
Rendra mengendarai motor berboncengan dengan Alya menuju tempat pengungsian dan di situlah Alya sehari harinya beraktivitas.
Tak banyak yang di bicarakan hanya sekedar kegiatan Alya saja yang jadi bahasan obrolan di jalan sampai Rendra menghentikan motornya di depan barak dan halaman kantor desa.
Alya bersama relawan yang lain bergerak di bidang terapi trauma anak anak, belajar, bermain, bernyanyi juga mendongeng juga menari bagaimana menghadirkan senyum di wajah-wajah mereka.
Ada mahasiswa, LSM, TNI dan ABRI manunggal bersama masyarakat, berbagai elemen masyarakat tumpah di sana dan mereka juga bersatu padu membangun kembali mental dan jiwa trauma terguncang juga sarana dan prasarana di sana.
Alya di sambut anak-anak yang sudah begitu mengenalnya, mereka memanggil dengan panggilan Kak Alya, sebagian anak menyambut dengan memeluknya karena mungkin kebiasaan dan keakraban mereka yang diperlihatkan dan tercipta saat bersama-sama.
Rendra langsung menemui panitia pelaksana di kantor desa menyerahkan bantuan dari kantor tempatnya kerja, dan ikut misi untuk membangun jembatan darurat penyambung antar desa untuk memudahkan penyaluran logistik dan property bantuan lainnya.
Rendra dan Alya berjanji mereka bertemu lagi di tempat itu nanti siang, saat rehat dan makan siang.
Alya tenggelam dalam kesibukan yang tak bisa dipungkiri hatinya tambah gembira bisa bertemu kembali dengan Rendra walaupun dirinya tak berani berharap apa-apa dari seorang Rendra mereka hanya bersahabat dan itulah sementara harapan Alya.
Siapa memang yang mau sama dirinya? wanita dalam masalah, hamil di luar nikah, minggat dari rumah, konflik dengan orangtua, numpang di rumah teman yang baru di kenal di perjalanan.
Tak ada terbersit dalam pikiran Alya soal apapun, satu yang selalu di ingat dan selalu di jaganya yaitu dirinya hanya punya semangat untuk berubah ke arah yang lebih baik.
Seiring dengan terpaan masalahnya Alya mulai dewasa cara berpikir dan bertindak juga cara memandang permasalahan dirinya, seperti apa adanya tak memperlihatkan siapa dirinya, tak satupun orang tahu kalau dirinya anak seorang walikota.
Alya merasa malu jadi anak seorang pejabat daerah, dirinya bukan contoh yang baik, jauh dari teladan yang harus di ikuti khalayak.
Makanya Alya mengambil jalan pemikiran sendiri yang dianggapnya terbaik yaitu pergi dari rumah, walau kedua orangtuanya sampai sakit tapi itulah pilihan yang harus di jalaninya.
Alya pernah mengirimi Ibunya pesan dan komunikasi dengan nomor baru, kalau Ibunya mohon tenang dan sabar kalau dirinya baik-baik saja ada di satu daerah yang begitu jauh, dan Alya tidak menyebutkan di mana dia berada walaupun ibunya memaksa ia menutup telepon itu untuk sekali telepon saja.
Siang menjelang Rendra dengan berpeluh datang mengajak Alya makan siang bareng, sesuatu yang tak pernah Alya lakukan, biasanya Alya makan dari dapur umum bersama relawan lain.
Rendra mengajak Alya makan siang di warung yang sangat sederhana agak jauh dari pengungsian, walaupun masih dalam suasana bencana alam tetapi jalanan dan warung ramai seperti biasanya karena mungkin bukan saja pengungsi yang berkumpul di setiap titik-titik pengungsian, tapi ada juga sanak saudara dari jauh yang menengok sengaja ke tempat pengungsian atau memberikan sekedar rasa berbagi dan simpatik, dorongan dan semangat kepada keluarganya, juga petugas dari dinas sosial dan LSM lain ikut memberi suasana ramai di tempat bencana alam itu.
__ADS_1
Alya tak menolak saat di ajak makan sama sahabat barunya Rendra malah ada suasana baru dalam hatinya.
Alya menikmati segala kesederhanaan yang disodorkan Rendra mereka makan seadanya di warung itu yang terasa begitu nikmat.
Alya tidak tahu Rendra kerja apa dan di mana, tapi dilihat dari kesederhanaan pembawaannya mungkin Rendra bukan orang yang punya jabatan tinggi, tetapi mungkin hanya pegawai rendahan tetapi diacungi jempol sama Alya atas solidaritas terhadap kemanusiaan yang di perlihatkan nya, begitu hormat dan sayang kepada kedua orang tuanya dan juga aktif di paguyuban alumni sekolahnya, juga dia bisa mengumpulkan donasi dari kantornya bekerja, jelas Rendra orang hebat.
