Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Alya yang manja


__ADS_3

Papa nggak bisa begitu Alya, untuk bicara hal pribadi Papa nggak mungkin alasan apapun itu Papa tak menemukan keperluannya, dr Prabu nggak ada sangkutan dengan pekerjaan dan jabatan Papa sekarang, dr Prabu bukan orang pemerintahan bukannya Papa tak ingin kalian jadi dekat dan bisa akrab tapi gimana ya caranya?" Pak Sofyan Wijaya memandang putrinya satu-satunya ingin rasanya mengabulkan semua permintaan yang diinginkan anaknya, tapi kenyataannya sampai sekarang Alya tumbuh menjadi gadis yang seperti kurang percaya diri dan manja di akui Pak Sofyan Wijaya. Dirinya dan istrinya memang terlalu memanjakan Alya karena hanya satu-satunya dan tunggal putri yang mereka punya, selain secara materi mereka berkecukupan tapi keinginan lain seperti ada kekurangan.


"Di bikin dong Pa apa kek acaranya juga alasannya biar bisa di hadiri para pimpinan instansi, kantor-kantor dan lain-lainnya bikin amal kek... jadi panitia sunatan massal kek apa aja Pa asal dr Prabu bisa hadir."


"Bikin acara memang tidak memakai anggaran sayang?"


"Aaaaaaah... Papa anggarkan saja data kan bisa di manipulasi, data anggaran semakin tidak karuan di semua instansi juga, pokoknya Alya mau Papa adakan acara apapun itu dan undang dr Prabu ke acara Papa."


"Alya sayang Papa itu kalau mengadakan acara ya tidak sembarangan harus di setujui anggota dewan jangan mengada ada lah dan jangan permintaan yang susah, kamu sama-sama anak muda mungkin lebih bisa punya cara yang lebih baik untuk bisa jadi teman jangan melibatkan Papa juga bisa kali? kamu itu sudah sarjana kalau nggak cari caranya di mesin pencarian itu heee..."


Pak Sofyan mengajak Alya bercanda.


"Susah amat sih ngomong sama Papa, nggak ngerti ngerti Alya cuma numpang sedikit aja pada jabatan Papa, pada kekuasaan Papa juga numpang tenar sedikit biar orang bisa memberi perhatian lebih pada Alya, jaman sekarang itu lumrah Pak, semua orang juga pada manfaatin pada siapa saja yang punya nama, apa salah Alya minta itu sama Papa?"


Alya kelihatan agak marah dan kesal selalu begitu setiap keinginannya tidak terpenuhi atau mendapat penolakan, Pak Sofyan Wijaya tak tega rasanya menolak apa yang di inginkan putri satu satunya, kalau bisa hati juga akan di kasihnya karena rasa sayangnya itu, tapi ini permintaan yang aneh Alya dan sangat lain dari permintaan-permintaan sebelumnya.


Minta Cafe, minta toko untuk di kelola Pak Sofyan Wijaya tak apa malah dirinya suka dan senang anaknya mau kreativitas yang bermanfaat, tapi ini minta di bikinkan acara yang melibatkan orang banyak hingga kepala pemerintah dan instansi-instansi ikut terlibat apa mungkin di tengah paceklik anggaran yang turun di akhir tahun begini?


Lagian aneh memang di fikiran Pak Sofyan Wijaya, Alya sepertinya sangat suka dengan dr Prabu tapi kenapa tak meminta nomor telephonnya mencari tahu sendiri, kenalan ketemuan dan ngobrol jadi teman dulu hingga akrab, dan semua akan jadi awal yang baik untuk penjajakan kemudian dan selanjutnya, ini malah melibatkan orang tua, apa Alya tidak percaya diri? hingga urusan hati juga harus melibatkan dirinya sebagai orangtua? bagus memang semua sepengetahuan orang tua tapi gimana caranya? permintaannya aneh seperti itu.


"Sudah dulu ya sayang, nanti Papa lihat dulu agenda tahunan Pemda dan ada acara besar apa dalam waktu dekat ini."


Alya cemberut saja tapi setidaknya permintaannya di respon sama Papanya.


"Kalau nggak, undang saja dr Prabu ke rumah kita Pa."


"Alya ngundang orang itu harus jelas tujuannya, apa kita syukuran atau apa suruh main saja? Papa bingung ngundang orang itu untuk apa dan gampang melakukannya dan kalau di undang Papa jelas orang itu bertanya dan pasti datang, tapi keperluannya apa? jangan aneh aneh deh ah..."

