
"Apa!? coba ucapkan sekali lagi apa nggak salah semua yang kamu katakan itu Nak?"
"Iya, Bu"
"Astaghfirullahaladzim, Ibu belum percaya Alya sayang, mimpi buruk apa yang sedang Ibu sama Bapakmu alami sekarang ini?"
"Sabar dulu Bu, biar Alya jelaskan semuanya." Pak Sofyan Wijaya mengusap dan memeluk istrinya yang menangis setengah histeris di hadapan Alya dan Desty.
"Apa salah kita Pak sebagai orangtua? juga salah Anak kita Pak? sehingga kita dapat masalah dan cobaan yang terasa begitu berat dan hina ini?"
"Ibu tenang dulu, kalau dalam keadaan emosi seperti ini kita nggak bisa mengambil keputusan apapun. Mari kita tanya yang benar kejadiannya seperti apa, apa ada motif kejahatan atau apa."
Ibu Sofyan Wijaya tak mampu lagi berfikir dengan tenang, airmatanya mengalir tanpa henti mendengar pengakuan putri kesayangannya kalau sekarang lagi mengandung, seperti petir yang tiba-tiba menyambar kepalanya.
Tak gugur ataupun angin, dikira apa yang akan di sampaikan anaknya dihadapannya. Seperti tohokan yang begitu tajam di ulu hatinya. Terasa nyeri dalam dadanya.
Alya dan Desty terpekur di sebrang kedua orangtua Alya. Sofyan Wijaya beserta Ibu yang kehilangan wibawanya.
"Pantas selama ini ibu melihat kamu itu begitu tak bergairah. Seperti ada yang kurang dari dirimu dari kebiasaan sehari-harimu yang Ibu perhatian, dan kecurigaan Ibu semakin bertambah saat Ibu mencuci sprei yang kamu pakai di cafe waktu itu, tak biasanya kamu menyimpan sesuatu yang kotor dalam lemari, semua itu Ibu simpan sebagai pertanyaan di dalam hati saja, kenapa kamu begitu loyo, kelihatan kuyu dan kurus? tapi Ibu selalu berusaha menghibur hati Ibu sendiri kalau kamu itu kurang tidur, capek kerja bukan karena mengandung."
Semua pada diam termasuk Pak Sofyan Wijaya.
"Mau di taro di mana muka Ibu sama Bapakmu ini heh?!"
Alya meringis, mendengar dan melihat betapa murkanya seorang Ibu Sofyan Wijaya.
Menarik taplak meja sofa yang di atasnya ada asbak, vas bunga, toples makanan dan lain lain, brak! semua berantakan di lantai pecah jadi bubuk beling dan menggelinding pada menggelinding.
"Katakan, kalau saat itu kamu bukan lagi mabuk!!!"
"Katakaaaaaaaan....!!!"
"Bu, sabar Bu, jangan malah menambah beban anak kita."
"Alya tidak lagi mabuk Bu, tapi ini murni Alya di perdaya, maaf kalau saya yang menjawabnya." Desty mencoba jadi pembela Alya sahabatnya.
"Aku tidak bertanya kepadamu Desty, kamu diam! hanya sebagai saksi, kalau perlu akan ada yang aku tanyakan kepadamu. Aku akan mengintrogasi dulu anakku sendiri tentang kebenaran semua ini. Dimana letak kesalahannya siapa yang bersalah dan siapa yang akan dipinta pertanggung jawaban atas kehamilannya"
"Bu, bukan dengan cara itu meminta keterangan, ingat Alya juga punya perasaan tolong Ibu pertimbangkan itu mari kita bicara baik-baik dari hati ke hati."
__ADS_1
Pak Sofyan Wijaya tak bisa lagi menahan amarah istrinya tak bisa lagi membujuk dengan lembut, tak bisa meredakan amarah yang memuncak terhadap putri mereka.
"Ibu tidak mengerti dengan pikiran anak kita Pak, betapa tega menyakiti hati kita sebagai orangtua tak ada sedikitpun menghargainya, itu yang Ibu sayangkan dan itu yang ingin dipertanyakan kepada Alya, ada apa ini? kalau ingin berumah tangga Ibu sudah ngobrol pada teman Ibu bahkan Ibu punya banyak teman kenalan di pengajian di arisan Ibu akan kenalkan dengan seseorang silakan jalani tapi kenapa ya Allah kok berakhir seperti ini? Ibu malu Pak, muka Ibu seperti di timpuk dengan kotoran."
Ibu Sofyan Wijaya menangis kembali terasa sakit dan perih hatinya menerima kenyataan seperti ini, jauh dari dugaan dan tak terpikirkan sama sekali, semua ini menimpa keluarganya putri satu-satunya yang sangat mereka dambakan bisa mengangkat derajat keluarga malah menitikan noda aib yang begitu tercela.