"Al, makannya begini saja nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa Mas Rendra, aku terimakasih banyak sudah bisa berada di sini juga."
"Iya, kita harus bersyukur, masih bisa beli makan, sedang di barak pengungsian mereka hanya mendapat jatah makan dari dapur umum yang ala kadarnya walaupun tercukupi mungkin makan tiga kali tapi kan tidak bisa nawar apapun yang sediakan itulah menu yang harus di nikmati."
"Iya Mas, hatiku jadi terbuka kini akan arti sebuah rasa kemanusiaan."
"Belum lagi masa depan yang tak menentu, harta bendanya, rumahnya habis tertimbun debu vulkanik."
"Seperti juga, masa depan aku yang tak tentu tujuan dan pijakan, akan seperti apa selanjutnya aku tidak tahu." Alya seperti bergumam sendiri.
"Al, maaf ya, ucapan aku menyinggung kamu?"
"Al, jangan bicara begitu setidaknya kamu punya aku sekarang." Alya reflek menatap Rendra. Dan Rendra gugup dan juga gelagapan mungkin dirinya salah ngomong lalu meralat ucapannya.
"Maksudku kamu punya aku sebagai sahabat, yang bisa kamu jadikan tempat tukar pikiran dan berbagi pendapat seandainya aku bisa memberi manfaat buat."
"Makasih Mas Rendra."
"Maaf jika aku kurang begitu sopan, boleh aku tahu seperti apa perjalanan hidupmu sampai bisa naik bus di malam itu? tapi seandainya kamu tidak ingin bercerita dulu nggak apa-apa atau kamu ingin bercerita garis besarnya saja aku banyak waktu untuk mendengarkan mu, siapa tahu aku bisa menyumbangkan ide atau sekedar sharing."
Terlalu panjang kisahnya Mas Rendra tetapi ada yang harus aku sampaikan aku ini hamil karena kesalahanku. Mungkin semua orang akan aneh mendengarnya aku terlalu mencintai seseorang walaupun perasaanku itu salah, karena orang yang aku cintai telah memiliki kekasih dan sekarang sudah menikah, aku hamil sama orang yang aku cintai walau dia tidak mencintaiku. Tidak ada yang harus disesali walaupun pada akhirnya aku harus menerima semuanya."
"Menang aneh kedengarannya, tapi itulah kenyataannya. Kamu mencintai seseorang dan orang itu tidak mencintaimu dan kini kamu hamil oleh perbuatannya, kenapa sampai hamil? katanya orang itu tidak mencintaimu?"
__ADS_1
"Aku meracuninya, sehingga dia masuk perangkap ku dan terjadilah aku hamil, orang tuaku juga bingung, itulah cinta walaupun bertepuk sebelah tangan tetapi kini aku menyadari cinta harus datang dari kedua belah pihak apapun alasannya tidak bisa mengikuti ego keinginan sendiri, dan cinta harus ikhlas menjalaninya bukan atas dasar pemaksaan dan tipudaya sepertiku."
"Sudah Al, tak guna semua di sesali, sekarang bagaimana langkah selanjutnya, tentang orangtuamu?"
"Orang tuaku jelas malu dan berusaha meminta pertanggungjawaban orang itu tetapi orang itu sulit ditemui dan terjadilah konflik antara aku dan orang tuaku, aku bosan dengan segala percekcokan kedua orang tuaku aku lelah apalagi aku dalam keadaan seperti ini makanya aku meninggalkan semuanya meninggalkan rumah, meninggalkan pekerjaanku, meninggalkan segalanya aku ingin hidup sendiri tanpa orang yang aku kenal. Aku ingin hidup di lingkungan baru dimana Aku tidak dikenali sudah kukatakan aku hanya punya semangat dan aku akan menjaga anak ini seperti apa nantinya aku tidak tahu aku hanya menjalaninya."
"Alya, Apa sudah pernah kamu hubungi Bapak dari anak yang kamu kandung itu?"
"Sudah, tetapi aku hanya sebatas mengabari kalau aku hamil, karena sejak awal dia melakukan itu padaku tak ada rasa apapun, dan itu dia lakukan karena dia marah dengan perlakuanku yang meracuninya, dan dia melampiaskan dengan pemaksaan padaku saat dia sadar."
Rendra diam.
"Aku jelas salah, tak berhak meminta pertanggung jawabannya."
"Tapi Al, itu anak dia. Anak tidak salah dan perlu seorang figur Bapak dalam hidupnya."
Apaan yang bisa kupinta pertanggungjawaban dari dia! menjadi istri keduanya? aku rasa itu tak mungkin dan aku telan semua harapan itu sendiri, biarlah ini anakku dan akan aku lahirkan juga aku besarkan seorang diri."
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
Hai, readers tercinta! habis baca
"Biarkan Aku Memilih"Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, Meniti Pelangi
By Enis Sudrajat juga, baca, like,
__ADS_1
vote dan beri hadiah ya!