
Baru saja dr Prabu dan Retno melangkahkan kaki mereka ke dalam GOR tiba-tiba satu suara mengagetkan dr Prabu menyambutnya, dr Prabu dan Retno tertegun dan langsung berhenti melangkah.
"Hai dokter, aku sudah menduganya hari ini pasti turun main, sengaja aku datang ke sini untuk memberi support dan dukungan penuh untuk dokter boleh kan?"
"Eh Alya... sama siapa ke sini? terima kasih ya atas semangatnya dan juga kunjungannya, semoga aku bisa memberikan tontonan yang menarik."
"Sama-sama dok aku bawa teman tuh di sana, dan aku nggak sabar ingin melihat permainan yang sangat di tunggu semua orang."
"Jangan berlebihan Alya, biasa aja malah aku takut kalah nanti heee..." dr Prabu melirik Retno yang lagi menggigit bibirnya seperti patung di sebelahnya.
"Alya kenalkan ini Retno."
"Hai." Retno merasa jengah tanpa menyodorkan tangannya.
"Hai juga aku Alya, ini adiknya ya dok?"
"Bukan...!"
"Aku mahasiswa yang lagi KKN di sini, dan saya di tugaskan membawa peralatan Pak Prabu ke lapangan, dan menyodorkan handuk saat dia istirahat juga air minum, bahkan memijit saat dia pegal-pegal dan capek!" dan Alya terbelalak sambil tersenyum.
"Oh alah, sama aku aja dok ya biar gantiin tugas mahasiswa KKN ini, dengan senang hati nggak apa-apa kan siapa tadi namanya?" Alya memandang Retno, dan Retno tak menjawab siapa namanya lagi.
"Dengan senang hati Alya silahkan jadi aku bebas tugas dan bisa istirahat!" Retno menjawab lebih dulu sebelum dr Prabu memberikan jawaban.
"Sama-sama Retno, apa kamu benar mau istirahat enggak mau nonton sama sekali?" Alya ingat lagi nama Retno.
"Sepertinya tempatku di kursi penonton belakang Alya!"
__ADS_1
"Oke, terimakasih Retno."
Retno berjalan melintasi deretan kursi-kursi penonton di mana kedua sahabatnya berdua telah melambaikan tangan dari atas balkon, langkah panjang Retno seakan langkah yang tak terasa sama sekali dirinya menjadi seorang yang diuntungkan atau dirugikan? tidak mendampingi Mas Prabu saat bermain di lapangan. Dirinya menyakinkan tak akan ada support dirinya tak akan ada tepukan atau sorakan semangat untuk Mas Prabu, yang ada sesak nafasnya dan panas hatinya.
Astaghfirullahaladzim apa yang harus aku lakukan? apa aku kasih tahu Alya kalau Retno itu kekasihnya? apa pantas suasana ini aku bicara pada Alya? saat dr Prabu sadar Retno telah berjalan jauh meninggalkan dirinya. Alya yang terpaku di pinggir lapangan dengan senyuman, masih terlihat punggung Retno yang berjalan tanpa melirik lagi ke belakang ke arah dirinya dan Alya berada.
Sial! kenapa saat semuanya berjalan dengan baik ada saja masalah, baru saja dr Prabu dan Retno saling bercanda satu sama lainnya, dan masih terasa hangatnya kemesraan ciuman mereka, kenapa Alya harus hadir? dengan segala dalih dan memudahkan segala cara yang menurutnya biasa, Alya rada-rada maksa kelihatannya dan harus di paksa juga untuk mengerti keadaan dirinya dan posisi dirinya.
Ini nggak bakal beres lagi, harus proses lama sampai Retno mengerti semua harus diselesaikan dengan segera, dan dengan setegas tegasnya. Alya harus mendapat jawaban dari dirinya tak cukup hanya sinyal penolakan tetapi harus gamblang diucapkan, dan itu mungkin yang bisa dilakukan dr Prabu dan yang mungkin bisa diterima Alya agar berhenti mengejarnya dan mencari perhatiannya.
Saat ini biarlah Retno marah, itu sudah pasti juga Alya tidak mungkin bisa diusir dari sampingnya saat ini dan permainan tidak mungkin ditunda lagi bahkan semua akan segera di mulai.
"Dok, kok nggak kasih tahu aku kalau di sini lagi ngadain acara hari jadi dan turnamen?"
"Oh, aku sendiri banyak kesibukan Al, maklum aku kan kerjanya begini nggak punya banyak waktu."
