
"Retno, ada apa dengan dirimu? dengan suamimu dan rumahtangga mu?"
Pertanyaan yang mungkin kesekian kali suster kepala Harni pertanyakan kepada Retno.
Dari kemarin-kemarin semenjak Retno datang dengan tiba-tiba tak sedikitpun Retno berbicara tentang apapun.
Suster kepala Harni pun tak ingin memaksa, hanya menunggu sampai Retno siap dengan keterbukaannya dan mau bercerita tentang masalahnya. Hanya saja serasa dirinya tidak pantas menerima Retno dalam status yang sekarang ini kecuali mereka sedang dalam permasalahan.
Entah apa yang terjadi, baru saja mereka melangsungkan pernikahan tiba-tiba Retno datang ke rumahnya secara tiba-tiba dan menyatakan ingin menempati kamarnya kembali.
jelas menimbulkan pertanyaan segede gunung dan keheranan yang luar biasa bagi suster kepala Harni dan keluarganya.
Tak Ada yang bisa ditolak suster kepala Harni pada Retno, selain di dalam kamarnya masih utuh barang-barang Retno, juga Retno oleh suster kepala Harni sudah dianggap anaknya sendiri dan bertahun-tahun mereka hidup bersama dalam suka dan duka.
Tetapi dalam keadaan seperti ini, ingin rasanya suster kepala Harni berbicara dari hati ke hati, ingin mendengar kejujuran Retno ada apa sebenarnya semua ini.
Tadinya suster kepala Harni ingin menelpon kepada suaminya yaitu dr Prabu tetapi setelah dipertimbangkan akan kurang baik soalnya Retno sendiri belum membuka hati bercerita kepada dirinya.
Kegalauan, kecemasan melingkupi hati suster kepala Harni, seserius apa permasalahan rumah tangga yang baru saja dimulai itu? sampai-sampai Retno memutuskan untuk kembali ke Bandung dan menempati kamarnya, dengan alasan ingin fokus pada skripsinya dan segera selesai dan ingin segera pulang ke Pekalongan tanpa sedikitpun menyinggung tentang suami pekerjaan dan juga rumah tangganya.
Retno semakin diam dan menunduk ada air mata dari ujung bola matanya dan semakin lama semakin tak kuasa untuk di tahan dan di bendung nya.
Tak sanggup melihat sosok suster kepala Harni yang dianggapnya orangtua kedua bagi Retno.
"Setidaknya katakan sesuatu Retno, agar Ibu merasa tenang siapa tahu Ibu bisa memberikan saran dan solusi untuk permasalahan mu seandainya kamu ada dalam masalah."
Retno semakin pilu menangis menutupi muka dengan kedua telapak tangannya. Suster kepala Harni bingung ingin bertanya apa lagi hanya bisa mengusap punggung Retno dan tangannya lalu memeluknya.
Membiarkan Retno menangis menumpahkan segala beban di hatinya mungkin itulah yang terbaik, karena menangis juga itu adalah obat sekedar melonggarkan sesak didalam dada atas segala yang dirasa.
"Minumlah dulu, ada apa kamu ini membuat Ibu cemas saja."
Suster kepala Harni menyodorkan gelas minum,dan memandang Retno saat meminumnya.
"Ibu, aku minta maaf mungkin aku akan merepotkan Ibu kembali di sini."
"Jangan bicara seperti itu seperti kamu baru kenal keluarga Ibu kemarin saja."
"Ibu aku begitu malu untuk membuka diri tentang perjalanan hidupku, perjalanan cintaku, dan juga sekarang rumah tanggaku. Tapi sepertinya aku tidak bisa terlalu lama menyembunyikan semua itu, karena mungkin akan menjadi beban Ibu, juga tidak terus terangan nya aku akan tetap menjadi pertanyaan Ibu."
__ADS_1
"Iya Retno, Ibu sangat menyayangkan kenapa kamu sampai keluar rumah ada apa?"
"Sebenarnya ini adalah aib suamiku Bu, tapi bagaimanapun juga aku akan cerita yang sebenarnya."
"Aib apa itu Retno?"
"Cerita ini sebenarnya terjadi sebelum pernikahan kami, saat itu aku memasuki perempat final atau semifinal di turnamen hari jadi Rumah sakit TMC, aku kehilangan Mas Prabu dan dukungannya, Mas Prabu hilang entah kemana sampai selesai pertandingan."
Suster kepala Harni menyimak tak ingin ketinggalan moment cerita yang sebenarnya yang menurut Retno itu adalah kebenaran dari kejadian itu.
"Saat itu Mas Prabu bertemu dengan seseorang anak seorang walikota yang akan menonton pertandingan, dia sangat menggilai nya dan begitu mencintai Mas Prabu walau bertepuk sebelah tangan. Mungkin inilah kesempatan yang ditunggu-tunggu, lanjut merayu Mas Prabu membujuk untuk mengantar pulang mengambil kamera yang pura-pura lupa ke cafenya.