"Sudah, Alya sama Desty istirahat dulu, biar Ibu tenang."
"Tidak Pak, Ibu belum selesai, masih ada pertanyaan yang masih belum Ibu tanyakan."
"Bu..."
"Kalau Bapak tidak suka, silahkan Bapak pergi!"
"Siapa yang yang telah menghamili kamu, Ibu ingin bertemu, dan melihat mukanya!"
Alya memandang Desty dan Desty mengangguk.
"Katakan siapa? orang mana? berandalan mana? atau preman mana?"
"Dokter Prabu, Bu!"
Pak Sofyan Wijaya langsung berdiri dari duduknya dan ibu Sofyan Wijaya sampai melotot tidak percaya apa yang diucapkan anaknya Alya.
"Hah?!"
Ibu Sofyan Wijaya syok bukan main mendengar apa yang disampaikan Alya dihadapannya. Serasa tak percaya, seorang dr Prabu yang sangat terhormat telah menjadi aib keluarganya. Ibu Sofyan Wijaya seolah hilang kata-kata mengungkapkan perasaannya ataupun hanya sekedar bertanya atau hanya sekedar merasa tidak percaya.
Tak kuat menahan beban pikiran perasaan sakit atas semua kejadian hari ini Ibu Sofyan Wijaya limbung dan akhirnya pingsan di hadapan suaminya, Alya dan Desty.
"Ibuuuuu...hiks...hiks...maafkan Alya Bu."
Alya merangkul Ibunya sambil menangis, berjuta penyesalan kini menyergapnya, tapi semua sudah terjadi apalah daya semua tak bisa memutar waktu untuk mengubah rasa sesal.
Bertiga Pak Sofyan Wijaya, Alya dan Desty menggotong Ibu Sofyan Wijaya ke tempat tidur, semua tampak panik dan ketakutan menyelimuti hati mereka apa lagi Ibu Sofyan Wijaya mengidap penyakit darah tinggi yang akut.
"Paaaaak...maafkan Alya Pak, Alya sungguh mohon ampun telah mengecewakan Ibu sama Bapak." Alya bersimbah airmata.
"Kamu anak Bapak, apapun yang terjadi Bapak tetap bersamamu, jangan banyak pikiran dulu, kita cari solusinya bersama-sama. Sekarang biar sadarkan dulu Ibumu biar bisa istirahat, Desty bikinkan teh manis, dan Alya ambil minyak gosok di kotak obat.
__ADS_1
Alya dan Desty berlalu dan tak lama Alya datang duluan membawa minyak angin. Pak Sofyan Wijaya mencoba mendekatkan ke penciuman Istrinya dan Alya mengusap-usap tangan Ibunya sambil menyeka airmatanya.
Setelah beberapa saat lamanya Ibu Sofyan mulai pulih ingatannya, dan menangis lagi sambil berpelukan dengan putrinya Alya yang sama-sama menangis, Pak Sofyan Wijaya hanya membuang kesedihannya lewat tarikan nafasnya yang terasa berat, melihat orang yang sangat di cintainya dan sangat berarti di hidupnya sedang bertangisan.
Terasa berat kepala Ibu Sofyan Wijaya, di tambah di bawa menangis dan beban pikiran yang begitu menghujam nya.
"Ibuuuuu... maafkan Alya Bu, Ibu jangan sakit, Alya minta ampun Bu maafkanlah Alya."
Ibu Sofyan Wijaya mengangguk, dan memeluk kembali putrinya yang terasa baru kemarin meninabobokan nya dan menimbang dengan penuh kasih sayang, Alya Putri semata wayangnya bagaimana tidak ia tidak mencurahkan kasih sayang sepenuhnya.
Mendung tengah menaungi keluarga Bapak Sofyan Wijaya, hujan tangisan masih belum berhenti, semua serba salah keluarga kecilnya akan menjadi sorotan di masyarakat. Pak Sofyan Wijaya meninggalkan Alya yang masih bertangisan dengan Ibunya melepaskan beban hati yang begitu berat.
Datang Desty membawa teh manis di gelas gagang, menyimpannya di samping tempat tidur Ibu Sofyan.
"Desty mari ikut saya."
"Oh, iya Pak."
Desty mengikuti Pak Sofyan ke arah teras, dan di persilahkan Desty untuk duduk.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
...Hai, readers tercinta! habis baca...
..."Biarkan Aku Memilih" Jangan lupa mampir ke karya...
...terbaik bertitel,...
..."Pesona Aryanti"...
...By Enis Sudrajat, baca, like,...
...vote dan beri hadiah...
__ADS_1
...juga ya🙏...