
"Apa kamu masih betah tinggal di sini Al?" dr Prabu tersenyum menatap Alya.
"Mungkin masih beberapa waktu lagi. Aku jatuh cinta dengan tempat ini dan masih ingin menikmati kebersamaan dengan anak-anak asuhku." Suara Alya terdengar enak.
"Maaf ya dokter, Ibu lama soalnya bikin mendoan tempe dulu teman minum teh manis hangat, monggo di cicipi." Tiba-tiba Ibunya Rendra datang dengan nampan berisi tiga cangkir teh minuman dan satu piring penuh mendoan tempe.
"Waduh Ibu, makasih banget jadi ngerepotin." Dr Prabu ingatannya langsung melayang pada sosok Retno, mendoan tempe dengan susu coklat hangat saat pacaran dulu, menunggu hujan reda dengan manja Retno bersandar di pundaknya. Akan jadi memori yang tak pernah lupa di ingatannya.
Retno, tak terkira nikmatnya makan mendoan tempe makanan yang kamu kenalkan dulu semasa kita pacaran, walau di sini bukan dengan coklat susu hangat, tapi teh manis hangat. Apalagi di nikmatin saat hati telah saling memaafkan dan aku begitu siap melangkah menjemputmu.
"Ucapkan terimakasih pada dokter prabu Neng!"
"Sudah berkali-kali Bu heee...." dr Prabu duluan menjawab, Alya hanya tersenyum.
Alya bangkit ke kamarnya, mengambil tissue dan memberikan pada dr Prabu, karena kelihatan tangannya berminyak.
"Neng jangan makan yang begini dulu biar pulih benar-benar kesehatannya."
"Iya Bu."
"Maaf Bu, juga Alya, bukannya aku tidak senang dan tidak sopan, karena saya masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan, juga persiapan beres-beres mau pulang saya nggak bisa lama-lama di sini."
"Terimakasih dokter, kami merasa tersanjung dengan kedatangan dokter ke sini, semoga perjalanannya lancar."
"Iya, Bu terimakasih, saya hanya ingin menengok Alya dan memastikan dia baik-baik saja."
"Sekali lagi terimakasih dokter."
"Sama-sama, Bu saya juga terimakasih."
"Kalau begitu saya pamit ya."
"Silahkan dokter." Semua bersalaman Ibunya Rendra juga Alya. Saat bersalaman dr Prabu menatap Alya sekali lagi, ada senyum di wajahnya, dan ketenangan di matanya semoga itu senyum yang tulus bukan pura-pura.
Alya berdiri di teras, memandang dr Prabu melangkah ke mobilnya diikuti Ibunya Rendra.
__ADS_1
"Dokter, apa dokter sudah menikah?" Ibunya Rendra bicara agak berbisik.
"Alhamdulillah sudah Bu, malah saya nggak sabar mau pulang karena kemarin dapat khabar istriku hamil."
"Masya Allah, Alhamdulillah semoga segalanya lancar dokter."
"Mari Bu saya permisi." dr Prabu melambaikan tangan sambil men-starter mobilnya dan berlalu.
Dengan perasaan ringan dr Prabu menjalankan mobilnya, terbayang dirinya akan langsung menjemput istrinya, memeluknya, menciuminya dengan perasaan rindu yang begitu berat. Menatap wajah Retno dan mencium perutnya yang berisi kehidupan buah cinta mereka.
Waktu semula rencananya masih dua mingguan lagi dr Prabu akan pulang, tapi karena semua di luar dugaan kejadian beberapa hari ini yang membuat dirinya juga tertegun dan tak menyangka semua harus berakhir seperti ini.
Dr Prabu berencana mau pulang dua hari ke depan setelah memastikan semuanya baik, mengontrol kesehatan masyarakat di barak-barak dan pengungsian untuk terakhir kalinya. juga akan pamitan dulu dengan tim sesama relawan dari berbagai daerah yang berkumpul dalam satu wadah team kesehatan.
Tak sabar dr Prabu ingin membuat kejutan kepulangannya dan satu lagi yang paling melegakan hatinya kabar tentang Alia karena dengan kejadian ini dirinya tidak melanjutkan tanggung jawab untuk menikahi Alya.
