Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Adakah rasa rindu ini Mas rasakan juga ?


__ADS_3

Retno di baringkan di tempat tidur dalam keadaan lemas pusing dan menggigil, dr Prabu memperhatikan dr Panji memeriksa Retno.


"Sepertinya gejala thypes Pak Prabu, dari kecapaian, dan lambung yang akut, di infus saja suster biar ada asupan nutrisi, pagi usahakan makan yang lunak dan biar bisa masuk obat, nggak apa-apa cuma lemas saja infus masuk sebentar lagi dia bisa istirahat."


Suster kembali meng infus Retno yang pasrah dalam tak berdayanya dan Retno dalam sadarnya tak mengerti mengapa Mas Prabu jadi ada di sini? dan Retno tak mau melihat wajahnya, matanya hanya di pejamkan saja.


"Eh, ngomong-ngomong ini siapa Pak Prabu?" dr Panji menatap dr Prabu.


"Oh, eh iya ini masih keluarga saya dok."


"Ooooh" dr Panji mengangguk.


"Suster sama teman-temannya KKN Retno silahkan istirahat lagi Retno biar saya yang tungguin, kelihatannya Retno mulai tidur." dr Prabu bicara pada suster jaga dan pada Ismi juga Ella.


"Baik Pak, permisi."


Dr Prabu memandang wajah yang tak berubah dari dulu, selalu kelihatan cantik dan menarik di hatinya, sosok yang membuat hidupnya tak bisa maju ataupun mundur selalu di bayang-bayangi sosok Retno yang kini terbaring lemas tak berdaya di hadapannya, dr Prabu mencium tangan itu yang dulu selalu di genggamnya dengan penuh kehangatan, dan mencium kening Retno dan membelai rambutnya yang dulu selalu menyandarkan kepalanya di pundaknya dengan penuh kemanjaan, terasa ada yang sakit di dada dr Prabu, ada segumpal sesal yang bergelayut di dalam bathinnya.


Retno yang sadar sepenuhnya apa yang di lakukan dr Prabu, ingin rasa hatinya berontak dan berteriak memaki dan mendorong sejauh mungkin laki-laki yang telah begitu membuat hatinya berdarah, tapi apa dayanya sekarang dirinya lemah dalam keadaan sakit, istirahat adalah hal yang paling baik dan bisa di lakukannya sekarang ini.


Dr Prabu menggenggam tangan Retno dan sekali-kali menciumnya, hanya butiran air mata yang mengalir satu demi satu dari ujung bola mata Retno yang terpejam, dan dr Prabu mengusapnya perlahan dengan jari jempolnya.


Retno tak sudi melihat dirinya jangankan untuk bicara, membuka matanya saja dan meliriknya tidak pernah, jangankan untuk menjelaskan semua terasa kaku dan diam bungkam seribu bahasa, tapi dr Prabu diam menungguinya sampai Retno tertidur.


Pagi menjelang Retno masih merasakan pening dan sakit di perutnya lemas sudah berkurang tapi tenaganya seakan tidak ada, Ya Allah harus ada yang menyampaikan pada suster Harni kalau aku nggak bisa kerja hari ini untuk bisa di izinkan.


Deg! Retno melihat satu sosok yang tidur sambil duduk dan tangannya masih menggenggam satu tangannya, kepalanya ada di samping pinggangnya, Retno menarik tangannya perlahan dan itu cukup membangunkan dr Prabu.


"Retno kamu sudah bangun? gimana sudah agak baikan? apa sekarang yang di rasa?"


Dr Prabu mengusap dan memegang pipi Retno, tapi Retno memalingkan mukanya ke samping kiri.


"Kamu jangan bandel, semalam mau pingsan juga, coba rileks dan santai kan pikiranmu, istirahat dengan baik ikuti saran dokter." ingin rasanya Retno menyembur muka dr Prabu mendengar kata-katanya, dari kemarin-kemarin ke mana aja? kalau sudah tak berdaya seperti ingin jadi pahlawan dan pura-pura baik dasar egois dan munafik!.


"Aku tahu aku salah, tapi sampai kapan kamu tak mau bicara padaku?"


Untuk apa bicara? untuk mendengar semua yang sangat membuat hatinya perih? sungguh sia-sia dan dak ada gunanya.


"Oke ,aku salah telah semena-mena memperlakukanmu, satu kata yang ingin aku ucapkan dan sampaikan padamu Retno, maafkan aku!"


"Aku hanya manusia biasa yang sama seperti yang lainnya, punya rasa dendam, rasa sakit dan lainnya, rasa egois telah merasuki, semua orang tak bisa membendungnya, walau jauh di lubuk hatiku semua bertentangan dengan hati nurani ku, aku akui dan sampaikan padamu aku masih menunggumu dan masih mencintaimu sampai saat ini Retno!"

__ADS_1


Deg! lagi-lagi kata-kata macam apa yang Mas Prabu katakan ini apa nggak salah denga ? apa dia lagi ngelantur karena kurang tidur? kemunafikan apalagi yang akan di pertontonkan padaku? akan di kemana kan wanita yang menggandengnya kemarin? masihkan berani mengatakan aku menunggumu dan mencintaiku? Masya Allah.


