
"Mas Prabu sakit apa sih?" Retno tersenyum manja sambil memegang sebelah tangan dr Prabu.
"Aku sakit rindu sama kamu sayang." dr Prabu mengusap kepala Retno sambil tersenyum.
"Suka bikin aku cemas deh, tiba-tiba menghilang enggak ada kabar enggak apa tahunya sakit di rumah. Disitu kan rumah sakit tempatnya konsultasi dan pengobatan segala macam penyakit kenapa malah mengasingkan diri di rumah?"
"Aku malah merasa takut sendiri untuk konsultasi kesehatan sendiri apalagi harus sampai rawat, kalau kamu yang merawat aku pasti aku mau karena pasti cepet sembuh heee..."
"Berarti itu penyakitnya aneh sekali."
"Emang aneh, kalau kata dr Burhan itu namanya penyakit anak muda disaat belum menikah."
"Ngarang itu namanya masa iya penyakit bisa dipisah-pisah mana untuk anak muda mana untuk anak-anak dan juga untuk dewasa, mana penyakit buat yang belum menikah dan yang sudah menikah, aku pikir sama penyakit bisa saja menimpa semua orang."
"Iya juga ya? Aku hanya takut menghadapai vonis penyakit yang ada di tubuhku, jadi aku lebih baik mengistirahatkan saja sendiri nanti juga setelah di tengok dan ketemu kamu sehat kembali."
"Iya kalau di tengok, kalau nggak?"
"Aku suruh security mengantar kamu ke sini."
"Yeeee...pemaksaan."
"Aku memang suka maksa."
"Aku malah nggak mau di paksa."
"Ya sudah aku tak mau memaksa, berapa set kemarin maju ke semi final?"
"Lima."
"Lumayan membunuh hasrat terpendam limapuluh persen."
"Lima puluh persen lagi gimana?"
"Ya kita tuntaskan sekarang."
"Enak aja."
"Emang aku suka yang enak-enak."
"Pokoknya aku mau bales dendam nanti sama Mas."
"Dendam soal apa?"
"Mas nggak menonton aku saat aku meraih tiket ke babak semifinal dan Mas malah sakit tinggal di rumah tanpa kabar."
__ADS_1
"Aku pasrah sayang, jadi kamu nggak mau melihat saat aku turun ke lapangan besok?"
"Ya."
"Nggak apa-apa kalau kamu mencari impas-impas-an, tapi kamu harus memberi aku doping."
"Doping apa?"
"Ya amunisi buat semangat aku di lapangan."
"Apa itu?"
Dr Prabu mendekatkan wajahnya ke wajah Retno sekilat dr Prabu mencium pipi mulus Retno, dan Retno menjadi malu takut ada yang lihat sedangkan mereka duduk di ruang keluarga.
Apalagi di depan mungkin di teras atau di taman ada Intan sama dr Imam yang mungkin lagi pacaran juga seperti mereka, dan di belakang ada Pak Min sama Bi Iyah yang sewaktu-waktu mungkin mereka melintas dihadapan mereka.
Retno mencubit pinggang dr Prabu, kontan mengaduh dan berteriak.
Dr Prabu tidur di pangkuan Retno yang duduk santai sambil menonton televisi, jauh di lubuk hatinya perasaan bersalah dan perasaan berdosa pada gadis yang sangat di cintainya seperti berat di pundaknya dan perasaannya.
Tangan halus Retno membelai rambut dr Prabu yang semakin nyaman tidur di pangkuan Retno.
Tangannya di tahan untuk tetap pada posisi itu, terkadang tangan dr Prabu membimbing tangan Retno ke arah mukanya.
Akankah dirinya punya kemampuan bisa jujur sejujur-jujurnya di hadapan Retno, dan bagaimana terlukanya hati Retno dr Prabu sungguh tak bisa membayangkannya.
"Mas, aku kangen Kangjeng Ibu, Kangjeng Romo dan juga Dimas adikku, Ibuku, Romoku semakin tua saja atau karena aku jarang ketemu ya? perasaan setiap video call Ibu selalu menangis sedang aku yang di tangisnya merasa biasa-biasa saja hanya kerinduan saja yang selalu aku rasakan."
Dr Prabu bangun dari tidurnya dan duduk di samping Retno dengan posisi sama. Lalu memandang dalam dalam wajah cantik di hadapannya.
