Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Curhat pada Istri


__ADS_3

"Mas, kok jadi begitu kasihan Intan," ucap Retno sambil menyuap makanan kesukaannya.


"Tadi juga siang Ibunya dr Imam sama itu cewek mengantar makanan ke kantor, sambil mengenalkan cewek itu, tapi sebelumnya dr imam mengadu padaku di kantor begitu tersiksa dan tak bisa berkutik di hadapan orangtuanya, apalagi Vionna nama itu cewek mau tinggal seminggu di sini katanya." jawab dr Imam.


"Mas gimana nasibnya Intan? Aku takut jadi down apalagi sekarang lagi sakit, takut sakitnya terlalu banyak berpikir tentang hubungannya yang lagi begini," timpal Retno bicara perlahan sambil sesekali melirik pada dr Imam sama Vionna yang masih dudu makan dengan begitu rapatnya.


"Kembali pada jodoh Sayang, semua ada yang mengaturnya kita hanya berusaha semaksimal mungkin, sekuat apapun cinta yang kita pertahankan tetap kembali kepada aturan yang Maha Kuasa tetapi kita wajib berusaha dan berdo'a meminta yang terbaik, Aku sendiri dalam melihat kasus Intan dan dr Imam biasa saja, mungkin bagi mereka itu adalah cobaan terberat tetapi kalau mereka bisa melewatinya toh akan bertemu kembali dan berjodoh, seperti kita saja bertahun-tahun akhirnya seperti ini, Kamu kini hamil buah cinta kuta sayang itu keyakinan yang kita yakini kalau kita akan bersatu walau sampai sekarang cobaan tetap saja ada," ucap dr Prabu sambil mengusap punggung istrinya.


Retno tersenyum menyadari kalau perjuangannya meraih cinta terlalu berat baginya, tapi benar kalau kita bisa melewatinya semua akan berbuah manis.


"Sudah jangan di lirik terus takut mereka melihat kita, sepertinya ceweknya yang maju terus dan satu lagi jangan jadi berita bagi Intan," ucap dr Prabu sambil tersenyum.


"Justru harus jadi berita bagi Intan Mas, biar ada sedikit semangat perjuangan, jangan kalah sama orang baru Aku tahu dr Imam sama Intan saling cinta jadi biar mereka sama-sama punya cara bagaimana mengatasi masalah yang seperti ini," sahut Retno enteng.


Dr Prabu hanya mengangkat bahunya, pemikiran perempuan kadang berbeda pasti lebih ke hati tak seperti laki-laki hanya fakta dan melihat perlunya.


"Retno, sebenarnya ada yang ingin Aku sampaikan sama Kamu masih berhubungan dengan kejadian di pasar waktu itu sama Bi Iyah, jangan marah tapi dengar dulu, bukan saatnya marah tapi kita lebih ke diskusi saja bagaimana pemikiran Kamu melihat permasalahan ini yang berkembang di rumahsakit dan kantorku," ujar dr Prabu meneliti wajah Retno yang masih saja istimewa di pandangannya.


"Ada apa Mas?"

__ADS_1


"Masih tentang Alya, Alya tadi siang datang ke kantorku, alasannya mengajukan permintaan pada pihak rumahsakit untuk menjadi anggota di yayasan yang Walikota dirikan bersama, rumah sakit hanya sebagai pembantu di di bidang medis juga kesehatan itu alasannya tidak ada dana khusus yang di pinta, gimana pendapat Kamu Sayang?" ucap dr Prabu sambil berharap Istrinya memberikan sedikit masukan yang berarti.


"Mas sudah jawab belum?" Retno balik tanya pada suaminya.


"Belum, itu harus ada kesepakatan bersama, walau keputusan mutlak ada di tanganku," jawab dr Prabu apa adanya.


