Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Sakit pura pura


__ADS_3

"Intan antar aku jangan banyak omong tapi ya."


"Kemana Kak?"


"Aku mau nengok seseorang."


"Nengok di mana?"


"Ya, di sini di rumah sakit ini."


"Nengok Mbak Retno Kak?"


"Bukan, itu anaknya Pak walikota yang kirim roti waktu itu."


"Ooooh... yang penggemar Kakak ya?"


"Ssssst... kamu diam pokoknya antar aku titik."


"Ya aku jadi apa? pur- pura lagi? ogah ah..."


"Ya kamu tetap jadi kamu."


"Katanya sudah damai sama Mbak Retno, sama Mbak Retno saja biar kelihatan serasinya."


"Retno itu sedang tugas sekarang."


Intan diam saja, dalam hatinya ingin segera melihat Kakaknya jalan bareng walau hanya di lorong rumah sakit.


"Kamu mau aku sama Retno rusuh lagi ya?"


"Rusuh apaan kayak tawuran antar kampung saja, ayo aku antar kayak anak kecil saja pake di antar segala."


"Kamu itu sudah dewasa Intan pastinya sudah mengerti, ya antar aku biar tidak berduaan sama si Alya, harusnya kamu itu mendukung hubunganku dengan Retno, aku nggak pernah ada apa- apa dengan Alya justru aku sangat menjaga perasaan Retno dalam hal ini, apalagi sekarang hubungan kita dalam masa-masa ujian."


"Wow...kayak sekolah aja ada ujiannya heee... namanya Alya ya Kak? aku pengen tahu dan lihat apa dia secantik Mbak Retno?"


"Hus, jangan membanding bandingkan orang, pasti ada kekurangan dan kelebihannya, ayo ikut aku!"


Intan ikut di samping Kakak nya dan dalam hatinya penasaran seperti apa Alya yang dengan caranya sendiri menarik perhatian Kakaknya.


Pintu di ketuk dari luar dan tak ada jawaban dr Prabu membuka handle pintu dan masuk melongokan kepalanya ke dalam ruangan terlihat Alya sedang tidur tanpa seorangpun yang menemaninya, merasa takut mengganggu dr Prabu mau keluar lagi tapi seketika Alya membuka matanya dan langsung tersenyum memandang siapa yang datang.

__ADS_1


"Hai Alyaaaaaa... kenapa lagi nih?"


"Biasa dok kecapean, dan meriang sedikit."


"Jangan capek-capek dong santai saja apa sih yang dikejar?"


Alya diam dalam hatinya berkata justru kamu dok yang aku kejar!


"Maaf, aku baru tengok malam ini dan ini adik cantikku Intan calon perawat juga."


Intan tersenyum dan mengangguk, berdiri di samping dr Prabu.


"Di kira calon istrinya, setia banget heee..."


"Masih dalam proses yang itu mah." dr Prabu mencoba menghibur dirinya dan sedikit bergurau.


Dr Prabu merasa bersyukur


datang kunjungan dokter dan Alya pasien pertama yang di kunjungi dr Indah dan suster pendampingnya juga suster KKN suster Retno masuk ke ruangan VIP itu.


Deg! dr Prabu merasa ada yang salah dengan dirinya, juga Retno tak menyangka Mas Prabu ada di ruangan ini? waduh nanti pasti akan ada pertanyaan mungkin interogasi untuk dirinya pikir dr Prabu, tapi semua di bikin biasa saja Intan mengerti mundur perlahan juga dr Prabu, membiarkan dr Indah dan suster memeriksa dan bertanya tentang perkembangan kesehatan pasien.


"Suster Retno, tolong pasiennya di tensi dulu."


Suster Retno berhenti dan memandang dr Indah, rupanya Alya sengaja bikin ulah di depan dr Prabu atau mungkin hanya cari perhatian saja, tapi sepertinya tak tepat sasaran dan suasananya.


"Mbak, semua suster dalam pemantauan saya selaku dokter yang menangani Mbak."


"Saya bukan orang Jawa dok saya bukan Mbak-Mbak."


"Jadi saya panggilnya apa?" dr Indah nggak mengerti maunya pasien ini, bukankah kalau maunya pasien mah sembuh, dan lalu pulang udah, kok ini kelihatannya aneh-aneh banget.


Alya diam Intan keki dan suster Retno agak manyun dan dr Indah tak mengerti, juga sedikit kesal, dr Prabu sedikit agak jadi nggak tenang.


"Aku itu orang Sunda panggilannya Neng, Atau Alya saja."


"Maaf ya, aku nggak tahu di data pasien nggak ada di sebutkan suku apa Neng Alya, ada juga hobby... sama status!" dr Indah menjadi ngelawak garing dan Alya hanya cemberut di sindir dr Indah.