Dr Prabu mencium kening Retno dan Retno tak sempat menghindar, hanya merasakan hangat mulut dan hidung dr Prabu di keningnya.


"Istirahat, aku akan sholat subuh dulu."


Retno membuka matanya dan melihat punggung Mas Prabu yang di rindukannya membuka pintu dan keluar, ingin rasanya Ella dan Ismi segera menemuinya dan mengambilkan ponselnya untuk memberi khabar pada suster Harni kalau dirinya tak masuk hari ini dan mungkin untuk dua atau tiga hari kedepan.


"Ya, suster Retno ada apa?"


suara dari sebrang sana suster Harni menerima panggilan.


"Oh, maaf saya bukan Retno tapi saya Prabu, saya memakai ponselnya Retno untuk meyakinkan saja, saya mau memberitahukan kalau Retno hari ini nggak bisa masuk kerja karena sakit dan sekarang di rawat untuk pemulihannya."


"Oh, alah dr Prabu rupanya? aku fikir yang nelpon tadi suster Retno, nggak apa-apa istirahat saja sampai membaik nggak usah di pikirkan sakit itu biasa."


"Iya suster."


"Eh sekarang gimana kondisinya?"


"Jauh lebih baik suster Harni, kecapaian, dan lambung akut, jadi arahnya ke typus juga merindu terlalu lama dan memendam rasa juga sepertinya heee..."


"Itu mah obatnya gampang kan sudah ada depan mata."


"Selalu ada jalan dokter, semangat ya dan jangan putus asa, selamat berjuang memenangkan hatinya kembali, aku titip Retno pada dokter juga titip salam semoga cepat sembuh heee..."


"Ya ya ya, sepertinya suster menitipkan sudah pada orang yang tepat heeee..."


"Ya sudah jadilah orang yang tepat. buat suster Retno."


"Haaa...baiklah suster Harni terimakasih salam untuk dr Burhan."


"Ya ya ya, nanti saya sampaikan."


Dr Prabu menimbang-nimbang ponsel Retno membolak balikan dan membuka semua menu yang ada di dalamnya, mulai dari kontak jelas tak ada nomor dirinya dan dr Prabu memasukkan nomornya sendiri dan di kasih nama di ketik sendiri nama biasa Retno memanggilnya "Mas Prabu" lalu ke galeri tak ada koleksi photo yang aneh-aneh hanya photo khas perempuan sama teman-temannya sama keluarganya dan pesan di aplikasinya chating biasa sama suster Harni juga sama teman-teman lainnya.


Satu file yang di gabung dengan file lainnya yaitu catatan membuat dr Prabu tergelitik untuk membukanya dan dengan satu sentuhan saja begitu banyak tulisan dengan tanggal dan waktu penulisan, kalau untuk di baca semua dari awal pasti membutuhkan waktu lama dan dr Prabu membaca secara acak saja.


Dimanakah kamu Mas, apa Mas tahu hanya mas lah yang selalu ada dalam doa-doaku.


Mas Prabu, hanya satu yang ingin tahu darimu yaitu khabar mu, biar aku tenang menata hidup dan masa depanku .

__ADS_1


Adakah rasa rindu ini Mas rasakan juga?


Aku berfikir apa yang akan aku katakan padamu Mas, seandainya kita suatu saat bertemu? mungkin aku masih mencarinya.


Apa memang hanya aku yang merindu?


Aku kangen semuanya Mas!


Tak terasa perjalanan panjang ini aku lewati seorang diri, apa aku harus akhiri penantian ini? terkadang aku ingin melepaskan cincin ini tapi kesetiaan dan cintaku yang begitu kuat menahan ku seakan esok hari kita akan bertemu


Sedih rasa hati dr Prabu membaca curahan hati Retno dan tak terasa airmatanya mengembang dan dadanya terasa sesak, kita sama seperasaan Retno, hanya aku begitu egois dan mengikuti rasa marahku, kita sama-sama tersiksa dengan kerinduan yang tak bisa kita wujudkan.


Di kamar ruang perawatan Retno.


"Masa sih Ella nggak ketemu ? coba tolong cari cari lagi."


"Sudah Mbak sudah di obrak abrik beberapa kali tetep nggak ada."


"Di mana ya? coba telephon, misscall apa ada nada panggilnya aktif nggak?"


"Sudah tadi Mbak."


"Coba lagi, sekarang sekali lagi."


Ella mencoba menelephon ke ponsel Retno nada panggilnya ada dan dan bergetar juga tapi tak di angkat.


"Coba Mbak ingat-ingat lagi semalam di simpan di mana, di saku jaket atau di tas?"


"Aku sendiri lupa Ella."


"Sudahlah makan dulu biar bisa minum obat dan berfikir dengan jelas."


"Iya Ella."


"Apa yang Mbak rasakan sekarang?" Ella sambil membuka tutup plastik mangkuk bubur."


"Masih pusing dan lemas."


"Sepertinya akan cepat sembuh kalau ada yang nungguin seperti semalam."


"Ella! apa maksudnya?"

__ADS_1


"Heeeeeee..."


Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝


__ADS_2