
"Maafkan aku Bu, aku bukan sahabat yang baik buat Alya, aku tidak bisa tahu di mana Alya berada kini dan aku juga tidak tahu kesibukan terakhirnya seperti apa karena aku juga sibuk bekerja."
"Desty bertemu denganmu Ibu seperti bertemu dengan anak Ibu sendiri, Ibu juga bukan Ibu yang baik sebagai pemberi contoh yang baik, sebagai pendidik yang baik sebagai pemberi tuntunan yang baik, juga bukan sebagai orang yang sempurna dan pengajar akhlak attitude yang baik bagi anak ku."
"Sebagai sahabat jelas aku salah, walau aku sampaikan semuanya diawali dengan seandainya dan bila, tapi aku memberi dan menyumbangkan pemikiran yang salah buat Alya sehingga Alya mencoba tanpa perhitungan jelas, aku sahabat pemberi pengaruh buruk, aku bukan sahabat baik yang membawa Alya pada kebaikan."
"Jangan meminta maaf seharusnya kita berdo'a semoga Alya sehat dan baik-baik saja di manapun dia berada, kami kehabisan cara dan akal untuk menemukannya hanya satu yang membuat Ibu merasa tenang karena selama sebulan lebih kepergiannya pernah menghubungi Ibu sekali dan itu nomornya nggak aktif lagi dia memberi keterangan kalau Ibu jangan khawatir dia mengatakan kalau Alya ada di suatu daerah yang jauh dan baik-baik saja."
"Astagfirullah... kapan itu Bu?"
"Sebulan lebih, Ibu masih menyimpan nomor itu tapi tiap hari Ibu telephon tak pernah aktif
Ibu berharap suatu hari dia pakai nomor itu dan aktif tapi tetap saja tak bisa."
"Mungkin Alya telah membuang nomor itu Bu, takut keberadaannya terlacak, itu pilihannya dan sementara kita hargai biarkan dia tenang dulu, mungkin suatu waktu datang kesadarannya dia akan menghubungi Ibu lagi."
"Desty, Ibu berharap suatu hari Alya bisa menghubungimu dan mengatakan dimana dia berada, Ibu begitu ingat, cemas dan kangen ingin tahu walau hanya khabarnya saja."
"Sama, saya juga berharap seperti itu Bu, saya tunggu dari hari ke hari dan menghubungi siapa saja teman yang memungkinkan Alya bisa singgah aku hubungi dan aku datangi, tapi sampai saat ini belum ada hasilnya."
"Terimakasih Desty."
"Apa Ibu ada khabar dari dr Prabu siapa tahu mereka telah sepakat."
"Justru dia hampir setiap hari mengabari dan bertanya perkembangan terkini dari khabar Alya, saya sebagai orangtua juga bingung Desty apa yang harus di katakan pada dr Prabu."
"Seperti apa sikapnya sekarang? apa dia mau bertanggungjawab?"
"Ya, dia akan bertanggungjawab, tapi saya sama Bapaknya Alya nggak bisa ngomong apa-apa karena Alya nya nggak ada, Alya seakan nggak mau seorang dr Prabu mempertanggungjawabkan perbuatannya itu yang membuat kami merasa heran."
__ADS_1
"Bu dr Prabu kan sudah menikah apa Alya akan jadi istri ke dua nanti?"
"Mau gimana lagi, saya pikir semua ada di tangan dr Prabu, dan semua memang tidak terpikirkan sungguh suatu dilema juga buat Alya, tak mampu berpikir sejauh itu Alya malah pergi tanpa khabar berita."
"Apa Ibu sama Bapak tak mencarikan solusi lain? misal mencari seorang suami pengganti untuk Alya?"
"Entahlah Desty, kami tidak bisa bermusyawarah dengan Alya karena Alya nya tidak ada, sempat terpikir oleh kami seperti itu, tapi kan kami harus bertanya juga pada Alya maunya apa, baiknya seperti apa kami jadi bingung. Untuk memberikan masukan dan solusi, kami tidak bisa mengambil keputusan apa-apa karena Alya nya nggak ada, jadi semua serba buntu."
"Pendapat kamu seperti apa tentang Alya malah pergi jauh Desty?"