__ADS_1


Alya diam dan semakin cemberut, membuat Pak Sofyan Wijaya tak tega.


"Kamu suka dengan seseorang usaha dong sendiri, kamu itu anak Papa yang cantik dan menarik Papa rasa tak perlu energi ekstra untuk menarik perhatian seseorang, seribu cara banyak dan lakukan jangan hanya di ambil cara mudahnya saja."


"Ah Papa nggak sayang Alya, pokoknya Alya mogok makan!" Alya bangkit dan melempar bantal kursi lalu masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.


"Al, Alya...tok tok tok...jangan begitu kamu kan sudah besar, ayo buka dulu pintunya Papa kan hanya bicara memberi pengertian sama kamu sayang."


"Ada apa sih Pak ribut-ribut malam malam gini?" Bu Sofyan Wijaya yang habis sholat Isya datang di hadapan pintu kamar Alya.


"Itu Bu anakmu permintaannya aneh-aneh aja."


"Minta apa dia?"


"Papa nggak habis fikir, suruh Papa bikin acara yang di hadiri orang banyak dan mengundang instansi-instansi juga kepala perusahan hanya karena Alya ingin dekat dengan dr Prabu, ya nggak bisa lah Bu kita kan mengadakan acara itu harus ada anggarannya, sesuai agenda pemerintahan, juga persetujuan anggota dewan dan badan anggarannya."


Bu Sofyan menarik Pak Walikota duduk di sofa ruang keluarga dan mengecilkan volume televisi.


"Sepertinya anak kita sedang jatuh cinta Pak."


"Maksud Ibu Alya jatuh cinta sama dr Prabu gitu?" Pak Sofyan Wijaya pura-pura nggak ngerti, padahal dari awal Alya meminta yang aneh di rasa Pak Sofyan Wijaya itu sudah memperlihatkan arahnya Alya seperti apa.


"Iya Pak Ibu jadi prihatin melihatnya, bahkan kemarin juga sakit itu salah satu trik dan siasat Alya saja yang ingin bertemu dengan dr Prabu, Ibu jadi nggak tega mau bertanya juga yang sebenarnya pada Alya, dan Ibu melihat kegembiraan Alya saat sedang sakit, apalagi habis di tengok dr Prabu."


"Ibu yakin begitu?"


"Yakin Pak, dan bahkan di kuatkan sama temannya Desty yang Ibu tanya dengan paksa karena Ibu melihat seperti ada keganjilan dari sakitnya Alya."

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim..."


"Iya Ibu tanya Desty benar saja, kalau Alya sakitnya pura-pura saja untuk menarik perhatian dr Prabu."


"Sudah tak masuk akal saja cara-cara yang di tempuh anak sekarang, terus apalagi yang Ibu dapat informasi dari Desty?"


"Gitulah obatnya memang nggak di minum jadi penghuni tempat sampah dan tempat pembuangan di kamar mandi."


"Bukan hasil dari sakitnya itu Alya ada perubahan jadi dekat dengan dr Prabu nggak?"


"Sepertinya nggak seperti yang di harapkan Alya Pak, makanya tadi meminta Papa untuk mengadakan acara lagi supaya bisa dekat lagi dengan dr Prabu."


"Bu Papa ini nggak bisa mengikuti keinginan Alya anak kita, dalam hal kedinasan ada aturannya Ibu sendiri tahu kan? memang pemerintahan tanpa pantauan apa? semua badan negara begitu pada memelototi kinerja kita, berbagai badan seakan berlomba ingin melihat dan menemukan kesalahan kita ICW, KPK dan LSM lainnya juga masyarakat semua seakan menjadi security bagi kinerja kita, makanya coba Ibu cari solusi dan nanti kita cari jalan lain yang bisa memenuhi harapan anak kita, kalau soal perasaan Papa pastinya nggak bisa Bu apalagi harus menjadi penyambung rasa malu rasanya Bu sama dr Prabu takutnya dr Prabu sudah ada calonnya jadi omongan Papa mentok mau di taruh di mana muka Papa?"


"Tadinya maunya Ibu begitu Pak, coba Papa ngomong dari hati ke hati dengan dr Prabu sambil bercanda gitu."


"Bu Bapak sudah di sibukkan dengan pekerjaan kantor barangkali Ibu bisa ngasih saran yang lebih bijaksana sama Alya, biasanya sesama perempuan selalu asa jalan dan satu fikiran maksud Bapak itu."


"Akan Ibu coba Pak."


.


.


.


Tinggalkan jejak dan dukungannya, mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝

__ADS_1


__ADS_2