"Aku tidak setuju sama sekali! itu hanya alasan saja untuk bisa masuk pada lingkungan rumah sakit, Aku dengan jelas melihat kelicikan di matanya, dari kata-katanya, dari ancamannya, kalau tidak suka padaku kenapa dengan suamiku mau begitu dekat? apa maksudnya kalau bukan untuk tujuan Dia sendiri? Kalau Mas yang punya wewenang demi kebaikan tolak saja! bukankah rumah sakit juga sudah punya yayasan walau bukan yayasan pribadi dan masih gabungan sama semua rumah sakit yang masih dalam satu naungan?" ucap Retno memang masuk akal.


Dr Prabu diam, mungkin memikirkan kenapa Retno begitu tak suka karena dirinya juga memang tidak suka dengan sikap yang di buat buat Alya.


"Aku mau bertemu mau melihat muka culasnya, di depanku bersikap congkak dan begitu berani mengancam segala tapi di depan Mas apa faktanya? malah mengajak, kalau rumah sakit dan Mas masih tertipu Dia akan begitu semakin sombong dan memiliki jalan mendekati Mas lagi," timpal Retno begitu semangat bicaranya.


"Aku berpikir memang terlalu curiga juga menyiksa hati kita juga Mas, tapi kalau seperti Alya yang dengan terang-terangan masih penasaran dengan Mas perlu di pertanyakan pernyataannya, juga niat masuk rumah sakit mau program Anak apa mendekati Mas? jangan jangan dekat dengan dr Imam juga apa tujuannya? sedang Alya masih bersuami bagaimana rumah tangganya? ada pertanyaan besar dalam benakku setiap saat Mas, Kasihan Mas Rendra memiliki istri seperti itu, tak setia seperti liar tanpa kendali," ucap Retno merasa ingat kalau dirinya pernah dekat dengan Rendra walau tidak akrab seperti teman yang lain.


"Sama Aku juga ingin bertanya apa tujuan yang sebenarnya, secara jujur biar memberi kedamaian dan ketenangan buat kita, jangan hanya menebak yang nantinya jadi fitnah," jawab dr Prabu sambil melirik de Imam yang masih saja ngobrol mungkin makannya sudah selesai.


"Mas, Alya terang-terangan di hadapanku di pasar waktu itu, masih penasaran dengan Mas, masalah penasarannya seperti apa jelas ingin dekat kembali, kalau bukan untuk itu kenapa bicara Anak di depanku dan kejadian itu? bahkan bicara poto segala! Aku seorang Istri Mas apa enak diungkit semua masa lalu hitam Mas? semua ingin aku hapus kalau bisa davi catatan lembar hidupku! tapi bisa? tidak! hanya keikhlasan dan rasa cinta yang membuat kita bisa bertahan menatap masa depan dengan lebih baik."


"Sudah Sayang, kuta pulang jangan terlalu berlebihan semua akan ada penyelesaian, Aku janji akan lebih hati hati dalam semua tindakan dan keputusan."

__ADS_1


Dr Prabu menenangkan Retno dengan mengusap usap punggungnya, berharap semua tidak berlanjut hanya diskusi dan saran yang mungkin begitu berharga bagi dr Prabu sendiri, bukan untuk mengungkit semuanya.


Tetapi kalau sudah membahas soal Alya mau tidak mau masa lalu akan dibahas juga.


Retno pamit ke toilet dulu, dan dr Prabu hanya mengangguk sambil menawarkan mengantar tapi Retno menggeleng dan menolak. Retno mau tahu seperti apa cewek yang begitu lengket dengan dr Imam itu, sengaja Retno mau lewat biar bisa melihat dengan jelas.


Juga mau melihat raut dr Imam apa ad keterpaksaan atau tidak? hanya itu saja.


Retno memang orangnya agak keras tapi hatinya begitu lembut dan baik, tak ingin ikut campur urusan orang lain tapi karena menyangkut Intan adik iparnya Retno merasa ingin melihat dan menjadi tahu saja soal cewek yang kelihatan selalu memepet dr Imam itu.


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, .Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2