"Aku pikir semua berkaitan tentang ketidaknyamanan Alya di rumah juga di tempatnya kerja Bu. Waktu itu dia pernah ngobrol dan curhat pada saya kalau dirinya mengaku banyak salah terhadap kedua orang tua, setidaknya itu pengakuan jujurnya."
Ibu Sofyan Wijaya diam memandang Desty dan begitu jauh pikirannya pada anak semata wayangnya. Kejujuran Alya memang telah berkali di dengarnya dengan permintaan maaf pada dirinya sebagai orangtuanya.
"Tetapi semua telah terjadi tak bisa kita kembali ke belakang, dirinya tidak bisa memberikan jalan keluar yang terbaik untuk kedua orangtuanya yang tiap hari berantem membahas permasalahannya. Juga keadaan dr Prabu seperti tidak memungkinkan Alya untuk maju dalam keadaan posisi seperti itu, serba salah memang mungkin kalau secara gamblang ia masih berpikir untuk menerima pertanggungjawaban dr Prabu sebagai istri keduanya."
"Yang mungkin akan menjadi masalah adalah istri dr Prabu maukah dia menerima keputusan itu seandainya di duakan? memang keputusan ada di tangan dr Prabu seandainya istrinya tidak rela apa dia akan tetap menikahi Alya?"
"Siapa istri yang mau di duakan Desty? dengan alasan apapun, tapi keadaan yang mengharuskan dr Prabu mengambil keputusan."
"Terlalu berat memang masalah ini, melibatkan semua orang dan keluarga, dan terlalu menyakitkan untuk pihak istrinya, sehingga Alya pun mungkin berpikir begitu, jadi lebih baik tidak mengambil keputusan dan menjalani apa yang diyakininya benar."
"Iya Desty Ibu bisa meraba hati anak Ibu."
"Ibu tahu keputusan dr Prabu mau menikahi Alya ada izin dari istrinya?"
"Kami bicara belum sejauh itu Desty, karena waktu datang ke sini kami tak bisa memberikan jawaban apapun, saya dan Bapaknya hanya menerima tanpa adanya Alya."
"Gitu ya?"
__ADS_1
"Adakah selentingan mungkin Desty mendengar keluhan Alya sebelum dia pergi? kamu kan teman dekatnya."
"Kemungkinan Alya bingung dan stres juga menghadapi masalahnya, ini hanya kemungkinan dan pandangan saya. Alya ingin menjauhkan diri dari masalah dan keluar sejauh mungkin dari ketidaknyamanan yang dia rasakan." Desty yakin seperti itu.
"Iya Desty Ibu juga kini merasakan, Alya setiap pagi disuguhi dengan ketidak nyamanan di rumah. Ibu dan Bapaknya mencari jalan keluar yang tidak kunjung ketemu titiknya. Ibu panik, malu juga cemas dan berbagai rasa ketakutan bercampur menjadi satu sehingga menimbulkan permasalahan baru di keluarga seperti berantem adu faham setiap hari."
"Itu pernah di keluhkan Alya padaku Bu, tapi saya tak menyangka Alya mengambil langkah begitu berani untuk hidup sendiri dan jauh dari keluarga."
"Harusnya kami orangtua lebih bisa mengerti perasaan anaknya menganggap semua kejadian ini sebagai musibah, lalu kami duduk bersama untuk mencari solusinya."
"Semoga Alya dalam keadaan baik-baik saja dan merasa tidak di jauhi sama aku sebagai sahabatnya, Aku juga selalu membuka jalan komunikasi di sela-sela kesibukanku"
"Seharusnya kami lebih merangkul Alya untuk dimintai pendapat bagaimanapun juga Alya sudah dewasa, dan seharusnya mengerti kita sebagai orabgtua lagi bingung mencari apa yang terbaik untuk dirinya."
"Kekhawatiran Ibu sangat beralasan Desty di sini juga Alya tidak mengurus dirinya, diajak kontrol kehamilan saja dia tidak mau entah seperti apa kehamilannya saat ini, Ibu semakin kepikiran saja, bagaimanapun baik buruknya tetap anak Ibu."
"Dia juga sahabat saya Bu."
.
.
.
Biarkan Aku Memilih Kurang lebih sepuluh episode terakhir.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir ( Karya baru yang baru beberapa Bab) By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1