"Haaaaa...seperti rumahsakit saja antar jemput, maksudnya mobil ambulans."
"Iiiiiiiiiih dok masa cafe aku di samakan sama rumah sakit?"
"Kan kamu yang nawarin jemputan."
"Makanya, datang ke cafe ku."
"Pasti suatu waktu Al." Alya tersenyum serasa mendapat lampu pijar warna hijau, dr Prabu hanya ingin Alya diam dan tak mengganggu konsentrasinya, dan emosinya.
Sekilas terlihat nyata dan jelas Retno sedang ngobrol akrab dengan kedua sahabatnya, dan satu orang lagi Rendra! mereka tertawa-tawa akrab membuat emosi dr Prabu seakan menjalar ke setiap pembuluh-pembuluh darah nya.
__ADS_1
"Baik hadirin sekalian, kita saksikan pertandingan di penyisihan nomor tunggal putra partai ke sekian dan pemenang kali ini akan langsung ke babak selanjutnya selamat menyaksikan!"
Dr Prabu nggak tahu siapa yang menjadi lawannya saat ini di hadapannya, yang pasti ini akan menjadi pertandingan emosinya dan marahnya pada kenyataan, melihat Retno seakan sengaja di depan matanya mencolok banget dendam akan kebersamaannya sama Alya Retno perlihatkan, tapi dr Prabu punya alasan Alya datang sendiri, dan mungkin Retno juga punya alasan sendiri Rendra juga datang dengan tiba tiba di sampingnya, seakan semua terencana dengan manisnya.
Main dengan tak ada senyum sama sekali membuat Retno tersenyum memandang permainan dr Prabu yang masih energik, terampil juga teknik tinggi permainan kelas yang di perlihatkan, kalau nggak kalah telak, pasti menang gemilang kalau main dalam keadaan emosi seperti itu.
Brengsek, kampret, kurang ajar si Rendra begitu tepat datang saat dirinya ada di bawah kungkungan masalahnya yang seakan sengaja mencari kesempatan, aku tahu matanya, aku tahu perhatiannya dan senyumnya pada Retno membuat dr Prabu nggak rela dan begitu nggak suka, wajah gantengnya begitu memuakkan.
Dropshot menukik tak di perkirakan yang lancarkan dr Prabu di area pertahanan lawan membuat bergemuruh seluruh ruangan GOR, dan mengakhiri set pertama. Seakan sudah seperti seorang Flamboyan bintang nasional tak membuat sedikitpun senyum di bibirnya, hanya sudut matanya yang selalu melirik Retno yang asyik ngobrol entah soal apa dengan si brengsek Rendra.
Ingin rasanya smash tuh muka si Rendra yang sok ganteng dan sok akrab dan begitu jual tampang ganteng, tak perduli dengan cerocosan Alya yang tak jauh dari lapangan dr Prabu hanya menyodorkan tangannya, tanda stop jangan mendekat dan jangan ajak bicara dr Prabu sibuk mengatur ritme nafasnya yang bercampur emosi, masih dua set semua akan di babat habis dan menyelesaikan semuanya.
Retno seperti sengaja tanpa melihat ke arah dr Prabu memamerkan kalau dirinya juga bisa membuat dr Prabu kecewa dan cemburu. Rendra seakan tahu maksud Retno dan seakan mendukungnya. Rendra terlihat sama dr Prabu saat memberikan minuman pada Retno dan dua temannya dengan rileks dan santai mereka makan cemilan sambil ngobrol.
Hati dr Prabu semakin naik derajatnya menjadi panas-panas panik, ingin segera permainan selesai dan menyelesaikan masalahnya mengantar Alya dengan sopan, dan menarik kemeja si Rendra dari depan Retno lalu meninju muka lancangnya.
Sudah beberapa kali tuh orang menguji kesabaran ku, awas nanti saat semua sudah usai.
Poin demi poin di lewati dengan mudah lawan begitu kurang tangguh atau tak seimbang, set ketiga berjalan tinggal beberapa poin lagi dr Prabu akan berhasil menyisihkan lawannya dan maju ke babak selanjutnya besok atau lusa.
Lima, empat tiga dua dan last poin dr Prabu tertegun saat melihat Retno sudah hilang dari pandangannya, sepertinya sengaja jangan-jangan Retno sama si kampret ganteng tapi memuakkan, pergi entah kemana.
.
.
.
__ADS_1
💏 Like, komentar, sebagai masukan dan semangat buat kami, Terima kasih atas jejak yang readers tinggalkan, salam !🙏