Suster kepala Harni manggut-manggut.
"Sampai disitu niat jahat perempuan itu yang bernama Alya diwujudkan dalam bentuk secangkir kopi twister racikannya dengan bumbu obat tidur sehingga Mas Prabu tertidur beberapa saat setelah meminumnya."
"Lalu?" Suster kepala Harni begitu penasaran.
"Lalu, saat Mas prabu ingat semuanya sudah malam, dan dalam keadaan dirinya satu selimut dengan si Alya, video dan photo dokumentasi menjadi saksi hasrat yang ingin di sampaikan si Alya. Dari situ Mas Prabu marah mendapatkan dirinya dalam keadaan terhina seperti itu masuk ke dalam jebakan secangkir kopi yang diracuni, dalam keadaan emosi Mas Prabu melakukan pemaksaan, dan terjadilah hal hina itu hingga pas aku dalam perjalanan pulang habis akad nikah tahu dari pesan yang Alya kirimkan, kalau si Alya itu hamil."
"Astaghfirullahaladzim, Retno apa semua yang kamu katakan itu benar? ya Allah, ya Allah ada apa semua ini? Retno!"
"Retno..."
"Dan setelah selesai akad nikah semua sudah pulang kami bertengkar hebat, saat aku tahu walikota menelephon Mas Prabu dan Mas Prabu berbohong padaku. Maka aku buka semuanya setelah ponsel Mas Prabu di banting sendiri sampai hancur agar aku tak melihat siapa yang menelephon, padahal aku sudah tahu semuanya."
"Ya Allah Retno seberat itu cobaan kamu ini Nak."
"Apa salah aku Bu? sebagai istri apa yang harus aku lakukan? haruskah aku memaafkan dan memaafkan kembali orang yang aku cintai? sakit rasanya hati ini apalagi jika di awal-awal pernikahanku aku akan menyaksikan suamiku mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan menikahi perempuan itu, aku sungguh nggak akan sanggup Bu..."
Retno menangis di pangkuan suster kepala Harni, air matanya tumpah kembali, dan suster kepala Harni pun sama menangis ikut merasakan bagaimana perasaan Retno.
"Maaf Retno, Ibu harus berpikir dulu sebelum memberi saran karena Ibu takut salah dalam memutuskan dan menilai seseorang."
"Ibu, cukup memberi aku tumpangan di sini lagi sampai skripsi ku selesai dan aku di nyatakan lulus, aku akan pulang ke Pekalongan dan akan meneruskan usaha keluargaku."
"Retno, saran awal Ibu jangan dulu terlalu banyak rencana, karena itu akan mengganggu pikiranmu jalani saja dulu apa yang ada di depan matamu selesaikan dulu skripsi mu titik, masalah nanti kamu setelah selesai skripsi dan lulus akan melangkah seperti apa kemana itu terserah kamu."
"Iya Ibu, aku begitu kalut dan tak bisa berpikir dengan benar, semua keputusan aku ambil dalam keadaan emosi, Ibu benar jalani saja dulu satu-satu."
__ADS_1
"Tinggallah di sini sampai kapanpun kamu mau, dan betah juga butuh."
"Terima kasih Ibu."
"Apa suamimu tahu kamu ke sini?"
"Tahu."
"Apa orangtuamu tahu, mertuamu tahu masalah rumah tanggamu ini?"
"Orangtuaku sementara belum tahu dan tak akan tahu! kecuali mertuaku aku kemarin baru ke sana dan bicara pada mereka.
mereka tahu semuanya dari awal karena walikota pernah datang ke rumah orang tua Mas Prabu menyampaikan semuanya dan ujung-ujungnya meminta tanggungjawab."
Suster kepala Harni bengong menatap Retno.
"Aku mengerti orang tua Mas Prabu dalam dilema saat di kota datang, undangan pernikahan kami telah disebar, mereka juga berpikir melangsungkan pernikahan dengan menyembunyikan semua dariku? atau mengatakan sejujurnya keadaan Mas Prabu dan masalahnya dengan kemungkinan pernikahan tidak jadi dan batal mereka juga menghargai keluarga aku, akan seperti apa harga diri mereka seandainya pernikahan itu dibatalkan."
"Ibu mengerti Retno istirahatlah, kelihatan kamu lelah banget. Berarti kamu putus tak ada komunikasi dengan suamimu?"
"Iya Bu aku ingin tenang muhasabah dan introspeksi diri."
"Ya sudah, istirahatlah."
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
Hai, readers tercinta! habis baca
"Biarkan Aku Memilih"Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, PESONA ARYANTI
By Enis Sudrajat juga, baca, like,
vote dan beri hadiah ya!
__ADS_1