Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Sambutan baik rencana nikah


__ADS_3

"Oh, alah Nak Retno hamil besar begini masih kuat saja melakukan perjalanan sini Nak istirahat nanti Ibu urut kakinya kelihatan sedikit bengkak pasti pegel ya?" ucap Ibunya dr Prabu sambil menyentuh betis Retno menantunya.


"Nggak usah Bu, biar Aku saja nanti yang urut." Dr Prabu mengusap kepala Retno yang sebenarnya kelihatan segar tapi orang di sekitarnya begitu memperlihatkan perhatian lebih pada Retno yang lagi hamil.


"Cuci dulu pakai air hangat ya biar enakan tidurnya," Retno tak bisa menolak saat Ibunya dr Prabu sudah menghangatkan air di panci Retno hanya menurut saja.


Setelah di jamu makan malam baru mereka ngobrol santai di ruang keluarga dan dr Prabu juga dr Imam bicara serius mengemukakan niat baik dan semua permasalahan yang ada dengan meminta mengajukan persetujuan orangtuanya.


"Sebenarnya Bapak sama Ibu juga selama ini merasa khawatir dan takut juga malah kata menikah sudah di ujung lidah ingin di sampaikan pada Nak Imam tapi karena terkendala Intan belum selesai kuliah takut malah mengganggu di akhir-akhir masa kuliahnya jadi Bapak menahan diri untuk memanggil Nak Imam dan bicara serius tentang hubungan yang selama ini Nak Imam sama Intan jalani," jawab Bapaknya dr Prabu bicara apa adanya.


"Iya Nak, Ibu takut kalian kebablasan karena bertemu tiap minggu jauh di Bandung sana di tempat kost, menengok ke sini pulang bersama-sama kadang Intan yang ke Tasikmalaya sana sedang kalian bukan muhrim, Ingin rasanya sah saja dulu kalian biar tidak jadi kecemasan bagi Ibu Bapak di sini."


"Iya Bu sama Aku juga, sekuat kuatnya dua orang yang lagi di mabuk cinta kalau sering bersama akan banyak godaan yang datang," timpal dr Prabu


"Jadi kalau Bapak sama Ibu tentunya senang saja mendengar keseriusan Nak Imam hanya bagaimana soal orangtuanya itu?"


"Insyaallah nggak apa-apa Bu Pak, Aku tetap pada pendirian awal ingin menikah secepatnya kalau kedua orang tuaku Aku yakin lambat laun akan menerima keputusanku ini."


"Baiklah Bapak sama Ibu mau ngobrol dengan saudara yang lain dan meminta pendapatnya juga cari waktu tanggal yang baik walau masih ada ganjalan bagi Bapak yang terasa kurang yaitu tidak melibatkan orangtua Nak Imam."


"Cuma Aku mau kalau semua setuju, Akad nikah di Bandung resepsi di rumahku saja di Tasikmalaya. Walau rumah baru tapi semua bisa di kondisikan mungkin hanya orang dekat dan relasi kerja saja yang hadir di resepsi nanti mungkin juga teman Intan bisa datang saat akad nikah di sini dan besoknya resepsi di sana."


"Baiklah, begitu bagus sepertinya memenuhi rasa keadilan bagi semuanya, Aku sama Retno setuju," ucap dr Prabu menyetujui ucapan dr Imam.


Akhirnya kata sepakat di capai tanpa hambatan apapun karena orang tua Intan merasa sudah berkewajiban mengarahkan Anak dan calon menantunya kepada arah yang lebih baik tidak baik berpacaran terlalu lama karena akan menimbulkan banyak fitnah dan godaan yang mungkin tidak semua orang bisa mengendalikannya.


Adapun restu dari orang tua dr Imam itu akan menjadi urusan mereka sendiri. Karena syarat nikah ada pengantin, wali nikah, dan saksi-saksi.