"Alya masalah panggilan tidak tidak harus menjadi sesuatu yang penting untuk di permasalahkan, di sini contohnya saya seorang Sunda juga, ada yang memanggil Mas, saya bukan orang Jawa tapi bangga dan merasa di hargai dengan panggilan itu, ada yang memanggil akang ada yang memanggil dokter ada yang memanggil Prabu saja bahkan ada yang memanggil Pak walaupun saya belum menikah dan punya anak jadi apa salahnya, bahkan saya punya panggilan khusus dengan seseorang." dr Prabu melirik Retno dan Retno membuang muka lalu menunduk.


"Neng Alya, di rumah sakit itu untuk perawatan kesehatan, dan pengobatan penyakit, jadi dokter yang punya peranan." dr Indah memberi pengertian lagi.

__ADS_1


"Suster Retno, coba tensi dulu."


Alya diam saja saat Retno mau mengukur tekanan darahnya.


"Maaf, tolong di buka dulu cardigan nya ya agak ketebalan nanti tidak tertangkap detak nadinya nya, jadi tidak akurat."


Dengan enggan Alya membuka sebelah tangannya dalam menyodorkan sebelah tangannya tanpa melihat ke muka Retno. Retno melaksanakan tugasnya dengan baik dalam pantauan dr Indah dan suster dinas.


"Sepertinya sudah normal dok."


"Neng Alya di sini sama siapa? maksudnya penanggung jawab Neng Alya masuk rumah sakit ini siapa?"


"Orang tuaku Papa dan Mamaku, kalau enggak di wakilkan juga sama dr Prabu nggak apa-apa dia sudah seperti keluargaku."


Hah ? maksudnya Alya apaan ? ketemu aja jarang banget kok katanya sudah seperti keluarga sendiri dr Prabu merasa di jatuhkan di depan Retno


"Ya sudah dr Indah, enggak usah berbelit hasil pemeriksaan disampaikan kepada orang tuanya kalau nanti kesini jadi mungkin sekarang cukup sampai disini saja ya, Alya juga sudah sehat sudah kelihatan segar tinggal istirahat di rumah dan bisa beraktivitas kembali, terima kasih dokter suster atas kunjungannya." dr Prabu sekilas melihat roman muka Retno penuh dengan tanda tanya, dan keluar mengikuti dr Indah tanpa melihat lagi ke arah dr Prabu juga Intan.


"Kenapa sih harus membuat kesulitan dan menghalangi kerja dokter? apa Alya sudah tidak nyaman di rumah sakit ini?"


"Aku kesal aja dokter teman nggak ada, Papa dan Mama juga nggak ada, coba dari tadi dokter Prabu menemani saya saya sangat sedih."


"Papa Mama mu juga temanmu bahkan aku juga punya kesibukan nanti ada saatnya dan waktunya, orang sakit harus bersabar bukankah sabar itu menaikan imun seseorang?"


Alya merenggut.


"Gimana Alya kalau adikku yang temani sampai ada sahabat Alya dan orangtuanya yang datang ke sini, dan kemungkinan malam ini juga Alya bisa pulang dan istirahat di rumah."


"Boleh, maaf ya dok saya merepotkan."


"Nggak,sama sekali nggak merepotkan, saya senang Neng Alya sudah sembuh dan tinggal pemulihan di rumah, sugesti rumah lebih mempercepat penyembuhan daripada suasana rumah sakit."


"Tapi aku senang bisa bertemu dokter di sini." Intan semakin cemberut dan Alya semakin sumringah wajahnya saat dr Prabu mendekatinya.


"Ya sudah, sama Intan dulu ngobrolnya ya sama-sama cewek, silahkan ngobrol apa saja mau drakor, mau idola ataupun soal cowok, heee...saya ada kerjaan dulu."


Dr Prabu berpamitan dan tidak terlalu dekat dengan Alya takut ada drama lagi yang tidak diinginkan, dr Prabu sudah menangkap yang sesungguhnya tujuan Alya di rumah sakit ini, dr Prabu tahu Alya tidak sakit dan itu hanya akal-akalan nya saja berani bertaruh kalau Alya sama sekali tak ada dan tak mengeluhkan apa-apa selain mengejar dirinya dan berharap bertemu dengan dirinya itu saja.


Dr Prabu keluar dari ruangan VIP itu dengan memikirkan alasan apa dan jawaban apa yang akan disampaikan kepada Retno sungguh semua ini di luar perkiraanya, baru saja tadi di perjalanan dan pagi tadi dirinya dan Retno membikin kesepakatan satu diantara dirinya dan Retno melakukan kesalahan tamatlah semuanya.


"Oke aku beri kesempatan aku tak akan marah marah lagi, tapi satu kesalahan diantara kita yang tidak berdasarkan rasa yang kita jaga atau salah satu diantara kita saling menyakiti akan dianggap penghianatan"

__ADS_1


Dr Prabu begitu takut melakukan kesalahan, dan kata-kata Retno selalu menjadi bahan pengingat nya agar dirinya lebih hati-hati lagi dalam bertindak dan melangkah.


Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝


__ADS_2