"Retno sayang mungkin mereka juga merasakan perasaan yang sama sepertimu, pulanglah agar mereka dan kamu sama-sama bisa mengobati kerinduan kalian. Aku akan mengantarmu kita cari waktu yang tepat bagaimana?"
"Selalu ada kesedihan setiap aku pulang ke rumahku Mas."
"Retno, seandainya aku bisa menghapus semua kesedihanmu kesedihan orang tuamu dan semua keluargamu, akan aku lakukan apapun karena semua itu berawal dari keegoisanku."
"Mas kenapa kita baru menyadari semuanya setelah sekian lama kita berpisah setelah sekian lama kita saling tak bertemu dimana awal permasalahan kita dimulai. Seandainya dulu aku bisa menemukanmu mungkin aku sudah mendapatkan jawaban."
"Maafkan aku Retno dalam permasalahan diantara kita akulah yang paling bersalah tidak kembali kepadamu tidak melihat dirimu setelah kejadian itu adalah hal yang paling aku sesali, padahal betapa terlukanya hatimu dan tersiksa nya hatimu sedangkan aku berlalu hanya mengikuti keegoisan dan rasa marah dan dendam di hatiku."
"Sudahlah Mas biarlah semua itu menjadi masa lalu kita dan sekarang aku sudah mantap dan yakin dengan pilihanku untuk melangkah bersamamu karena aku mencintaimu Mas."
Dr Prabu mengangguk menarik Retno ke dalam pelukannya.
Aku yang sekarang merasa tidak yakin Retno, dengan beban dosa di hati perasaan jiwa ragaku kepadamu atas apa yang telah aku lakukan terhadap Alya serasa semua berada di luar kesadaran ku, Aku kotor Retno aku telah menjadi orang yang telah bernoda penuh dengan aib satu cela di dalam hidupku yang tak bisa aku hapuskan.
__ADS_1
Aku tidak akan tenang satu bulan sampai dua bulan ke depan ini karena aku telah menebarkan benih pada orang yang tidak kucintai. Aku telah menebarkan benih karena perasaan dendam, aku telah menebarkan benih dengan perasaan terluka dengan perasaan harga diri yang terkoyak, Aku membela diri Retno aku ingin membuktikan kalau aku juga bisa menghancurkan walaupun itu akan balik lagi kepada diriku menjadi satu permasalahan yang sangat sulit.
"Iya sayang, kita pulang aku ingin memulai menjalin kembali silaturahmi dengan keluargamu."
"Apa Mas yakin?"
"Kenapa enggak?"
"Aku begitu senang dan bahagia Mas dan seandainya keluarga aku masih menolak Mas mungkin saatnya disitu aku membuat satu pilihan dan mengharuskan aku untuk memilih diantara pilihan yang ada."
"Retno, aku tak akan meninggalkanmu lagi dan aku yakin kamu memilih cintamu"
"Mas apa Mas ingin melamar aku lagi?" Retno berkata masih dalam pelukan dr Prabu.
Deg! Ya Allah mungkinkah aku akan melamarmu saat aku dalam masa tegang menunggu teror dari Alya? selama satu dua bulan ini?
"Ya Retno, bila itu sudah menjadi permintaanmu akan aku lamar kamu kapanpun kamu siap dan yakin setelah itu kita rencanakan masa depan kita, kamu selesai kuliah pindah kerja di sini, kita menikah dan tinggal di sini."
"Mas aku mencintaimu."
"Aku juga sama mungkin lebih dari kamu rasa cintaku padamu."
"Aku jadi malas pergi ke Bandung lagi Mas heee..."
"Kan lagi proses semuanya sayang, jalani saja dulu aku akan selalu mengantar kamu setiap aku ada waktu, kan waktu kamu marah malah ingin mengundurkan diri dari pekerjaan yang sekarang."
"Aku telah merubah semuanya aku yakin dengan masa depanku bersamamu Mas karena tiada kedamaian hatiku selain bersamamu."
"Retno, tolong jangan tinggalkan aku apapun yang terjadi dengan diriku"
"Kenapa Mas bicara begitu kita bisa melewati 5 tahun dan sekarang kebahagiaan kita yang harus kita perjuangkan."
"Aku hanya takut Retno, setiap hari setiap malam ketakutan yang ada dalam diriku yaitu aku takut kehilanganmu lagi dan aku sulit untuk meraihnya kembali."
.
.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai doping up nya 🤦😆💝🙏
__ADS_1