Intan diam masih belum percaya dan hatinya masih saja deg-degan. Akhirnya hubungan cintanya dengan dr Imam akan bermuara pada pernikahan juga.

__ADS_1


Cintanya yang dari awal di serahkan dan hanya untuk dr Imam kini sebentar lagi akan berbuah manis pernikahan.


"Pak Bu, mungkin setelah menikah Aku akan membawa intan langsung ke Tasikmalaya dan menetap di sana, Aku sudah mempersiapkan segalanya buat rumahtangga Kami nanti, rumah sudah ada dan Intan mungkin akan meneruskan bekerja di sana." Dr Imam sedikit meminta pada orangtuanya Intan.


"Itu akan lebih baik Nak Imam, suami istri harusnya dan idealnya memang bersama dan tidak berpisah kalau semua sudah siap syukurlah karena Intan telah menikah akan menjadi tanggung jawabmu Nak Imam."


"Iya, tapi mulai besok Intan nggak usah ke Tasikmalaya dulu di sini saja sampai Kami dapat kabar kapan hari H nya untuk Akad. Mungkin Aku sama Retno dan dr Imam mempersiapkan di sana untuk acara resepsi nanti setelah akad nikah di sini selesai jadi Intan diharapkan fokus di sini saja," ucap dr Prabu.


"Iya Kak," sahut Intan perlahan.


"Besok pagi Bapak mau rapat kecil-kecilan keluarga di sini dan siangnya sudah bisa dapat kabar," timpal bapaknya Intan menambahkan.


"Iya Pak."


"Nak Retno di sini saja dulu biar nggak bolak balik, rasanya Ibu khawatir melihatnya."


Dr Prabu mengangguk sambil mengusap punggung Retno, merasa dirinya juga nggak mau berpisah walau hanya satu dua malam.


"Ya sudah kalau itu yang terbaik nggak apa-apa tapi hati-hati saja bawa kendaraannya, capek berhenti dulu jangan memaksakan diri terutama tanya Istrimu kalau sudah mau istirahat menepi dan istirahat."


"Iya Bu."


Yang paling plong adalah hati dr Imam saat semua sudah di capai kata sepakat, bersama Intan masih saja ngobrol di teras depan saat yang lain sudah beristirahat.


"Mau konsep resepsi seperti apa Nanti Tan?" tanya dr Imam berbisik di telinga Intan.


"Apa aja Mas, Aku nggak punya planning apapun yang penting sah saja dulu Kita jadi suami istri itu sudah cukup. Karena pernikahan bukan masalah akan dan resepsi saja tetapi bagaimana Kita saling menjaga pernikahan itu sendiri di masa yang akan datang dan seterusnya."


"Betul Intan yang terpenting kita bisa melewati malam menegangkan nanti!"

__ADS_1


"Mas, jangan minta di sini nanti saja di sana ya?" sahut Intan mengerti apa yang di ucapkan dr Imam.


"Yaaaah, kelamaan kalau habis resepsi Intan! memang kenapa? Kita kan nanti sudah sah jadi suami istri jadi boleh melakukan apapun!"


"Ya elah Mas! Akad sekarang besok resepsi di Tasikmalaya malamnya mungkin sudah pada pulang jadi tinggal Kita berdua, Mas baru boleh minta!"


"Kalau habis akad Kita ngapain malamnya di sini? ngobrol saja? Aku nggak mau," sanggah dr Imam dengan muka cemberut.


"Ih, laki-laki emang nggak ngerti sabar sedikit bisa kan?"


"Intan, sebelum menikah semua orang juga bisa sabar. Tapi kalau sudah menikah mana bisa sabar semua orang juga tahu kalau pengantin yang diinginkannya ya berduaan, kalau memungkinkan habis akad juga Kita bisa kok mencobanya!"


"Maksud Mas mencoba apa?"


"Praktek!"


"Ih, dasar nggak sabaran!"


"Hahaha.... sudah yuk Kamu tidur sudah sepi Aku juga mau istirahat."


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2