Dr Prabu tidak tahu perasaan Alya sekarang seperti apa terhadap dirinya. Dr Prabu tak mau tahu seperti apa isi hatinya Alya, yang pasti mungkin dia juga sudah tahu kalau status dirinya sudah menikah semoga Alya bisa menatap masa depannya dan pada pendiriannya untuk berubah seperti yang tadi dr Prabu lihat, Alya sudah berubah.
Mulai bisa mencintai anak-anak asuhnya, mencintai lingkungannya juga merasa betah tinggal dengan orang lain, itu adalah satu yang tak di temukan pada diri Alya sebelumnya.
Dr Prabu berpikir apa yang harus di katakan pada Retno saat nanti bertemu, karena dirinya tak jadi menikahi Alya, mungkin Retno masih menyangka dan masih tetap pada keputusannya dan kerelaannya menerima Alya di tengah-tengah rumahtangganya.
Dr Prabu belum bicara dan memberitahu pada siapapun tentang kejadian Alya mengalami keguguran, baik kepada kedua orangtuanya, Intan, dr Imam sahabatnya juga pada keluarga Alya sendiri.
Biarlah pada keluarga walikota Alya sendiri yang bercerita. Dr Prabu ingin menutup cerita tentang lembaran kelam kehidupannya, membuka pintu kebahagiaannya sendiri bersama istri tercintanya.
Sampai barak dr Prabu memasuki kamarnya yang berada di kantor desa setempat. Seorang temannya dr Dahlan mendatanginya.
"Gimana pasien yang kemarin di tolong itu nggak apa-apa dok? katanya berdarah-darah apa lukanya tidak serius?"
"Tidak, barusan aku memastikan mendatanginya dan melihat kesehatannya mulai baik."
"Syukurlah, dokter jadi pulangnya besok?" Dr Dahlan menatap tamannya selama mereka di pengungsian.
"Aku begitu kangen sama istriku dokter, apalagi aku dapat khabar istriku hamil dok."
__ADS_1
"Waaaah...selamat! kehamilan anak ke berapa itu?"
"Anak pertama dok."
"Dokter Prabu menikah sudah berapa tahun, baru mau punya anak sekarang?"
"Saya menikah baru dua bulanan mau tiga bulan."
"Hah baru dia bulanan? berarti masih pengantin baru? Masya Allah...kok dokter tega meninggalkan istri sendiri dalam masa-masa bulan madu?"
"Kami sudah sepakat, aku ingin menjalankan misi kemanusiaan dan istriku mau mengerjakan skripsinya. Kami akan bertemu dengan kerinduan." Dr Prabu berbohong, sekedar menutupi segala kejadian dan masalah yang menyelimuti rumah tangganya selama ini.
"Dokter, aku begitu kagum akan prinsip yang kalian lakukan, hanya karena ingin menjalankan misi kemanusiaan anda rela meninggalkan bulan madu sebulan lebih di sini."
"Terimakasih dokter, semua tidak seperti yang dokter Dahlan bayangkan, aku sekarang merasakan kerinduan yang teramat dalam makanya aku mau mohon diri pulang duluan."
"Pulanglah malam ini juga dokter, temui istrimu mungkin dia lebih merindukanmu di saat awal-awal kehamilannya, biasanya perempuan akan lebih manja saat menjalani kehamilan."
Dr Prabu diam, semua kata-kata dr Dahlan mungkin benar adanya.
"Pulanglah, pagi-pagi dokter sudah bisa memeluknya, jangan lewatkan momen saat anak kita mulai dari dalam kandungan, karena mungkin itu tak bisa di alami semua suami."
"Baiklah dokter, aku pulang malam ini, kata-kata dokter begitu menyentuh perasaanku, aku tak mau menyesal di kemudian hari."
"Pulanglah teman biarlah disini saya yang menyelesaikan sampai semua kondusif, dan bisa ditinggalkan. Keluargamu sesuatu yang sangat berharga."
Mereka berpelukan, ada hal dan cerita yang tidak bisa dr Prabu bagi dengan dr Dahlan, walau dia temannya selama di pengungsian. Hanya satu yang mereka tahu mereka sama-sama membaktikan diri dan ilmunya untuk sesama.
.
.
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir ( Karya baru yang baru beberapa Bab) By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1