin memanfaatkan kesempatan," ucap Retno dengan dingin.


"Ajeng Sayang ada apa? Kamu habis bertemu Alya tadi di pasar? apa yang dia ucapkan? untuk apa dengar Dia?" ujar dr Prabu masih dengan lembut membujuk dan mengalihkan pembicaraan.


"Mas sudah bertanya pada Bi Iyah? ya Alya dengan sombongnya mengata ngatai Aku dengan seenaknya, kelihatan dia masih penasaran dengan Mas Prabu, Aku muak dengan semua kata-katanya sepertinya kata-katanya dia masih ingin masuk menjadi benalu diantara kita!" jawab Retno penuh dengan emosi.


"Astagfirullah, itu semua tidak benar Sayang, Alya sudah menikah dan lagi program kehamilan di dr Imam," ucap dr Prabu berusaha meyakinkan Retno.


"Tapi kenapa dia berkata tadi kalau saja Anakku tidak meninggal pasti ada kenangan momen itu! siapa yang suka dengan kata-kata itu apa artinya semua itu kalau bukan rasa penasaran yang masih saja ada dalam hatinya?" teriak Retno membuat dr Prabu kaget.


"Ajeng, tenanglah itu urusan Dia kita jangan ladeni kita hindari saja," ucap dr Prabu sambil menarik memeluk Retno.

__ADS_1


"Kalau Mas bisa menghindari! tetapi kalau dengan tipu dayanya apa Mas bisa menghindarinya? menjaga semuanya jangan sampai Dia masuk ke dalam lingkungan kita, semua sudah dimulai dengan program kehamilan Mas! Alya telah ada di lingkungan kerja Mas sekarang ini, makanya Dia dengan beraninya memaki-maki Aku mengatakan Aku biasa saja, dan Aku tidak terima di hina orang!" ucap Retno mengatakan apa yang di dengarnya kata-kata Alya tadi.


"Lalu sekarang mau apa?"


"Aku mau melahirkan di Pekalongan dengan atau tanpa Mas Prabu!"


"Ajeng! Aku suamimu Aku juga berhak menentukan di mana yang terbaik kamu akan melahirkan nanti."


"Tatapi kalau Aku yang merasa tidak betah di sini dan tidak nyaman lagi apa Mas mau memaksa?"


"Bukan masalah memaksa begitu, tapi pikirkan dulu dengan masak dan jernih."


"Mas, jelas Alya itu masih penasaran dengan Mas, apalagi sekarang dia susah hamil apa Mas tak mengerti?"


"Ajeng! itu urusan Dia tak ada hubungannya dan Aku sama sekali itu nasib dia itu takdir dia!"


"Tapi dia dengan jelas mengatakan kalau Dia akan memperjuangkan apa yang menjadi keinginannya! Mas ingat itu kata-kata si ulat bulu itu tadi!"


"Aku harus bagaimana Ajeng?"


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2